Wednesday, July 17, 2019

Hiduplah Lebih Indah dari Feed Instagrammu dan Lebih Baik dari Timeline Facebookmu


Duuuuh... judulnya udah sok wise sekali, ya. Wahahaha ~


Bagi beberapa orang, media sosial adalah tempat yang sangat menyenangkan. Tempat dimana para penggunanya berlomba-lomba menampilkan sisi terbaik dirinya. Love, like, dan comment jadi sesuatu yang paling ditunggu-tunggu. Seberapa eksisnya si pemilik akun, ditentukan dari banyaknya followers dan banyaknya love yang ia terima. Padahal, 'love' nya di dunia nyata juga (mungkin) nggak ada alias masih jomblo, nyahahahahaa...


Location : Melawai Beach (Balikpapan, 2015)


Iya. Media sosial juga selalu penuh kejutan. Headline tentang bencana, intoleransi antar umat beragama, pajak hingga inflasi, pelemahan ekonomi, sampai kisah-kisah viral berseliweran di timeline media sosial. Tiap orang (merasa) bebas beropini. Sehingga batas antara komentar, kritikan, nyinyiran, atau hate speech masih terasa bias.


Berbagai berita tentang kejadian-kejadian di belahan dunia lain pun sering bikin hati ketar-ketir ; kebijakan kontroversial Mohammed bin Salman dan kebijakan Trump yang mengguncang ekonomi global, misalnya.


Tetapi, meskipun banyak berita tentang bencana, bersyukur kita dan orang-orang yang kita sayangi terhindar darinya. Walaupun kerap muncul berita tentang intoleransi umat beragama, bersyukur kita masih diberi ruang untuk beribadah dengan tenang. Sekalipun banyak cerita tentang rakyat menjerit, bersyukur kita masih bisa menghirup udara dengan gratis, kita masih bisa makan, masih bisa hangout, masih bisa membeli barang-barang yang kita sukai, dan tidak hidup dalam keadaan terhimpit. Hal-hal yang nampak sederhana seperti itu, (mestinya) udah cukup membuat rasa syukur kita besar sekali.


Ya... kita selalu punya pilihan untuk tetap bersyukur agar dapat melihat kebaikan :)


Kita punya pilihan untuk bersedia menerima 'keadaan' agar dapat terus bergerak maju :)


Apakah selalu berhasil di saya ? Oooo tentu tydack saudara-saudaraaaa ~


Memang belum selalu berhasil, tapi selalu saya upayakan rasa syukur itu setiap hari :)

Sunday, July 14, 2019

Review : Cetaphil Moisturizing Lotion for Face and Body


Ritual mandi selalu jadi aktivitas sederhana untuk melepas lelah yang menyenangkan buat saya. Saat akhir pekan gini, mandi tiga sampai empat kali sehari setelah kelar urusan domestik di rumah udah jadi hal yang biasa.


Saat cuaca panas, kamar yang dilengkapi dengan penyejuk udara (AC) hwaaahhh ibarat surga dunia yang nggak bisa ditawar lagi. Tapi, sejuknya AC membuat saya tanpa sadar jadi sering lupa minum. Efeknya berasa banget. Kulit saya yang basically kadar lembabnya minim jadi cenderung makin kering.




Ehm... sebenarnya moisturizer tuh nggak hanya berfungsi menghidrasi kulit, ya. Tapi juga mengikat kulit kita tetap lembab. Produk yang banyak banget pilihannya di pasaran. Dari yang murah sampai mahal banget ada. I've gone through stages of panicking and trying any products and treatment to make my skin better.


Thursday, June 13, 2019

Habis Lebaran, Terbitlah Manusia-Manusia Lebar-an


Lebarannya memang sudah habis, gaes. Aroma gurih yang menyeruak dari kepulan asap kuah kaldu bakso, puding buah dan cake ala Holland Bakery, keragaman kue kering khas lebaran macam nastar, kastengel, dan kawan-kawan yang kemarin menghiasi meja tamu rumah ayah, serta minuman kaleng yang tersusun rapi di lemari pendingin, sudah mulai hilang dari peredaran. Acara cipika cipiki serta percakapan basa basi ala "hay apa kabar ?" atau "sehat kak ?" atau "kok gendutan !" ke saudara yang jarang bertemu, juga sudah mulai hilang euforia nya.


Tapi, soal kenaikan berat badan pasca lebaran yang tak kunjung hilang, mari kita diskusikan sekarang.


Nganggur banget, nih, meja ? Langsung ke ruang makan aja ya, wahahaha ~


Iya, kehadiran nastar dan kawan-kawan selalu mewakili citra lebaran keluarga saya. Aroma mentega dan telur wangi khas cookies, polesan kuning telur yang merata, renyah khas kue kering, selalu mewarnai momen silaturahmi. Begitupun dengan bakso dan bistik daging. 

Thursday, May 30, 2019

Pembentukan Karakter Bukanlah Seperti Restoran Cepat Saji


Ada dua jenis manusia yang kurang saya sukai, yaitu orang-orang yang sering membuang sampah tidak pada tempatnya dan orang-orang yang menutup diri dari kebenaran. 


Orang-orang dekat saya paham bahwa saya seorang CLEAN FREAK. Iya, persoalan sampah dan rendahnya kesadaran sebagian orang untuk menjaga kebersihan seringkali membuat saya terganggu. Padahal, pesan-pesan moral kemanusiaan dan mandat untuk menjaga kebersihan juga jadi bagian penting isi Al-qur'an. Sayangnya, masih ada orang-orang yang menganggap masalah kebersihan itu bukan bagian dari integral keimanan.


Source : Pinterest

Tuesday, May 14, 2019

Minimalis itu Tentang Belajar Memaknai Value


Kebanyakan dari kita lebih tertarik membicarakan hidup seseorang dari parameter kepemilikan. Sudah punya rumah, belum ? Sudah punya mobil, belum ? Eh udah beli iPhone terbaru, belum ? Haaah... punya jet pribadi ? So, berapa aset kekayaan bersih yang lo punya ? Oh wooow ~


Sama seperti beberapa waktu lalu ketika adik saya yang paling bungsu melontarkan pertanyaan menggelitik "warna angin tuh apa, sih, mbak?" Pertanyaan-pertanyaan lucuk yang sebetulnya gak nampak sedikit pun faedahnya. Seakan-akan, makin banyak harta benda yang kita punya, maka bahagia kita. Seolah-olah, uang dan harta benda yang melimpah satu-satunya sumber bahagia.






Bagi saya, sepatu bukan hanya sekedar alas kaki, tapi juga investasi. Sudah seperti barang seni yang diburu dan dikoleksi oleh para penggemarnya. Di usia muda, saya gemar sekali berburu sepatu. Udah out of control banget lah. Ada lebih dari tiga puluh pasang sepatu dan sandal dari berbagai brand yang saya punya. Asal saya suka, pasti saya punya.