Thursday, June 28, 2018

Akhirnya, Kabar Bahagia itu Datang


Sebelum mulai cerita gimana aku menjalani trimester pertama kehamilan, aku ingin berbagi cerita tentang pengalaman ikhtiar bareng mas suami setelah hampir tiga tahun menanti sampai akhirnya Sang Maha bersedia mempercayakan si bayi tumbuh dalam rahim ini.


Sebetulnya, kami ini dua orang manusia yang kepedean banget. Yakin banget bahwa takdir selalu erat kaitannya dengan kehendak Sang Maha dan Ia nggak akan mungkin mengecewakan kita. Jadi, apapun yang nggak dikehendaki oleh-Nya, gimana pun kerasnya usaha kita, yaaa nggak akan pernah terlaksana.





Di awal tahun pernikahan, semua berjalan biasa aja, santai tanpa rasa khawatir sedikit pun. Mas suami juga masih konsentrasi menyelesaikan Thesis dan tanggungan jurnal-jurnal internasionalnya. Masuk ke tahun kedua pernikahan, setelah mas suami lulus dan mulai mengajar, suara-suara 'merdu' pun mulai bermunculan. Orang-orang di sekitar mulai memantik pembicaraan soal usaha yang harusnya sudah kami lakukan.



Kami berdua sadar, terlepas kapan dan gimana, manusia tetap berkewajiban untuk ikhtiar. Sebagai calon ayah dan ibu, kami wajib memperhatikan setiap makanan yang masuk ke tubuh. Nggak boleh sembarangan.


Aku rutin mengkonsumsi susu pra kehamilan dan mas suami selalu mengkonsumsi air hangat dicampur madu yang sebetulnya sudah rutin ia jalani bahkan sebelum kami menikah. Kami juga rutin mengkonsumsi buah kurma dan buah pisang, buah-buahan Surga, yang barangkali sebenarnya nggak ada hubungannya dengan kehamilan ya, hehe. Dan yang paling penting, apapun makanan dan minuman yang masuk ke dalam tubuh saya nggak lupa diniatkan untuk kebaikan si bayi.


Selain mengkonsumsi makanan yang baik, ada ikhtiar khusus yang sejujurnya lebih senang kami bagi disini. Sehingga ketika ada teman-teman yang bertanya, ikhtiar seperti apa yang kami jalani saat pra kehamilan, maka dengan penuh keyakinan kami akan jawab dengan : Istighfar sebanyak-banyaknya. Karena kita nggak pernah tau kesalahan-kesalahan seperti apa yang sudah kita lakukan di masa lalu ternyata menjadi penutup jalan rizki bagi kita berupa nikmat seorang anak.


Lakuin apapun yang Ia suka. Perbanyak Istighfar. Baca dan dengarkan Al-qur'an agar hati lebih tenang. Kencengin doa karena nggak ada satu pun permohonan seorang hamba yang luput dari pendengaran-Nya :)



Positif Hamil

Hingga suatu hari di minggu ketiga April 2018, akhirnya dua garis yang kami tunggu-tunggu itu muncul juga, alhamdulillah. Karena masih belum percaya, nggak boleh gede rasa dooong. Nggak mau buru-buru periksa ke dokter kandungan. Cemas kalo ternyata hasilnya salah, kami memutuskan untuk menunggu satu minggu lagi, untuk test kembali. Dan hasilnya pun tetap sama, dua garis tebal :))



Pengalaman Pertama USG

Nah, untuk keperluan USG, aku dapat rekomendasi dokter perempuan (yang sesuai kriteriaku) dari adik ipar yang bekerja dibidang medis. Akhirnya aku dan mas suami sepakat untuk cek kandungan oleh dr. Murtiningsih, SpOG, di Klinik Utama Sri Murti Husada Solo, yang kebetulan lokasinya dekat dengan rumah.


Untuk jadwal USG, kami sesuaikan dengan jadwal praktik Dokter Murti dan jadwal libur mas suami. Berhubung baru pertama kali cek kandungan, kami datang tanpa membuat appointment sebelumnya. Datang kira-kira pukul 08.30 pagi dan ternyata antreannya sudah membludak ! Aku daftar dan diarahkan oleh midwife untuk nimbang berat badan dan ngukur tekanan darah, kemudian aku diberi semacam handbook yang berisi catatan medis kehamilan. Setelah satu jam nunggu, akhirnya namaku pun dipanggil untuk masuk ke ruangan.


Sebelum di USG, perutku diberi semacam jelly oleh Bu Dokter, kemudian alat USG digerak-gerakkan di atas perut. Dengan layar monitor yang berada tepat di depanku dan penjelasan singkat dari Bu Dokter, terlihat jelas bagaimana kondisi, usia, dan detak jantung si janin. GA (Gestational Age) atau perkiraan usia kehamilannya sudah masuk 10 minggu dan CRL (Crown Lump Length) atau ukuran panjang janinnya sudah 3,97 centimeter.


Semua hasil test dan USG dilampirkan pada handbook kehamilan yang diberi oleh midwife tadi. Lalu aku diberi surat pengantar untuk test darah hepatitis B oleh Bu Dokter. Bu Dokter juga nggak lupa memberi oleh-oleh resep multivitamin kehamilan dan asam folat untuk dikonsumsi tiap hari dan dijadwalkan untuk periksa kembali satu bulan kemudian.



Menjalani Kehamilan Pertama dengan Bahagia

Hal yang aku dan mas suami lakukan setelah tau soal kabar kehamilan adalah justru berusaha meredam rasa bahagia. Bahagia yang amat sangat meluap, karena ini kehamilan pertama. Masih begitu banyak pertanyaan dan perasaan campur aduk. Yang jelas kami berdua langsung berdoa. Alhamdulillah, segala puji hanya bagi Allah Sang Pencipta Kehidupan.


Bersyukur, Allah karuniakan pula kemudahan dalam kehamilan ini. Nggak mengalami drama kehamilan apa-apa dan nyaris nggak mengalami perubahan apapun. Kecuali tubuh yang bertambah lebar dan kepayahan akibat punggung yang sering bertambah pegal. Tiap hari masih beraktifitas seperti biasa. Lebaran kemarin juga mudik dengan pesawat terbang dan aman-aman aja. Mual, muntah, nggak nafsu makan, ngidam, nggak terjadi sama sekali.


Sebab, selain support dari ayah dan juga mas suami, jauh di lubuk hati saya yang paling dalam, mengatakan : saya pasti akan baik-baik saja.


Rasanya menjalani kehamilan jadi tenaaaaaang sekali ~