Entah bagaimana mulanya, perempuan itu merasa punya kecenderungan untuk cepat membaca tanda dan pola. Bahkan sebelum kebenaran itu terungkap. Seolah sedang membaca jalan cerita di depan mata, sebuah cerita yang samar, tetapi ia tahu kemana arah cerita itu akan bermuara. Sesuatu yang sebenernya tak ingin dia ketahui, tapi tetap saja alarm itu berbunyi.
Awalnya, ia mengira perasaan itu hanyalah sebuah asumsi acak sebab kepekaan hatinya. Barangkali ia hanya sedang merasa-rasa. Ya, perempuan selalu menggunakan perasaannya, bukan ? Baper, katanya. Kenyataannya, alarm itu berbunyi tidak dengan tiba-tiba dan bersuara dengan cara tak terduga. Awalnya terdengar bunyi pelan, ada pola yang berulang. Ada rangkaian kejadian yang saling bertaut. Ia amati, ia telusuri, lalu ia rangkai pola demi pola itu dengan apa yang ia ketahui. Yang semula samar lama-kelamaan menjadi terang.
Sinyal itu kerapkali ia kirimkan untuk orang-orang terdekatnya. Padahal, dirinya sendiri justru seringkali mengabaikannya sampai-sampai alarm peringatan itu tak selalu berhasil menyelamatkannya
Dunia terlalu bising baginya. Ia tahu motif tersembunyi dari topeng-topeng manusia bumi. Ia bisa melihat dualisme makna dari kebaikan manusia. Ia memahami setiap perkataan atau pertanyaan dari nama-nama baru yang hadir dalam hidupnya. Ia dengan cepat membaca pola, bahasa tubuh, mimik wajah, reaksi emosional mereka. Ia dengan cepat merasa energi mereka akan selaras atau tidak meski belum ada interaksi yang berkelanjutan. Ia bisa melihat akan bagaimana relasi baru itu akan berujung. Apakah itu overthink ? Ia rasa bukan.
Sampai akhirnya kompas itu memberinya petunjuk dan membawanya pada sebuah jalan hingga kebenaran itu satu per satu terhampar di depan mata ~
اِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَۙ
(Tunjukkanlah kami ke jalan yang lurus...)
.jpg)