Showing posts with label Poems & Poetry. Show all posts
Showing posts with label Poems & Poetry. Show all posts

Monday, January 26, 2026

Tidak Membenci Hujan

 

Langit tampak gelap dan terlihat lebih mendung dari biasanya, padahal sudah pukul enam tiga puluh pagi. Ada semacam perasaan yang membuatku jadi sedikit lebih gloomy. Aku tidak suka pagi dengan matahari yang bersembunyi. Aku tidak nyaman dengan rintik kecil yang membesar dan liar. Tidak, aku tidak membenci hujan. Aku hanya tidak menyukai timing-nya.




Mereka bilang, hujan itu menenangkan. Mereka bilang, hujan bisa membawa mereka menari-nari bersama memori. Mereka bilang, mereka jadi tak perlu sedih sembunyi-sembunyi. Mereka bilang, hujan itu melegakan. Sementara aku, mengapa aku tak selalu bisa menikmati hadirnya hujan ? Mengapa tiap kali hujan hadir aku justru merasa khawatir ? Apalagi akhir-akhir ini hujan tumpah dengan tak ramah.


Ia bukan lagi air jernih yang jatuh tenang dari langit. Ia seolah tak lagi turun sebagai berkat. Aku tidak nyaman dengan hujan yang tak kunjung reda. Aku memang tidak menangis, tapi sulit rasanya menjelaskan bahwa aku sedih melihat banjir dan longsor dimana-mana. Sementara di tempatku, air hujan mengubah jalanan menjadi genangan. Berkali-kali ku biarkan deras hujan menusuk wajah dan kulitku sambil melaju agar segera sampai ke rumah. Dalam perjalanan, nyaris terjatuh & terpeleset karena lubang yang tertutup air. Mantol tidak sepenuhnya bisa memayungi. Mereka menyuruhku "mobilan saja". Mereka menyuruhku berhenti membenci hujan. Tidak, aku bilang aku tidak membenci hujan.


Tapi, bolehkah aku jujur atas satu-satunya hal yang aku sukai saat hujan ? Hujan membuka pintu-pintu langit untuk mempercepat sampainya doaku. Aku merasa Dia lebih dekat kala hujan. Sehingga hati mudah tenggelam dalam tafakur.


Tidak, aku tidak membenci hujan. Sebab, aku menyukai hujan yang baik, hujan sedang tanpa angin kencang, agar aku bisa melihat padi yang berbunga dan membentuk bulir ~

Sunday, January 11, 2026

Alarm Itu Bernama Intuisi

 

Entah bagaimana mulanya, perempuan itu merasa punya kecenderungan untuk cepat membaca tanda dan pola. Seolah sedang membaca jalan cerita di depan mata, sebuah cerita yang samar, tetapi ia tahu kemana arah cerita itu akan bermuara. Sesuatu yang sebenernya tak ingin dia ketahui, tapi tetap saja alarm itu berbunyi.





Awalnya, ia mengira perasaan itu hanyalah sebuah asumsi acak sebab kepekaan hatinya. Barangkali ia hanya sedang merasa-rasa. Ya, perempuan selalu menggunakan perasaannya, bukan ? Baper, katanya. Kenyataannya, alarm itu berbunyi tidak dengan tiba-tiba dan bersuara dengan cara tak terduga. Awalnya terdengar bunyi pelan, ada pola yang berulang. Ada rangkaian kejadian yang saling bertaut. Ia amati, ia telusuri, lalu ia rangkai pola demi pola itu dengan apa yang ia ketahui. Yang semula samar lama-kelamaan menjadi terang. 


Sinyal yang kerapkali ia kirimkan pula untuk orang-orang terdekatnya. Padahal, dirinya sendiri justru seringkali mengabaikannya sampai-sampai alarm peringatan itu tak selalu berhasil menyelamatkannya.


Ya... Dunia terlalu bising baginya. Ia tahu motif tersembunyi dari topeng-topeng manusia bumi. Ia bisa melihat dualisme makna dari sikap manusia. Ia memahami setiap perkataan atau pertanyaan dari nama-nama baru yang hadir dalam hidupnya. Ia dengan cepat membaca pola, bahasa tubuh, mimik wajah, reaksi emosional mereka. Ia dengan cepat mengetahui apakah energi mereka akan selaras atau tidak meski belum ada interaksi yang berkelanjutan. Ia bisa melihat akan bagaimana relasi baru itu akan berujung. Apakah itu overthink ? Ia rasa bukan.


Sampai akhirnya kompas itu memberinya petunjuk dan membawanya pada sebuah jalan hingga kebenaran itu satu per satu terhampar di depan mata ~



اِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَۙ

(Tunjukkanlah kami ke jalan yang lurus...)

Tuesday, December 16, 2025

The Poetry : What If...

 

I believe, marriage is the best place for us to grow, to feel enough...





What if we break the common marriage rules, about having a quality time at least date outside once a week and we don't. What if we just loves to stay at home and give time for each other. Is our marriage look unhealthy and unhappy ? 😊

What if I'm a mediocre full time mom who rarely makes real food for kids ? What if I more often buys bread and sometimes just make fried rice for them ? Am I a bad mom ? 😊

What if I'm a mediocre wife who contributed nothing to earn something ? What if I’m a wife who doesn't care about decorate our home with fancy things, whose home just empty but comfy ? ❤

What if till now we haven't give any beautiful experiences to our parents but they still afford to give us a beautiful life ? Are we not mature ? ❤

What if I don't really feel need to have a group of 'mommy friends' to play dates or hangout together with them ? What if I just only have one or two friend but having two-way street deep relationship with them ? Is it bad that I want to be a different mom ? 😊

What if I just love to write and read at home for my 'me time' ? Am I a boring person ? 😊

What if I choose to fight for my beliefs openly or quietly but sometimes still make mistakes ? 😇

What if I'm choosing peace over people and prefer to decline any 'offer', to tons of solitude, to have a comfortable rest, to save my energy in order to more focus on my little family and found peace in worshipping Allah ? Am I not wise ? 😊


Let that be enough, feel enough. Alhamdulillah ❤

Thursday, November 6, 2025

The Fireworks and The Beautiful Rises Moon

 



If Faradiba's love was the slow beautiful rises moon, Farabiy's love was the cool fireworks

She's a calming light, at the same time, he light up around anything

Their love were here, to surround me and fill me

So does my heart

It's the love that the same to celebrate both of them

Especially the fireworks who lived everyday from November 5th

Dear Farabiy, thank you for being a cool firework for these four years

Be bright always

Wednesday, March 5, 2025

Ramadan The Gift and The Catalyst For Change

 

Hadiah itu bernama Ramadan

Waktu dimana doa-doa dapat mewujud dengan indah atas izin-Nya

Semua hamba menanti, namun ia akan berlalu dengan cepatnya




Ramadan, sebuah pemantik dimana alasan tindakan tak lagi terasa berat untuk dijalankan

Tak ada alasan untuk bermalas-malasan

Berkegiatan seperti biasa sembari berpuasa, tak lupa mendekat dan lebih dekat dengan Al-Qur'an, mengikuti kajian, menjaga lisan dan menjauhkan diri dari segala bentuk kekhilafan

Sebuah hadiah yang nilainya hanya dirimu dan Sang Maha yang tahu



Ramadan, bulan mulia diturunkannya Al-Qur'an

Untuk dibaca, diambil pelajaran darinya, direnungkan maknanya lalu diamalkan

Sebab, membacanya memberimu nilai personal dan mengamalkannya akan bernilai integral

Maslahatnya tak hanya dirasakan olehmu, melainkan juga orang-orang di sekelilingmu



Hay diri...  tak seharusnya hati merasa berat, sebab semua kawan muslim di segenap penjuru dunia berjuang untuk hal yang sama pula

Hanya terkadang, dunia dengan segala kesibukannya selalu jadi pembenaran atas sebuah keengganan

Kalau sudah begitu, bagaimana bisa menjadi manusia bertakwa dan mendamba Surga ?

Dasar aku... :(



Semoga, puasa ramadan dapat menjadi momentum perbaikan diri dan pengendalian diri terbaik

Sebab tak tahu akan berapa kali lagi diri ini akan diberi kesempatan untuk bertemu kembali dengannya

Mempertahankan yang baik-baik untuk hari-hari setelahnya

Tak lagi sekedar menjaga mata dan telinga

Tak lagi remedial di level menahan lapar dan dahaga

Melainkan sudah naik ke level meningkatkan pemahaman Qur'an dan menambah amalan

Agar layak mendapatkan gelar terbaik yaitu manusia yang bertakwa


Tuesday, February 25, 2025

The Epitome of Quiet Confidence

 

Dress simply and didn't look flashy, he walk into the room

Stoic and compose, without saying a whole lot

Mask his lethargy with simple gesture

Sit comfortably in silent at the sidelines

Don't get him wrong... He pleasantly with silence

Enjoying himself despite being invisible to the world





He's largely avoided the limelight

He share ideas but he doesn't want to be the loudest

But it's not always about staying quiet 

It's not about indecisive

But it's about find out what's right than about being right


He talk slowly and carefully 

Softly but firmly in his quite confidence

He never waste time sizing up people

He sure that saying no or don't know doesn't makes him look small

And prefer to give others the freedom to be thoughtful

Or he will still silent until the time to fight


He's so awesome but not really trying to be

But he's not hurting anyone by being awesome :)

He can prove a hard truth in a soft way

He just go where his heart take him


Some people might feel safe to be around him

Because they again see him as a trustworthy

Listening and responding

Deeply and thoughtfully

Radiate and gravitate

As the greatest strength 

Thursday, May 16, 2024

Teman Terbaik Bagi Diri Sendiri


Bintang di tangan, oleh-oleh kecil dari Ustadzah sepulang sekolah 



 

Faradiba... anak ayah dan ibu yang teduh hatinya


Diba harus tau. Betul bahwa setiap manusia punya hak untuk hidup dalam kebebasan, nak. Sebab, sebagai manusia, dalam beberapa hal, kita pasti menginginkan kebebasan. Bebas bicara, bebas mengutarakan isi kepala, bebas menampilkan kepingan-kepingan terbaik hidup.


Padahal, yang sering terlupa, kebebasan kita seringkali bersinggungan dengan kebebasan manusia lain.


Maka, belajarlah berani untuk jujur pada diri sendiri, ya. Apa yang membuat Diba nyaman dan tidak. Belajarlah untuk tidak mengusik batasan-batasan yang dibuat manusia lain. Belajarlah untuk mengendalikan diri. Belajar juga untuk terus selaras dengan batasan-batasan yang Diba buat sendiri.


Tak perlu merasa bersalah saat disatu waktu Diba memilih untuk berjalan sendiri. Sebab sendiri tak berarti sepi. Tak mengapa memberi jarak dengan orang-orang tertentu jika itu membuat Diba merasa tenang. Tersimpul boleh tapi jangan sampai terikat mati. Banyak-banyaklah mencipta ruang dan batas. Ruang dan batas yang tidak terlampau keras, tapi juga tidak lemah. Agar Diba lebih banyak mendengar sunyinya kebenaran di hati.  


Jagalah kebebasan Diba dengan batasan-batasan yang selalu menuntun Diba kembali. Agar Diba tetap berani melangkah bersama banyak kebaikan. Agar Diba tetap nyaman melihat dan mendengar riuh hidup manusia lain, tapi Diba tetap punya kendali penuh atas apa yang ingin Diba bagi atau simpan sendiri.


Jadilah teman terbaik bagi diri Diba sendiri, ya. Agar Diba tak perlu bergantung pada hati manusia lain yang sama lemahnya seperti hati kita. 


Ayah dan Ibu mungkin tak selalu bisa menemani Diba. Tapi, selalu ada Allah yang akan terus menemani Diba. Yang akan selalu memenuhi ruang di hati Diba. Selamanya ~


Love, ibuk 🌹

Thursday, April 15, 2021

The Signs

 



{Reminder Story}


Kau tau bagaimana rasanya tidak dicintai manusia ?

Seolah kau adalah seseorang yang tidak begitu penting kehadirannya apalagi untuk didengarkan ceritanya 

Semua yang kau lakukan tak memberi arti apa-apa

Tenang & berbahagialah :)

Kau diberi pertanda bahwa kau sedang dijaga

Lihatlah selalu ke dalam Qur’an

Kau akan banyak menemukan ceritamu di sana

Oleh sebab itu, jangan jauh-jauh darinya, ya...



Sunday, March 14, 2021

An Introduction : Another Most Beautiful Poetry





Another human being is literally growing inside me :’)

Another most beautiful poetry that Allah SWT ever write :’)

Even if we haven’t met him / her, we know he / she is already being a part of us...

Nothing else matter, you are ‘here’ and we’ll love you forever



Take care, you ~ 

Tuesday, June 30, 2020

Yang Tak Terbatas Pemaklumannya



Barangkali, sebagianmu masih satu suara, berpikir bahwa sebuah pencapaian adalah apa-apa yang nampak oleh mata, tentang mimpi-mimpi yang jadi nyata. Dari tiada menjadi ada, dari tak dikenal menjadi ternama, dari bawah hingga jadi juara. Sibuk berkembang diri dan meninggi. Hingga sebagian energi habis karena merisaukan perkara-perkara yang tak punya terminal henti.





Sementara gagal, banyak sekali interpretasinya. Masih melajang saat usia dua puluh lima, telah 'melahirkan' banyak hal tapi tak bisa ikut berkontribusi menambah jumlah angka manusia, memilih tak bekerja layaknya mereka di luar sana, tak ikut dalam circle orang-orang yang dianggap penting di dunia nyata.


Manusia seolah dipaksa berkompetisi, menggapai dan memamerkan sesuatu, sampai-sampai jadi candu apresiasi.


Sebetulnya, tak salah memberi kaki pada mimpi, tak salah menjejaki mimpi sesuai inginnya hati. Yang salah adalah ketika manusia kehilangan keyakinan dan kebaikan saat tak hidup dalam keberlebihan.


Kalo sudah begini, jangan-jangan lupa lega hati itu apa.

Tuesday, March 27, 2018

Catatan Spiritual Menuju Pernikahan


Terus terang, niat untuk menikah sudah ada di benak saya sejak awal menempuh studi S2. Tapi, karena beberapa kendala, Thesis yang harusnya bisa segera diselesaikan, justru tidak ada kemajuan apa-apa selama hampir 1 tahun.

Kala itu, saya merasa butuh memikul tanggung jawab lebih besar agar saya mampu menyelesaikannya dengan lebih berani. Barangkali ini terdengar aneh, saya berpikir bahwa menghadapi semua tantangan itu akan jauh lebih mudah kalau saya punya pasangan. Dan satu-satunya jalan untuk mewujudkannya adalah dengan menikah.





Pertanyaan pertama kedua orang tua saya ketika saya membicarakan rencana pernikahan pada mereka, bagaimana kamu akan menghidupi istrimu sementara kamu masih sekolah ? bagaimana dengan orang tuanya ? 


Satu hal yang saya yakini. Perhitungan matematis Allah tidak sama dengan perhitungan matematis manusia dan saya membuktikannya sendiri. Saya berterus terang pada Ayah dari (calon) istri saya bahwa saya masih dalam proses menyelesaikan studi S2 dan penghasilan yang saya punya belum menentu. Beruntung, saya memiliki (calon) mertua yang sangat bijaksana.


Beliau memberi kepercayaan pada saya dengan amanah, bahwa saya harus mampu menjadi suami yang bertanggung jawab untuk memimpin dan menafkahi keluarga, dengan cara apapun yang Allah mudah kan untuk saya. Bahwa tidak ada sesuatu pun di dunia ini yang lebih menyejukkan pandangan hatinya selain ketika melihat anak-anak, menantu, dan orang-orang yang ia sayangi taat pada Allah. Bahwa siapapun yang taat pada-Nya, DIA akan jadikan baginya kemudahan dalam segala urusannya. (Calon) istri saya menerima saya atas dasar keyakinan penuh pada Allahu Robbi.


Kami menikah dengan sangat sederhana. Berusaha tidak membebani siapa-siapa. Tanpa dekorasi mewah dan bukan dalam gedung megah. Dengan sebaik-baik mahar dari kerelaan saya memberi dan keikhlasannya menerima. Dihadiri keluarga dan teman dekat, tanpa banyak tamu undangan. Tanpa musik dan hanya diiringi dengan lantunan doa tulus dari orang-orang yang mengantarkan keberkahan pada kami. Mungkin terbesit tanya dan anggapan miring dari banyak orang tentang pernikahan sederhana kami. Tidak apa-apa, asal niat baik ini sesuai dengan perintah-Nya saja bagi saya sudah cukup. Berjabat tangan dengan Ayah nya dalam satu tarikan nafas, lalu detik itu juga berpindah lah tanggung jawab Ayah nya pada saya.


Diawal pernikahan kami, rasanya bagai naik pesawat yang mengalami turbulensi. Gonjang ganjing. Menyesuaikan karakter, pola pikir, gaya hidup, dan latar belakang keluarga yang berbeda ternyata bukan perkara mudah. Membagi waktu untuk menyelesaikan kuliah dan menjalani kehidupan baru kami rasanya cukup berat. Amat menguras energi. Entah berapa kali kaki ini seperti tak dapat menyangga tubuh agar mampu berjalan seimbang. Sering merasa, saya membuat kehidupannya tak lebih baik setelah menikah. Kehidupan sosialnya berubah. Tak ada kemewahan yang saya beri untuknya selain makanan halal dan atap untuk berteduh. Tapi doa dan keyakinan membuat kami kuat. Saya lulus dan tak lama kemudian bekerja sesuai dengan bidang keilmuan saya.


Saya sangat bersyukur, dianugerahi seorang perempuan tangguh dan pemberani. Perempuan yang sangat mencintai apa-apa yang Allah anugerahi ada dalam dirinya. Bersedia mendampingi dan kuat berjuang membangun sebuah keluarga yang utuh. Saya bersyukur atas gemblengan hidup yang kami terima. Menguatkan keyakinan saya bahwa ujian ini ada tujuannya. Kalau kami tidak pernah menjalani kehidupan penuh ujian, saya justru khawatir, bagaimana mungkin DIA akan meninggikan derajat kami ?


Kini sudah hampir 3 tahun kami bersama. DIA memberi penghidupan yang layak buat kami dengan banyak cara yang tidak kami pahami. Cukup dan tidak berlebih-lebihan, untuk kami dan orang di sekitar kami. Ketika kami butuh sedikit, DIA cukupi yang sedikit itu. Ketika kebutuhan kami semakin besar, DIA pula yang memberi jalan keluar untuk mencukupinya. DIA Maha Penyayang. Diberinya kami ujian agar kami mendekat, memohon pertolongan, dan merasakan kasih sayang Nya. Memberi kami kemampuan untuk mencintai-Nya lebih dalam. 


Lalu kalau saya ditanya, akan kah menyarankan kalian yang belum lulus kuliah atau bahkan sudah bekerja agar mengikuti cara saya untuk segera menikah ? Jawaban saya, tergantung kondisi dan kesiapan kalian masing-masing. Menikah sebelum lulus kuliah tanpa perencanaan, bisa saja membawa kemudhoratan. Tapi menunda pernikahan sebab alasan menunggu mapan, padahal kemampuan sudah diberikan, juga bukan hal yang baik. Ingatlah bahwa dunia selalu menyuguhkan tantangan tanpa henti. Menikah itu akan sepaket dengan resikonya. Jangan pernah takut. Banyak-banyak meminta dan nikmati saja prosesnya. Semoga Allah menguatkan keyakinan kalian dan memberi kalian kemudahan...




A.H. Purwono

Solo, Maret 2018