Tuesday, December 16, 2025

The Poetry : What If...

 

I believe, marriage is the best place for us to grow, to feel enough...





What if we break the common marriage rules, about having a quality time at least date outside once a week and we don't. What if we just loves to stay at home and give time for each other. Is our marriage look unhealthy and unhappy ? 😊

What if I'm a mediocre full time mom who rarely makes real food for kids ? What if I more often buys bread and sometimes just make fried rice for them ? Am I a bad mom ? 😊

What if I'm a mediocre wife who contributed nothing to earn something ? What if I’m a wife who doesn't care about decorate our home with fancy things, whose home just empty but comfy ? ❤

What if till now we haven't give any beautiful experiences to our parents but they still afford to give us a beautiful life ? Are we not mature ? ❤

What if I don't really feel need to have a group of 'mommy friends' to play dates or hangout together with them ? What if I just only have one or two friend but having two-way street deep relationship with them ? Is it bad that I want to be a different mom ? 😊

What if I just love to write and read at home for my 'me time' ? Am I a boring person ? 😊

What if I choose to fight for my beliefs openly or quietly but sometimes still make mistakes ? 😇

What if I'm choosing peace over people and prefer to decline any 'offer', to tons of solitude, to have a comfortable rest, to save my energy in order to more focus on my little family and found peace in worshipping Allah ? Am I not wise ? 😊


Let that be enough, feel enough. Alhamdulillah ❤

Tuesday, December 9, 2025

Idealis Di Tengah Dunia yang Pragmatis

 

Selama ini, saya selalu denial saat salah seorang teman dekat bilang bahwa saya adalah seorang idealis. Saya baru sedikit bisa menerima label idealis itu pada saya setelah ngobrol dengannya lebih dalam. Sebab, dalam benak saya, justru saya merasa diri ini egois 😁




"Kamu tuh selalu berpegang teguh dan berjalan pada nilai-nilai yang kamu percaya, walaupun pemikiran atau pilihanmu itu terasa kurang realistis di jaman now, berbeda sangat dengan pilihan kebanyakan orang..."

"Kamu dengerin orang lain dan paham betul pilihan mereka, tanpa mencela pilihan mereka, tanpa memaksakan pilihanmu ke mereka, tanpa bikin mereka menyukai pilihanmu, tanpa bikin mereka mengikuti pilihanmu, tapi kamu tetap berada di jalurmu sendiri sampai akhir..."

"Pilihanmu meninggalkan karir impian dan damai-damai aja jadi ibu di rumah, konsisten menulis esai di blog padahal lebih menguntungkan nge-vlog, pilihanmu bersuara di twitter meski kamu nggak tau itu akan terdengar atau nggak, banyaklah pilihan hidupmu yang kurang efisien. Kamu bisa bertanggung jawab atas identitas yang melekat didirimu, itu keren sih. Meski pilihan itu naif dan terlihat aneh..."

"Lebih pilih menghidupkan petualangan padahal depan mata ada jalur aman, hahahaaaa..."

"Kenyataannya, kita nih hidup di dunia yang melihat dan menuntut angka besar dihasil akhir, bukan prosesnya..."

"Dunia ini terlalu pragmatis untuk orang idealis kayak lo. Makanya, orang-orang idealis kayak lo tuh sering dipinggirkan bahkan disingkirkan..."

"Kamu pasti tau, konsekuensi mempertahankan kebenaran adalah menjadi seseorang yang tidak disukai..."


Ya Rabb... saya dibilang naif sama sahabat saya, guysss 😆


Ehm... saya seperti ini barangkali karena saya udah kebal saja, sih. Sudah berdamai apapun pendapat orang tentang saya. Dikritik, dibilang kaku, dianggap nggak fleksibel, tak dianggap menguntungkan, alhamdulillah. Kehidupan ini begitu kompleks, apapun jalan yang kita pilih tetap akan ada yang bersebrangan dan diam-diam tidak menyukai, it's okey. Ambil yang baik, buang saja yang buruk. Entah dianggap idealis, perfeksionis atau apapun itu, bagi saya, ujung dari semuanya adalah tetap komitmen terhadap pilihan.


Saya tak punya panggung, tetapi sistem harus tetap berjalan. Saya tetap punya pilihan untuk terus berproses, tidak curang, berjalan maju apapun peran yang ditakdirkan, siap atas segala konsekuensinya, tidak mengganggu kepentingan atau merugikan siapa-siapa. Dunia ini tempat segala ujian, bukan ? Selama saya masih punya 'ruang pribadi' untuk berdaya dan berkarya, itu sudah cukup. Sebab, pada akhirnya, setiap manusia akan berjalan sendirian. Gapapa sedikit ikut arus, tapi jangan sampai terseret begitu dalam. Berjalan sesuai hati nurani dan ritme diri saja, sebab kita punya hak untuk jujur pada diri sendiri. Diterima ataupun tidak.


Mungkin argumen teman dekat saya ada benarnya, tetapi bisa jadi kurang tepat.


Sebab, setiap manusia pasti memiliki sisi-sisi idealis, perfeksionis dan pragmatis meski bisa jadi akan berakhir realistis. 


Terdengar seperti paradoks, barangkali benar saya hanya egois. Atau ngeyel ? 😬

Saturday, December 6, 2025

Mencintai dan Mempertahankan yang Nyaris Hilang

 

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ


Jumat 15 Jumadil Akhir 1447 Hijriah, menjadi penanda selesainya pelaksanaan Asesmen Sumatif Akhir Semester satu di sekolah Diba. Ada perasaan lega bercampur haru. Rasa-rasanya baru kemarin dia belajar di Al-A'raaf dan sekarang sudah berjalan satu semester di Fatahillah.


Melihatnya setiap hari bertumbuh menjadi pribadi yang berbeda yang insya Allah semakin baik. Dia yang memulai semuanya dengan penuh keyakinan dan dalam perjalanannya berusaha menempa diri dengan keikhlasan. Sebab, keraguan bukan milik mereka yang bersungguh-sungguh atas apa yang dicintainya.




... Sungguh telah datang kepadamu cahaya dari Allah dan kitab yang nyata. Dengan kitab itulah, Allah membimbing orang-orang yang mengikuti keridhoan-Nya ke jalan-jalan keselamatan, mengeluarkan mereka dari gelap gulita kepada cahaya yang terang benderang dengan izin-Nya dan kembali pada jalan yang lurus (QS. Al-Maidah ayat 15-16)



Sejak mulai belajar di sekolah dasar, nampaknya ia cukup tertarik dengan pelajaran berhitung. Entah apa yang mengusiknya, ia selalu menuntaskan rasa penasarannya sepulang sekolah. Ia buka kembali bukunya, dia ambil pensilnya sambil dia mainkan jari-jarinya. Tak terlihat seperti beban, biasa saja. Barangkali, baginya matematika itu asyik. Sama seperti menggambar dan mewarnai yang biasa dia lakukan kala mengisi waktu luang.


Tapi, satu hal yang paling membahagiakan dan membuat haru sejadi-jadinya adalah ia tak pernah melupakan hafalannya. Bahkan, tanpa sadar, hafalan itu kerap kali keluar sendiri dari mulutnya. Rasanya penuh syukur sebab ia berada di lingkungan sekolah yang kondusif serta di kelilingi oleh pengampu, ustad ustadzah dan teman-teman dengan tujuan yang sama ; belajar ilmu Dien dan menghafal Kitabullah. 


Alhamdulillah ini adalah tahun ketiganya. Tahun pertama di sekolah dasar dan sekolah memulainya kembali dari awal. Dia seseorang yang cepat mengingat tapi suka tak percaya diri memulai. Surah Al-Fajr', misalnya. Sebetulnya dia sudah hafal dan masih hafal, tapi tetap harus diberi clue awalan untuk memulainya. Dia justru lebih mudah menghafal surah yang jumlah ayatnya sedikit meski bacaan per-ayatnya panjang seperti Al-Bayyinah. Sementara untuk murojaah, dia seperti membuat 'metode'nya sendiri. Dia suka mengulang hafalannya dari surah-surah yang dibacakan oleh ustad ketika berjamaah Magrib dan Isya di masjid (beliau kerap menggunakan surah-surah Wasath Mufhasal). Sebuah 'metode' anak kecil yang baginya menyenangkan dan memudahkan. Dan semester satu ini selesai di surah Al-Ghosyiyah ❤


Tetapi, ia tetaplah anak manis dengan dunianya, ia tetaplah perempuan kecil biasa. Ia tak bisa murojaah sendirian, tak bisa mutqin sendirian, tak bisa istiqomah sendirian. Ada kalanya fokusnya terganggu, keadaan hatinya porak poranda, semangatnya meredup, moodnya terjun payung sampai mara-mara sendiri. Terkadang ia juga kepayahan sebab mengulang ayat berkali-kali tapi tak kunjung lekat dalam ingatan. Mempertahankan yang nyaris hilang. Patah hatinya nembuuuus sekali. Maka, sudah seharusnya menjadi tugas orang-orang terdekatnya untuk terus mendampinginya, menguatkannya, mengevaluasi, ikut menghafal bersamanya dan mendukungnya habis-habisan. Agar ia selalu kembali kepada ayat-ayat Allah dan tetap merasakan nikmat hafalan itu dalam hatinya. 


(Baca Juga Kisahnya : Memulai Perjalanan Menghafal)


Tetapi, ini bukan hanya tentang menghafal. Melainkan juga upayanya untuk jatuh cinta berkali-kali dan mencintai dengan kesungguhan hati. Mengimani, memuliakan serta menjaga ayat-ayat suci Al-Qur'an


Dia tak terlahir dari keluarga penghafal Al-Qur'an. Meski saat ini ia memiliki pencapaian sebab karunia Allah, namun jangan bayangkan pula ia seseorang dengan hafalan yang banyak. Ia masih jauh dari kata itu dan banyak yang jauh lebih baik darinya. Tapi, alhamdulillah, semakin ke sini semakin baik. 


Jika ada satu anggota keluarga yang kelak akan menjadi syafaat bagi kedua orang tua dan keluarganya, mudah-mudahan orang itu adalah dia. Dia yang akan menjadi kebanggaan di hadapan Allah Ta'ala yang kelak kembali pulang kepada Rabb-nya dengan bangga pula. 


Semoga Allah jaga selalu hafalannya, Allah jaga akhlaknya, Allah jaga ibadahnya, Allah ridhoi upayanya untuk menjadi bagian dari orang-orang yang menghafal dan menjaga Al-Qur'an. Laa Hawlaa Walla Quwwatta Illaa Billah ~

Tuesday, November 18, 2025

Gelap Terang Dunia Akademisi | POV Biasa dari Istri Seorang Pengajar

 

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ


Hallo, istri dari bapak dosen di sini 😊


Seperti ini kegiatan suami yang bisa terpantau oleh kacamata saya...



❤  Bangun dan mandi. Lalu bikin kopi setelah pulang dari masjid. Sambil minum kopi, buka whatsapp untuk ngecek ada pesan dari mahasiswa dan rekan kerja atau tidak. Balas-balas pesan kalau ada yang perlu dibalas

❤   Ngecek jadwal kuliah

❤   Berangkat ke kampus & ngajar tentunyaaa

❤  Sebagai PA, dia memberi pendampingan ke mahasiswa untuk menyusun rencana studi & memilih mata kuliah, membuka konsul berkala dengan mahasiswa, memberi pengarahan kalau mahasiswa mengalami kendala dalam proses perkuliahan

❤  Sebagai pembimbing dan penguji ya tugasnya mengoreksi proposal atau tugas akhir, mendampingi mahasiswa seminar atau sidang, nguji seminar atau sidang 

❤   Penelitian sepertinya lebih sering mengerjakan berkelompok dengan tim riset yaaa

❤  Pengabdian pada masyarakat. Berupaya ikut memberi kontribusi bagi masyarakat dengan menerapkan ilmu untuk solusi masalah di lingkungan mereka 

❤   Ikut pelatihan, seminar dan sertifikasi 

❤   Bertemu dengan akademisi yang berkunjung ke kampus

❤  Belajar tipis-tipis. Ya donk, pengajar bukan dewa. Dia tetap perlu update materi, apalagi untuk ngajar kelas RPL 😁

❤   Update bahan ajar dan atau kirim bahan kuliah ke mahasiswa

❤   Tugas-tugas lain yang terkait dengan amanah jabatan di kampus


Saya tau dia sibuk dan lelah. Anak-anak juga tau ayahnya bekerja untuk mereka. Tapi, menurut saya, orang paling sibuk justru ialah orang-orang yang diberi kemampuan lebih untuk mengatur waktu luangnya


❤   Scroll medsos untuk lihat video-video komedi 😁 atau video pengembangan diri 😎

❤   Quality time di rumah ortu atau di rumah mertua

❤   Berkegiatan yang berkaitan dengan hobi sambil full recharge energy di rumah saja kala weekend 

❤   Tetap ngeronda, rapat RT, kerja bakti, pengajian atau kegiatan lain bapak-bapak di perumahan 

❤   Di momen tertentu, hangout bareng rekan seprofesi seperjuangan, bersama anak istri

❤   Muter-muter naik vespa sama anaknya sambil jajan tipis-tipis (ini selalu, tidak pernah tidak)

❤   Olahraga tipis-tipis 

❤ Deep talk with his queen : ngobrolin tentang perkembangan anak-anak, ngobrolin kegiatan di kampus, ngobrolin kerandoman tingkah mahasiswa, ngobrolin kebijakan pemerintah terkait pendidikan, ngobrolin iklim akademik yang sehat, ngobrolin perkembangan teknologi sampai review kajian

❤  Tak lupa mengambil jeda untuk diri sendiri


Kami selalu punya waktu untuk ‘sendiri’ meski sedang sama-sama berada di rumah. Terkadang, silent moment adalah salah satu cara kami untuk saling menghargai ketenangan diri masing-masing


Tak ada yang berlebihan. Tak juga banyak menunjukkan bagaimana kesibukannya. Tak membawa pulang lelahnya. Walau barangkali banyak sekali hal-hal berat dalam kepala yang ia pilih untuk menyimpannya sendiri. Menantang, gelap terang penuh warna warni. Sebab, ia juga manusia biasa terlepas apapun persepsi publik tentangnya.


Semoga ia selalu kuat menjadikan Allah Ta'ala satu-satunya cahaya yang mengatur hidupnya, memantapkan tujuannya, memberi pemahaman kepadanya juga menenangkan qolbunya.


Laa hawlaa walla quwwatta illa billah ~



Thursday, November 13, 2025

Almaz Fried Chicken & Menu Arabic-nya yang Akrab dengan Selera Lidah Indonesia

 

Banyak sekali kebetulan dan keberuntungan hari ini ❤


Lagi pengin banget makan siang dengan menu Arabic food yang sederhana aja. Penginnya menu Arabic yang juga cocok untuk bocil, karena biasanya menu Arabic kan cenderung pedas, ya. Lalu entah kenapa tadi kami melewati Almaz Fried Chicken. Langsung mampir donk 🥰


Mereka punya menu ayam goreng crispy yang semua bocil biasanya suka, ada juga nasi kebuli dan beef burger. Jadilah kami pesan satu porsi nasi kebuli + ayam goreng crispy dada untuk aku, satu porsi ayam goreng crispy paha + nasi putih untuk Dipo, satu porsi beef burger take home untuk Diba. Nggak lupa pesan air mineral dingin dan minuman spesial mereka susu kurma.






Ayam goreng Almaz sebetulnya serupa dengan ayam goreng umumnya, crispy golden brown. Baru akan terlihat perbedaannya ketika disuwir. Bumbu rempahnya merah orange menggoda 😍 Tapi sebetulnya enggak pedas dan cocok banget untuk bocil karena dagingnya juga empuk.


Kalau biasanya nasi kebuli dihidangkan dengan potongan daging kambing, tapi di Almaz pakai ayam goreng crispy dan ada potongan kismisnya. Rasanya tetap okeee dan tetap akrab dengan selera lidah kita. Bociiil approved 😉


Thank you, Almaz ~

Thursday, November 6, 2025

The Fireworks and The Beautiful Rises Moon

 



If Faradiba's love was the slow beautiful rises moon, Farabiy's love was the cool fireworks

She's a calming light, at the same time, he light up around anything

Their love were here, to surround me and fill me

So does my heart

It's the love that the same to celebrate both of them

Especially the fireworks who lived everyday from November 5th

Dear Farabiy, thank you for being a cool firework for these four years

Be bright always

Thursday, October 30, 2025

Holland Bakery dan Sepotong Kenangan Manis

 

Bicara tentang kebahagiaan, seseorang pasti punya kenangan manis tentang bagaimana sebuah tempat bisa menjadi support system dan happy place dalam hidupnya. Sebuah tempat pelepas penat, pengurai lelah, tempat yang bisa memperbaiki mood dan menghadirkan perasaan yang menyenangkan. Aku pun demikian.


Sejak remaja hingga kini sudah menjadi ibu, aku punya happy place yang masih sama, sebuah toko roti. Bagiku, bahagianya membawa pulang roti atau cake kesukaan serupa dengan bahagianya ketika masuk ke toko buku dan akhirnya bisa memiliki buku yang sudah lama ingin ku baca. Keduanya membawaku kembali dan pulang dengan perasaan yang sama. 


(Related Post : Kue dan Sebuah Perayaan)


Ada cheese dan chocolate john kesukaan, roti kelapa, cromboloni (seasonal), lemper ayam


Semua bermula dari roti dan cake yang sering ayah bawa sepulang kerja. Dijaman itu, sekitar tahun 2000an awal, sepertinya belum banyak toko roti di kotaku. Jadi, aku selalu ingat rasa rotinya dan bentuknya yang bermacam-macam. Karena memang selalu beli roti di toko yang sama. Sayang, tak banyak yang aku ingat tentang nama atau jenisnya. Maklum, saat itu belum ada smartphone alias masih henpon jadul. Tetapi yang paling membekas dalam ingatan adalah momen akhir pekan ketika ayah selalu mengajak kami ke toko roti tersebut dan membebaskan kami untuk memilih sendiri apa-apa yang kami mau. Rasanya senang sekali. Dan Holland Bakery selalu berhasil menjawab kerinduan dan membawaku kembali ke masa-masa itu.


(Related Post : Hadiah Paling Manis)


Ketika momen lamaran adikku, misalnya. Dia memberiku mandat untuk memesan beberapa kotak Bika Ambon dan Lapis Legit di Holland Bakery sebagai salah satu hantarannya. Juga ketika momen sidang thesis suami 9 tahun lalu, sebelum ada Diba dan Dipo, kami berdua memesan suguhan untuk para dosen penguji di sini. Sekarang, tiap kali ada momen penting seperti wisuda tahfidz Diba beberapa waktu lalu atau ketika anak-anak berulang tahun, kami suka jajan roti atau cake di Holland Bakery. Demi sepotong kenangan manis.






Mudah menemukan Holland Bakery terutama di kota-kota besar. Parasnya yang putih minimalis dan khas kincir angin selalu nempel dalam ingatan para penggemarnya. Range produk mereka cukup luas. Mulai dari roti, kue tradisional, pastry, donat, pudding, cake, kue lapis, kue kering dan cookies. Ada yang selalu ready setiap hari dan ada juga yang seasonal. Beberapa di antaranya malah jadi favorit keluargaku dan biasa aku beli berulang seperti roti long john, roti kelapa, pudding kelapa, roti cokelat susu, roti sisir dan lemper. Anak-anak senang memesan pudding dan roti cokelat favorit mereka. Kalau suami suka semuanya 😆 Rasanya rich dan makan satu roti saja terkadang sudah bikin kenyang. 


Ada yang baru 'Singapore Kaya Toast'


Lemper, Bika Ambon versi Slice, Muffin dan Roti John. Selalu repurchase


Pudding Kelapa & Pudding Pelangi favorit anak-anak


Kue Lebaran Terfavorit


Roti Almond ini juga enak banget !



Roti sisir jadul yang super lembut


Ini bukan hanya sekedar toko roti, bukan hanya soal rasa, melainkan juga happy place pembangkit kenangan manis semasa remaja. Yang selalu ingin aku 'ulang' saat ini bersama suami, anak-anak dan bestie tersayang (you know who you are) ~

Sunday, October 26, 2025

Sebuah Instrumen Pendekatan

 

Pada banyak waktu, perempuan itu merasa, 'dekat' adalah sebentuk anugrah yang memudahkan banyak hal dalam hidup. Bagi dunianya, bisa memilih institusi pendidikan anak-anak yang bergaya hidup dekat dengan Al-Qur'an dan Sunnah, terlebih dekat dengan rumah adalah sebentuk nikmat yang selalu ada dalam syukurnya. Ditambah lagi memiliki tempat tinggal yang dekat dengan masjid. Di sisi hidup yang lain, menjalin kedekatan dengan kawan-kawan yang suportif, menjaga kedekatan dengan orang-orang yang tak diragukan lagi ketulusannya, memiliki anak-anak yang mengingat Kalamullah, serta hati yang selalu dekat dengan suami dan orang tua adalah sebuah jalan menuju tenang. Sebentuk nikmat yang akan sungguh-sungguh ia upayakan sepanjang usia.


Itu baru dekat dengan manusia. Kebayang, kan,  bagaimana tenangnya jika hati selalu dekat dengan Pemilik Semesta (?)



Begitu Banyak Kenangan Baik Di sini (Place : Masjid Al-Aqsho)


Memulai Perjalanan Baru Di sini (Place : Masjid Al-Amin)


Padahal, Allah selalu dekat. Tak pernah menjauh. Bahkan Dia ada dalam setiap helaan nafas. Dia beri instrumen pendekatannya agar tak hanya dekat tetapi juga menjadi nikmat. Tak hanya satu, namun banyak jalannya. Satu tantangannya, nikmat kedekatan itu hanya Dia beri bagi manusia yang bersungguh-sungguh menempuh jalan-jalan yang diridhoi-Nya.


Perempuan itu sadar betul ia tak memiliki banyak tabungan kebaikan. Ia hanya miliki jiwa yang tak ingin menyerah di tengah dunia yang penuh lelah. Hati yang memilih untuk terus bersama-Nya. Dan sungguh tak mudah. Namun, ia upayakan selalu akhir malam itu. Waktu-waktu dimana diri jauh dari bising dunia. Berdiri dan mengangkat takbir sedikit lebih lama. Terselip rasa-rasa tidak pantas, tetapi ia terus melafalkannya. Membaca... membaca… sambil mengingat arti dari apa-apa yang sedang ia lafalkan. Merasakan mata yang mulai berkaca-kaca dan mulut yang gemetar.


... Dan berdirilah untuk Allah (dalam sholatmu) dengan khusyuk (QS. Al-Baqarah 238)


Sebab teringat semuanya. Tentang banyak sekali hal yang sudah ia lalui, bersama nikmat yang sudah Dia beri. Duduk, diam, sendiri dan hanya ingin berlama-lama larut dalam doa. Meminta dipahamkan atas apa-apa yang tidak ia ketahui. Hingga tersadar bahwa yang Allah takdirkan untuknya semua adalah kebaikan. Lalu pecah tangisnya.


Allah tak pernah pergi dan membiarkannya sendiri. Allah izinkan ia melangkah sampai sejauh ini, bersama orang-orang yang ia sayangi dan menyayanginya, dengan begitu banyak kebaikan yang tak pernah terbayangkan sebelumnya.


Laa hawlaa wallaa kuwwatta illa billah ~

Tuesday, October 21, 2025

Dapur Solo, Resto Masakan Jawa Kegemaran Keluarga

 

Ketika berkunjung ke satu daerah dengan perjalanan darat yang memakan waktu cukup lama, bagian yang paling menyenangkan bagiku sesampainya di lokasi adalah nemu tempat makan dengan konsep prasmanan. Pas perut lagi lapar-laparnya dan kita bebas pilih beragam masakan yang tersaji di depan mata. Sama seperti teman-teman dari Surabaya ketika berkunjung ke Solo. Biasanya mereka minta rekomendasi tempat makan prasmanan yang menunya otentik ala warteg, tempatnya asri dan parkirannya luas. Tentu saja yang pertama akan saya tunjuk adalah resto masakan Jawa kegemaran keluarga kami, Dapur Solo Edupark.


Sewaktu hamil Diba dulu, aku nyaris tiap hari sarapan di sini. Kebetulan tinggal nyebrang saja dari rumah. Sekarang, tiap kali ayah mama ada jadwal kunjungan ke PPMI Assalaam atau ketika si Bayu lagi cuti dan main ke rumah, pilihan tempat makan siang mereka juga masih sama. Dapur Solo Edupark yang menyajikan beragam masakan Jawa & cocok dengan selera kami sekeluarga.


Resto ini juga cocok untuk rombongan. Pintu masuknya lebar dan parkir bus memadai. Buka sedari pagi, tapi menunya lebih lengkap menjelang siang. Prime time makan siang selalu ramai. tapi line antrian perlu di improve menurutku supaya kita-kita di luar rombongan tidak mengantri terlalu lama dan sirkulasi pengunjung tetap rapi. Kalau pengin kemari bareng 4 sampai 5 orang keluarga kecil dihari Sabtu atau Minggu, aku sarankan untuk melipir sedikit makannya ke gazebo belakang. Selain view airnya apik, ambience-nya bikin betah, tempatnya juga lebih private dan nyaman. 


Sop Iga, Tengkleng, Udang Bakar dan Nasi Campur Sambel Goreng Kentang Mie


Sop Iga, Sambel Goreng Kentang, Capcay Goreng & Sambal Terasinya Enaaak !


Lesehan di Gazebo Belakang Dapur Solo


Full senyum sudah kenyang 


Lihat deh pemandangan gazebo di belakang 😇




September 2025 : foto di bagian belakang Dapur Solo sebelum pulang



Lokasinya berada satu lahan dengan Edutorium UMS dekat dengan akses jalan besar dan pintu masuk utama. Ada ruang VIP untuk tempat meeting atau private wedding. Musholla-nya nyaman dan kamar mandinya bersih. Penataan meja prasmanannya apik. Menu nusantara yang 'ramah' rombongan dan ada opsi menu untuk anak. Lauk pauknya ditempatkan pada daun pisang yang ditaruh di atas kendi. Selain nasi putih juga ada pilihan nasi merah, jadi yang lagi atur-atur BB jangan takut makan enak di sini yaa 😁 Menu andalan mereka yang terkenal sebetulnya Sop Iga atau Asem-asem Iga. Tapi, menu prasmanannya juga enak-enak banget dan cocok di aku !


Ada opor ayam yang dagingnya empuk, kuahnya kental, gurih dan potongannya gede banget. Bisa dikombinasi dengan beberapa pilihan menu pendamping seperti sambel goreng kentang, oseng tempe, oseng mie, oseng terong. Lalu ada bermacam gorengan kesukaan warga kayak sosis solo, bakwan jagung, bakwan sayur, perkedel, tempe mendoan, tahu bacem, tahu bakso dan teman-temannya. Juga pletikan enak kayak emping belinjo manis atau asin.


Ayah biasanya ambil menu yang ringan-ringan kayak sayur asem, urap atau pecel dengan lauk ayam goreng atau telur dadar. Selain telur dadar, juga ada telur ceplok, telur bacem dan telur balado. Nggak boleh lupa sambel terasinya. Kalau mama sudah pasti ngambil sop iga atau empal daging. Sementara pak suami lebih suka nasi campur yang sudah pasti bikin kenyang dan puas 😁 Bagi yang pengin menu tunggal segar-segar ada tengkleng. Jangan khawatir untuk membawa serta bocil yaaa, ada opsi sayur sop atau bakso yang cocok untuk menu makan mereka.


Untuk minumannya yang pasti ada teh dan jeruk. Ada display cooler yang di dalamnya ada minuman-minuman dingin. Eskrim dan yogurt juga ada. Bermacam jus segar selalu tampil terdepan.  


Opor Ayam dan Udang Goreng. Enak loh 😉  



Kabari yaaa kalau kalian makan di sini 🥰

Saturday, October 18, 2025

Modesty Inside and Out


In the mid of 2003, I had a choice in the first place. I decided to wear hijab in the first year of high school. And being a part of minority was so challenging at that time. Until I had a moment of doubt. But, the interesting and coincidence part was my daily school uniform 'support' my personal decision to wear hijab, Masya Allah. I feel like the universe bless my decision.


At that moment, I just feel good and enough when dress in casual. I played it mostly safe with long-sleeve blouse and dark jeans because I just learned to fit in.




Year after year, I realized, dress nicely is more than just feel good and look good. It's about finding personal sense of comfort and dress respectably. 


It started when I'm studying currently in university nineteen years ago. Since the first-year students, I would love to get involved in Muslim Student Association in college and join an Islamic club, for some reason. Strengthen my faith, finding calm in the storm of busyness, and connecting with my new circle. A new friend. A gorgeous woman with a beautiful soul. She's a Hafidzah. Proactive in Islamic organization and Student Executive Board (BEM). Her student number were below to me, so we often be a teamwork in a practicum project on the first level. LPDP awardee, graduate with Ph.D in Scotland & now she's a lecturer in our university. Her horizontal and vertical relationship so impressive. She's inspire me in so many ways, Masya Allah. A woman who dress modesty with long hijab and enjoying simple dress everyday with longer garments from the first day I met her. She represent modesty inside and out. Hafidzahullah. Hay Zen, I miss you.


A Letter that She Wrote to Me


Over time, I began exploring a lot about my comfort. How dress should work for me, how I want to present myself and finally finding my comfort of style. Alhamdulillah. As the time goes by, I realized, my effort to beautify myself shouldn't be limited only about the dress I wear.


More than that, it's about beautify inside of me...


The way I'm thinking, the way I'm speaking, the way I give a reaction, the way I grow my relationship with Allah, how to be a good Muslim, how to increase the knowledge, how to maintain health, how to spread positive energy, how to contribute at society, how to stay down to earth. Self respect & spiritual awareness. Modesty inside and out.


It's a part of Faith ~


Dear Me, twenty two years and forever, I will always try to Fix you ~

Thursday, October 16, 2025

Nasi Liwet Sunda for Blessing (Again)

 

For me, food is more than just a meal. More than just a life survival. More than just filling a stomach. But, in my memory, they were about blessed and nostalgia. A great things to socialize with the loved and the respected ones. I think everyone would agree with this. So, by the reason, I have a special board about special food I've ever eaten on my Pinterest ❤

(Related Post : Happy Food)


Please Welcome "Nasi Liwet Sunda" a Full Vibes Home Meal


Not forgetting the sweet one


Personally, I love to celebrate live, love and happiest moments in life with food. Express relationship, family gathering, offer thanks, appreciation, small gift, personal achievement and sooo many. Especially my birthday and our wedding anniversary. Not a big celebration, yes. Because  for me it's just about thoughtful way for blessings ❤

(Related Post : My Previous Liwetan)


Like two weeks ago, my husband with three of his closest workmate got a special achievement. Of course, they deserve a celebration for the hard work. Instead of congratulation party, they're prefer to celebrate it with calm and blessing. So we ordered a full vibes home meal for them. A central element that connection. A little reward for achieving something they are wait, reflecting their level of closeness and recognize their workmate who give them full support. Alhamdulillah, everyone celebrate it happily. And those Nasi Liwet Sunda contribute to those feelings ❤


And nothing says blessings more than a good food and a sweet thank-you note, right (?) 


❤ A Sweet Thank-You Note ❤



Congratulations on Your Achievement, Love ~

Monday, October 13, 2025

Peran dan Keseimbangan

 

Menjalankan peran sebagai istri, ibu dan individu ada kalanya terasa berat dilakukan bersamaan. Kerapkali menjadi ibu yang keliru menetapkan prioritas. Terkadang menjadi individu yang kesulitan membagi waktu untuk diri sendiri. Pernah juga merasa menjadi pasangan yang tidak berdaya. Tapi, berjalannya waktu membuat saya benar-benar menyadari satu hal bahwa memiliki support system yang tangguh secara mental dan spiritual akan membuat semua baik-baik saja pada akhirnya.



Ehm... saya bukanlah kelompok orang tua yang gemar bicara atau memberi wejangan. Kalau ngomel, iyalah sering 😂 Sebab memang hampir seluruh waktu dan kegiatan anak-anak adalah bersama saya. Kami melakukan banyak hal bersama. Bukan karena ayahnya enggan berbagi peran. Tetapi, ada waktu-waktu dimana beberapa kegiatan anak-anak hanya bisa berjalan smooth dan sesuai target jika dipegang sendiri oleh saya ibunya.


Setiap Senin hingga Jumat, contohnya. Karena arah dan jam keberangkatan dengan ayahnya berbeda, saya sendiri yang mengantar si kakak ke sekolah. Sementara si adik bermain bersama ayahnya di rumah. Di sekolah, saya tidak langsung pulang. Menunggu sebentar sambil mengulang hafalan bersama, itu pun kalau mood-nya si kakak sedang asyik 😏 Terkadang dia hanya ingin ditemani bermain sebelum teman-temannya datang. Lalu ketika saya sampai kembali di rumah, si adik sudah dalam kondisi wangi alias sudah mandi 😁 dan sedang disuapi oleh ayahnya.


Meski pun bekerja dan hampir dua per tiga hari tidak bersama anak-anak, dia tetaplah seorang ayah dan pemimpin keluarga. Ada waktu-waktu tertentu yang ia jadikan rutinitas untuk bersama mereka. Spesial dihari Sabtu, contohnya. Dia yang akan mengantar dan menjemput si kakak dari sekolah.  Atau sepulang kerja, misalnya. Padahal seisi rumah juga tahu dia lelah. Tapi, jika waktu Magrib belum tiba, dia suka mengajak anak-anak motoran berkeliling sebentar. Apalagi Magrib dan Isya, dia selalu mengupayakan bisa quality time dan berjamaah di masjid bareng anak laki-lakinya. Terlihat biasa memang. Tapi, anak-anak tahu bahwa ayahnya tidak meluangkan melainkan selalu menyediakan raga, hati dan jiwa untuk mereka. Spiritual keluarga juga perlu dipenuhi, bukan ? 


Jika sore hari anak-anak memilih bermain di luar rumah bersama teman-temannya, kami mengambil waktu untuk diri sendiri : saya menulis dan dia mengutak-atik kendaraannya. Dia juga suka memberi makan dan ngobrol dengan kucing yang sering nongkrong di depan rumah 😸 Sebuah kegiatan kecil versi kami untuk mendengarkan batin lebih banyak dan mencerna apa yang dibutuhkannya.


Ketika waktu belajar si kakak tiba, kami semua duduk bersama. Walaupun saya punya peran lebih banyak mengajari si kakak perihal akademik, tapi di sisi lain, ayahnya juga menjadi contoh bahwa ia sebagai pemimpin keluarga dapat diandalkan diwaktu tertentu untuk menyelesaikan tugas domestik yang biasa dikerjakan ibunya.


Dan makan malam di rumah adalah waktu yang selalu kami tunggu. Kami terbiasa saling memberi ruang bagi satu sama lain untuk berbicara, mendengarkan dan menyamakan pandangan. Saling menjadi pengingat dan penyemangat jika salah satunya mulai lelah dan hilang arah. Lelah separuh menjauh dan energi baik perlahan terisi penuh.


Kami bukan orang tua yang manis dan tak terbiasa menghujani anak dengan kalimat-kalimat romantis. Hanya dua orang manusia yang berusaha saling berperan dan mengisi peran untuk menemukan dan menyesuaikan keseimbangan ~

Tuesday, September 23, 2025

Shining Bright in Our Own Timeline

 

Di dunia yang begitu luas ini, ayah dan ibu bertemu atas izin-Nya. Ibu yang tertarik mengamati dan memahami perilaku manusia lain, kala itu melihat bahwa ayahmu laki-laki yang hadirnya paling jelas namun tetap tenang dalam jarak.


Kami memilih berjalan bersama, bukan karena kami paham tentang dunia dengan segala isinya, melainkan karena kami yakin bahwa dunia memang tempat bagi manusia seperti kami untuk belajar. Meraba, menerka, mencoba, salah dan mengulang kembali. Terseok, tertatih, terbentur, terjatuh, berdiri lagi. Bersama banyak sekali pelajaran yang mendewasakan dan doa-doa yang tak akan pernah selesai. 







Nak, dunia yang asing bagimu ini, dahulu Dia ciptakan sebagai tempat yang baik. Terbuka, mengalir, berproses, yaaa... dunia bekerja dengan cara demikian. Sehingga kami perlu mengenalkannya kepadamu. Bukan karena kami lebih tahu, tetapi karena kami sudah lebih dulu diberi pilihan : ikuti yang Dia perintahkan dan jauhi yang Dia larang. Semua agar jalanmu lebih terang dan lapang. Jika saat dewasa nanti kamu melihat dunia ini kian sesak, ramai dan sibuk oleh manusia-manusia yang terus berlari menghidupi ambisi, menepilah sebentar. Kuat ya, sebab memang dunia yang baru kamu kenal ini adalah tempat ujian, bukan tujuan. 


Betul bahwa tenang dan lapang itu selalu ada. Sebab Dia yang memberinya. Namun, seberapapun kamu menginginkan tenang dan lapang itu selalu ada, ia tidak akan hadir selamanya. Ada kalanya, kamu akan merasa berjuang sendiri sebab di luar sana begitu banyak hal melelahkan hati. Barangkali, akan ada yang tidak menyukaimu dan itu tak mengapa. Kembalilah pada Allah, nak. Mintalah selalu pertolongan-Nya agar dimampukan melewati setiap cerita dengan sebaik-baiknya. Mintalah tenang dan lapang itu kembali. Tunggulah, Dia akan perbaiki keadaannya. Kelak kamu akan tahu bahwa semua kisah akan baik pada akhirnya. 


Tumbuhlah dengan baik, nak. Lebih baik dari kami, lebih tinggi dari kami. Jaga selalu nikmat iman dan sehat yang telah Dia beri. Tumbuhlah bahagia mendewasa bersama kami dan mereka yang juga menyayangimu. Tetaplah menjadi baik, pada dirimu sendiri dan pada manusia lain. Teruslah belajar menjadi sebaik-baik manusia dan hamba. Tetaplah bersinar terang namun meneduhkan sepanjang garis waktumu.


We love you, Faradiba & Farabiy ~

Saturday, April 5, 2025

Lebaran dengan Makna dan Rasa yang Berbeda

 

Merayakan lebaran sebagai orang dewasa yang juga sudah menjadi orang tua tentu memberi rasa dan makna bahagia yang berbeda. Orang-orangnya, hidangan lebarannya, mungkin masih sama. Tetap ada bakso, kupat sayur, tart dan kue-kue kering sejuta umat itu. Namun, yang menjadikannya berbeda adalah 


Orang tua kita yang kian menua






Uti dan Kakungnya Diba Dipo (tapi ini bukan warung soto di dekat rumah pak Jokowi, ya)

Kebetulan lebaran hari pertama tahun ini di Solo aja. Gilirannya rumah mertua, uti dan kakungnya Diba Dipo. Selepas sholat eid, kita langsung nge-gasss ke sana. Membawa sekotak ayam ingkung dan tongseng untuk sarapan bareng. Rupanya, ibu mertua juga udah nyiapin sate ayam. Eh, ujung-ujungnya tetap aja kita cari maem keluar 🤣 Biar berasa lebarannya gitu kalik, ya. Muterin jalanan dan berujung nyarap soto di dekat rumah pak Jokowi.


Lebaran hari kedua lanjut ke rumah ayah dan mama, mbahkung dan neneknya Diba Dipo. Membawa serta seabrek mainan bocil dan sepeda. Karena perjalanannya rada jauh, kita sempat mampir-mampir sebentar. Ya, apalagi kalau bukan jajan snack 😁 Sesampainya di rumah ayah, langsung disambut oleh aroma kuah bakso, uhuuuy ! Ujung-ujungnya kita keluar juga jajan gule dan sate kambing. Teteup 😁



Mbahkung dan Neneknya Diba Dipo


Namun, entah kenapa, kepulangan di lebaran kali ini, baik ke rumah ayah atau mertua, ada terselip perasaan yang berbeda. Campur-campur, tapi tetap penuh syukur.


Cake dari My Shaliha sister, mbak Amar


Ada perasaan tenang melihat orang tua dan mertua dalam keadaan sehat seutuhnya. Namun, semakin menyadarkanku pada sebuah realita. Seperti ada lubang yang tak lagi bisa menutup sempurna. Mereka, orang tua dan mertua, kian menua. Barangkali, tak lagi kuat sekuat dulu menggendong cucu-cucunya yang semakin bertumbuh besar. Barangkali, hanya bisa menonton cucu-cucunya berlarian kesana kemari. Namun, kasih sayang dan perhatiannya, selalu tumbuh dan tak kemana-mana. Barangkali, kebersamaan ini hanya tinggal sebentar. Tak ada yang tahu. 


Boleh kah aku meminta agar mereka tetap sehat dan berbahagia dengan cucu-cucunya untuk tahun-tahun ke depan ?


Berbincang dengan mereka saat lebaran begini, rasanya sudah memberi kami bahagia yang lebih. Sudah bukan obrolan pengin menghabiskan libur lebaran jalan-jalan kemana. Sudah bukan janjian pakai dresscode apa atau pengin kulineran kemana. Tak melulu ngobrolin hal-hal yang serius juga. Melainkan obrolan-obrolan mendalam penuh makna yang hanya bisa kami anak-anaknya pahami ketika bersedia memberi hati untuk lebih banyak memahami.


"Sholat tepat waktu"

"Tambahin amalan-amalan sunnahnya"

"Banyakin syukurnya"


Tak persis demikian, sih, tapi kira-kira seperti itu. Tak pernah bilang secara langsung ke kami tapi mereka adalah orang tua yang menunjukkan segala sesuatu dengan tindakan dan perilaku.


Semakin haru ketika tahu mereka mengisi masa-masa tua dengan kegiatan-kegiatan yang mereka sukai. Ayah yang selalu mengusahakan lima waktunya di masjid dan masih suka menonton pertandingan volley antar kampung. Bapak mertua yang masih kuat berangkat ke masjid diusianya yang kini delapan puluh tiga tahun. Ibu mertua yang masih terhubung dengan anak-anak muridnya. Dan mama yang suka ikut jadi sobat rewang di kampungnya. 


Barangkali, setelah lebaran lewat, hari-hari mereka kembali lengang dan terasa sepi. Di sisi kehidupan yang lain, kita anak-anaknya, semakin sibuk berjuang dengan dunia sendiri. Pesan singkat atau sambungan telepon dari anak cucu tak selalu bisa membuat ramai hati. Boleh kah ketenangan hidup tetap selalu membersamai mereka, ya Rabb ? 🤲🏻


Doanya masih sama. Semoga Allahu Rabbi menyempurnakan kebahagiaan di hari raya ini dengan meningkatkan level ketaatan, keimanan dan ketakwaan kita. Membuka jalan bakti dengan cara-cara yang DIA ridhoi.



Wednesday, March 5, 2025

Ramadan The Gift and The Catalyst For Change

 

Hadiah itu bernama Ramadan

Waktu dimana doa-doa dapat mewujud dengan indah atas izin-Nya

Semua hamba menanti, namun ia akan berlalu dengan cepatnya




Ramadan, sebuah pemantik dimana alasan tindakan tak lagi terasa berat untuk dijalankan

Tak ada alasan untuk bermalas-malasan

Berkegiatan seperti biasa sembari berpuasa, tak lupa mendekat dan lebih dekat dengan Al-Qur'an, mengikuti kajian, menjaga lisan dan menjauhkan diri dari segala bentuk kekhilafan

Sebuah hadiah yang nilainya hanya dirimu dan Sang Maha yang tahu



Ramadan, bulan mulia diturunkannya Al-Qur'an

Untuk dibaca, diambil pelajaran darinya, direnungkan maknanya lalu diamalkan

Sebab, membacanya memberimu nilai personal dan mengamalkannya akan bernilai integral

Maslahatnya tak hanya dirasakan olehmu, melainkan juga orang-orang di sekelilingmu



Hay diri...  tak seharusnya hati merasa berat, sebab semua kawan muslim di segenap penjuru dunia berjuang untuk hal yang sama pula

Hanya terkadang, dunia dengan segala kesibukannya selalu jadi pembenaran atas sebuah keengganan

Kalau sudah begitu, bagaimana bisa menjadi manusia bertakwa dan mendamba Surga ?

Dasar aku... :(



Semoga, puasa ramadan dapat menjadi momentum perbaikan diri dan pengendalian diri terbaik

Sebab tak tahu akan berapa kali lagi diri ini akan diberi kesempatan untuk bertemu kembali dengannya

Mempertahankan yang baik-baik untuk hari-hari setelahnya

Tak lagi sekedar menjaga mata dan telinga

Tak lagi remedial di level menahan lapar dan dahaga

Melainkan sudah naik ke level meningkatkan pemahaman Qur'an dan menambah amalan

Agar layak mendapatkan gelar terbaik yaitu manusia yang bertakwa


Tuesday, February 25, 2025

The Epitome of Quiet Confidence

 

Dress simply and didn't look flashy, he walk into the room

Stoic and compose, without saying much word

Mask his lethargy with simple gesture

Sit comfortably in silent at the sidelines

Don't get him wrong... He pleasantly with silence

Enjoying himself despite being invisible to the world





He's largely avoided the limelight

He share ideas but he doesn't want to be the loudest

But it's not always about staying quiet 

It's not about indecisive

But it's about find out what's right than about being right


He talk slowly and carefully 

Softly but firmly in his quite confidence

He never waste time sizing up people

He sure that saying no or don't know doesn't makes him look small

And prefer to give others the freedom to be thoughtful

Or he will still silent until the time to fight


He's so awesome but not really trying to be

But he's not hurting anyone by being awesome :)

He can prove a hard truth in a soft way

He just go where his heart take him


Some people might feel safe to be around him

Because they again see him as a trustworthy

Listening and responding

Deeply and thoughtfully

Radiate and gravitate

As the greatest strength 

Tuesday, February 11, 2025

Perbekalan Terbaik

 

Aku pikir selama ini aku sibuk. Ternyata, aku hanya sok sibuk. Sadar, banyak hal sudah aku lewatkan.


Melihat teman-teman yang sama-sama tarbiyah sejak awal, sewaktu di Surabaya, apalagi jaman kuliah dulu, duh ! mereka sudah melesat jauh dariku. Akhlaknya, ilmunya, hafalan Qur'annya, penampilannya. Jangan tanya bagaimana aku lah, yaaa. Murobbi-ku dulu, Mbak Fitri bundanya Mas Azzam, bagaimana kabarnya, ya ? Beberapa tahun terlewat begitu saja sebab memberatkan pekerjaan rumah yang selalu berkejaran dengan kedipan mata. Diri yang sering terbuai oleh kesenangan hidup. Tenggelam dalam riuh dunia hingga lalai dan abai. Sampai lupa kalau aku punya mimpi ingin membangun rumah di Surga.




Segala puji hanya untuk Allah. Dua tahun lalu, aku memberanikan diri untuk mulai melangkah lagi. Aku coba ketuk perlahan. Biidznillah, Allah bukakan lagi pintunya. Tempat dimana aku bisa belajar lagi. Aku berpikir, jika Diba yang masih duduk di taman kanak-kanak saja berani untuk mulai menghafal, mengapa aku sebagai ibunya tak turut mengusahakannya ? Lalu pelan-pelan kuperbaiki pula niat ini. Mengingat dan mengevaluasi kembali semua kealpaan dimasa lalu bersama takdir-takdir terbaik yang pernah Allah beri. Sebagai langkah tholabul ilmi untuk bekal melaksanakan amalan.


Beberapa kali, undangan kajian masuk dalam pesan whatsapp. Inginnya bisa menghadiri semuanya. Sayang, seringkali kalah dengan lelah. Baru bisa pergi kajian ke tempat-tempat yang dekat dengan rumah. Kajian di sekolah Diba, salah satunya. Saat mama-mama yang lain dengan mudah datang seorang diri, aku justu datang bersama si bungsu, sebab aku tak bisa meninggalkannya sendirian di rumah. Banyak kekhawatiran kalau-kalau dia tak nyaman duduk berlama-lama. Tapi, Masya Allah. Beberapa kali datang kajian, terkadang ia duduk dipangkuanku dengan tenang tanpa menangis atau dia justru tertidur.


(Related Post : Memorizing Qur'an )


Hari ini, aku datang kembali ke tempat yang sama. Dan takwa menjadi bahan perbincangannya. Melihat mama-mama yang lain datang dengan semangat, tekadku juga semakin kuat. 


Sharing Session


Seminar Parenting 


Sederhananya, takwa adalah sebuah keyakinan penuh tanpa tapi. Sebuah sikap penjagaan diri seorang hamba dengan melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Tentu mudah ku ucapkan, tapi belum tentu mudah ku amalkan. Butuh komitmen yang harus terus menerus diupayakan dan dijaga, khususnya dalam peribadatan kepada Allah, seperti tujuan awal penciptaan kita. Bahkan, Allah sendiri yang memberi jaminan kepada pribadi-pribadi yang bertakwa bahwa ia akan mendapatkan solusi dari setiap masalahnya dan juga mendapat rizki dari arah yang tak terduga. Ia akan diberi ketenangan meskipun sedang menghadapi urusan dunia yang tak ada habisnya. Allah akan muliakan dirinya atas kesabarannya. Allah akan karuniakan pahala kesabaran atas ketakwaannya.


Sementara bagiku, takwa itu sangat personal. Aku tak punya privilege untuk menilai takwa manusia lain, tetapi aku tetap bisa mengupayakannya. Untuk diriku, kedua orang tuaku dan keluarga kecilku. Ikhtiar yang akan aku upayakan sepanjang usia. 


Sebab, aku merasa beruntung menjalani dewasa dimasa kini. Betapa luasnya ilmu Allah. Dapat kita temukan dimana saja. Semuanya relatable dengan kehidupan yang manusia jalani. Sebagai seorang ibu, semakin ku sadari pula bahwa mendidik anak tanpa landasan agama dan akidah yang baik, kita akan sulit menjadi orang tua yang kuat. Tinggal bagaimana kita belajar 'membaca peta' agar tak sesat dalam rimba informasi. Terus menerus perbaiki niat dan intens membaca sumber-sumber pengetahuan utama yaitu Al-Qur'an & Siroh yang isinya adalah lautan ilmu. Menghadiri kajian agar hari-hari penuh demi menghidupkan kembali spiritual awakening  dalam diri. 


Mari kita upayakan Living in The Zen Life itu. Kesibukan tak boleh membuat kita lupa tugas kita sebagai hamba. Tak perlu menunggu diri sempurna untuk mulai mempersiapkan perbekalan terbaik. Semoga Allah senantiasa membuat diri kita istiqomah di atas jalan-jalan yang Dia sukai. Memudahkan kita bertakwa sampai akhir usia. Hingga mimpi indah itu bermanifestasi menjadi Surga yang nyata ~


“Dan berbekallah, sungguh sebaik-baik bekal adalah takwa” (QS. Al-Baqarah 197)