Thursday, May 6, 2021

Melepas Ketertarikan pada Benda

Delapan bulan belakangan membuatku menyadari satu hal, ternyata selama bertahun-tahun bahkan puluhan tahun lalu hidupku benar-benar konsumtif impulsif banget ! Haha astagfirullah :’)




Apalagi sewaktu masih mahasiswa. Hidup rasanya dibuat membutuhkan banyak hal. Alibinya self-reward. Sebentar-bentar beli baju, tiap bulan beli tas dan sepatu, beli jam tangan, gonta ganti ponsel tiap ada keluaran terbaru. Sepatu dan tas jadi banyak, baju jadi bertumpuk. Jam tangan, parfum entah udah berapa banyak. Padahal nggak semuanya terpakai.


Meskipun waktu itu masih jomblo, beli banyak peralatan dapur di ACE Hardware udah aku lakukan. Microwave pun ada. Isi rumah udah lengkap, tinggal nikahnya aja, lol :)))


Sampai disatu fase dimana aku ngerasa “wah, udah gak bener, nih...”


Titik baliknya adalah saat drama angkat kaki itu. Semua yang serba tiba-tiba membuatku nggak punya waktu berbenah untuk membawa semua barang yang ku punya. Apalagi kepikiran ngangkut AC di kamar, mana sempaaaat. Tapi itu bukan lagi masalah. Life change, people change :)




Sebetulnya kalo dilihat-lihat justru banyak yang sekarang nggak aku punya. Nggak punya ranjang (tempat tidur) karena bed di kamar lesehan aja, nggak pasang AC, nggak pakai perhiasan apapun, sepatu hanya tersisa 2 pasang, nggak punya ini nggak punya itu.


Dan, yaaaah, ternyata hidup berjalan baik-baik aja :)


Pikiran terasa lebih ringan. Aku jadi punya banyak waktu untuk berinteraksi sehat dengan tetangga, punya waktu lebih untuk baca buku, punya waktu khusus untuk bebikinan di dapur & lebih fokus berkarya. Nggak perlu berpikir terlalu lama mau pakai baju dan sepatu yang mana saat hendak keluar rumah. Rasanya hidup lebih efektif.


Mindset jadi ter-upgrade juga bahwa membeli lebih banyak & memiliki lebih banyak nyatanya nggak membuat bahagia kekal menetap :)


Tapi, bukan berarti aku anti produk-produk berkualitas, lho, lol :)))


Kalo ditanya bagaimana, aku pun sedang belajar & berusaha menyederhanakan hidup, pikiran & perilaku. Didukung pula oleh pak suami yang bahkan udah menjalankannya sedari dulu.


Nggak tiba-tiba, semua melalui proses yang cukup berat & sangat panjang. Memilah & memilih mana yang benar-benar aku butuhkan & yang nggak. Lalu menyelaraskannya dengan kebutuhan yang jadi prioritas. Belajar melepas ketertarikan pada benda, belajar merasa cukup :)


Melepas untuk memiliki. Melepas yang justru membuatku memiliki & mendapatkan banyak hal : kesehatan mental, ketenangan, ketentraman, kedamaian, terutama perihal hubunganku dengan Tuhan.


Sehingga, ketika tau orang lain punya, it’s good. Ketika kita nggak punya, bukan masalah :)


Balik lagi, semua adalah keputusan pribadi yang menjalankan. Nggak ada yang benar atau salah. Yang ada hanyalah, apakah pilihan itu sesuai atau nggak dengan kondisi pribadi. Sebab yang paling tau apa yang kita butuhkan & memberi nilai dalam hidup kita adalah diri kita sendiri.


Konsumsi nggak selalu buruk, kok. Cuma jangan sampai sesuatu yang sebetulnya nggak butuh-butuh banget, tetap nekad dimiliki, hanya untuk mengesankan orang lain, padahal aslinya berat di ongkos. 


Ini bukan soal banyak sedikitnya, murah mahalnya, tapi soal mengurangi hal-hal yang berlebihan dan menyimpan apa yang benar-benar penting untuk hidup kita :)


Thursday, April 15, 2021

The Signs

 



{Reminder Story}


Kau tau bagaimana rasanya tidak dicintai manusia ?

Seolah kau adalah seseorang yang tidak begitu penting kehadirannya apalagi untuk didengarkan ceritanya 

Semua yang kau lakukan tak memberi arti apa-apa

Tenang & berbahagialah :)

Kau diberi pertanda bahwa kau sedang dijaga

Lihatlah selalu ke dalam Qur’an

Kau akan banyak menemukan ceritamu di sana

Oleh sebab itu, jangan jauh-jauh darinya, ya...



Sunday, March 14, 2021

An Introduction : Another Most Beautiful Poetry




Another human being is literally growing inside me :’)

Another most beautiful poetry that Allah SWT ever write :’)

Even if we haven’t met him / her, we know he / she is already being a part of us...

Nothing else matter, you are ‘here’ and we’ll love you forever



Take care, you ~ 

Tuesday, July 21, 2020

Living, Loving, and Working at Home (when Quarantine) would be a Breeze for an Introvert


After few months of increasing anxiety about how dangerous Covid-19 was, the trill of staying at home where we safe and able work on assignment, made me believe that quarantine is the same meaning of much-needed break from everyday fast-paced and energetic routine. Especially for him. Even I know he felt a mixture of excitement and worry, lol


Well... from the first month of quarantine on March, the academy announcing the cancellation of all in-person classes, his work responsibility transitioned to an online format. Virtual discussion with his workmate or his students on WA chat, made of recorded lectures and then publish the files on the website. So far, it's easy enough for him.







Me ? I haven't had a problem not leaving the home, lol. So, as usual, I cleaned our pavilion everyday, I make our room feel extra cozy, I've created mini private kitchen behind our room, cooking sometimes, re-read my favorite book, all of tracks on Kenny G were unlocked and of course write on my personal blog.


Home used to be the place where we could recharge energy with solitude activity ~


Until someday, my extroverted friend decided to break the rules and go physically to see me. Tell me about how this pandemic forced her to stay at home for months even she has a beautiful pantry at home. Tell me about how her kids struggling with their online classes even every corner of her home connecting with Wi-Fi. It makes me think, why she need for interaction was so great, when it felt like she'd already found a way to handle it personally (?)


No, no. I'm not anti-social. I'm not shy, lol. I do enjoy social interaction too. Me personally just love to be a small part of a big conversation. Have no trouble to get more experience the outside world, I'm fine with it. Relax in a bookstore or coffee shop, to find a sense of normalcy again. But only by myself. Truly alone. Not in the same way that my extroverted friend do :)


It's made me realized that every personality (introvert, extrovert, or something between them), struggle with anxiety and processes it differently.


Not everyone is privileged enough to stay at home all along day and not everyone know how to best stay in touch with their friend online.  


Maybe an introvert doesn't always stay calm in difficult times and an extrovert could appreciate moment of quarantine.


But I think, living, loving, and working at home still would be a breeze for an Introvert :)

Tuesday, June 30, 2020

Yang Tak Terbatas Pemaklumannya



Barangkali, sebagianmu masih satu suara, berpikir bahwa sebuah pencapaian adalah apa-apa yang nampak oleh mata, tentang mimpi-mimpi yang jadi nyata. Dari tiada menjadi ada, dari tak dikenal menjadi ternama, dari bawah hingga jadi juara. Sibuk berkembang diri dan meninggi. Hingga sebagian energi habis karena merisaukan perkara-perkara yang tak punya terminal henti.





Sementara gagal, banyak sekali interpretasinya. Masih melajang saat usia dua puluh lima, telah 'melahirkan' banyak hal tapi tak bisa ikut berkontribusi menambah jumlah angka manusia, memilih tak bekerja layaknya mereka di luar sana, tak ikut dalam circle orang-orang yang dianggap penting di dunia nyata.


Manusia seolah dipaksa berkompetisi, menggapai dan memamerkan sesuatu, sampai-sampai jadi candu apresiasi.


Sebetulnya, tak salah memberi kaki pada mimpi, tak salah menjejaki mimpi sesuai inginnya hati. Yang salah adalah ketika manusia kehilangan keyakinan dan kebaikan saat tak hidup dalam keberlebihan.


Kalo sudah begini, jangan-jangan lupa lega hati itu apa.