Thursday, July 14, 2022

Ambisi dan Rasa Cukup

 




Jadi ceritanya, beberapa hari lalu, iseng-iseng nge-post random think tentang ‘ambisi si ambisius’ disalah satu media sosial. Cukup kaget dengan respon yang masuk “sampai sedewasa ini, i don’t know what to do, jangankan ambisius, ambisi aja nggak ada”. Seolah-olah manusia yang ambisinya tak nampak realita, tak layak dianggap ada.


Padahal bukan itu sebetulnya point yang aku maksud. Tapi di situ lah uniknya sebuah tulisan : begitu dibagikan, interpretasi akan bergantung dari pemahaman si pembaca. But, thank you for the curcol, bestie :’)


Benar bahwa kita sekarang ada, dimasa, dimana seolah-olah kita harus terus berlari. Tak boleh berhenti. Orang-orang yang dianggap ada ialah mereka yang punya panggung, tersorot, berorientasi aksi & bernilai kontribusi. Gerak terus, lari terus. 


Tak ada yang salah dengan ambisi. Sama seperti rasa lapar, ambisi juga perlu dipenuhi. Tapi, akan jadi bahaya kalo kita    terus menerus merasa lapar & sulit untuk merasa kenyang. Contoh sederhana, waktu kita sedang puasa. Masih siang bolong, sudah mikirin balas dendam. Udah nyiapin banyak cemilan & variasi makanan. Inginnya waktu berbuka langsung banyak makan & minum sepuasnya. Tapi, apa yang terjadi, makan & minum sedikit saja rasanya udah kenyang banget. Been there, done that :)))


Ambisi memang tak sesederhana warung Padang. Harta & tahta bisa jadi ambisi yang berperkara. Apalagi kalo ambisi itu dibarengi dengan buruknya pengalaman masa lalu atau perbandingan-perbandingan yang selalu sampai ke telinga. Yawis, ku rasa nggak akan ada cukupnya & benar-benar nggak ada baiknya.


Sohib lo pakai iPhone 12, lo buru-buru deh beli iPhone 13 promax. Teman nongkrong lo bawa Pajero Sport, lo kerja keras luar biasa biar cepat punya VRZ. Teman seangkatan lo udah pada studi Doktoral, lo menggadaikan kebutuhan & kebahagiaan keluarga kecil lo, demi gengsi untuk bisa mengejar hal yang sama. Rekan kerja lo dapat amanah bergengsi dari atasan, eh lo gak terima, lalu lo spread bad rumour tentangnya. Sodara lo dapat warisan, lo depak dia dari khayangan.


Ketika kompetisinya sudah nampak tak sehat, tak ingin ada yang menyaingi, merasa harus selalu lebih tinggi dari yang lain & main purpose-nya adalah mendapat high impression orang lain, jegal sana sini, ya hidup nggak akan pernah tenang. Tiap hari berpikir keras, kelebihan apa yang harus ditunjukkan, segala hal dilakukan. Laper mulu, makan mulu. No !!! Staying hungry tuh bahaya. Saat udah mulai laper lagi, ya makan, lalu cukupkan.


It’s all about Marathon, guys, not a Sprint. It’s okey kok, lari mengejar ambisi yang kita mau, go ahead. Apalagi kalo itu penting banget untuk kita, untuk masa depan keluarga kita. But keep on track & jangan culas menjegal lawan larimu. Jika sudah waktunya berpindah, cukupkan dulu ambisi sebelumnya, baru fokus ke hal lain. Remember one thing : multitalent itu bagus, tapi banyak nggak sehatnya :’)


Semoga kita semua terus diberi kecukupan & kelapangan hati ~

Tuesday, February 22, 2022

Jiro Dreams of Sushi : Representasi Budaya Hatarakisugi di Jepang

 



Soal rasa, lidah ini memang agak sedikit kampung, sih. Seleranya lokal banget. Buktinya, sampai sekarang, aku nggak pernah benar-benar bisa menikmati Foie Gras. Norak ye, lol. Kalo disuruh pilih Foie Gras atau bebek Purnama, aku pasti pilih yang kedua.


Nah, masalah hadir ketika teman-teman pecinta makanan Jepang menang voting kala itu. Tau kan apa yang ku lakukan ? Ya kabur lah, lol. Melipir ke KFC sebelah kantor. Setelah berkali-kali nolak diajak nongkrong di Sushi Tei, akhirnya satu tahun sebelum resign, aku nyerah. Tetap saja, yang ku pilih mostly makanan yang matang. Salmon Mentai Sushi salah satunya. Eh, kok cocok, lol.


Jadi, hari ini aku akan berkisah tentang Jiro Ono. Aku ? Ya Ora Ono Apa-apa ne Karo De’e. Nggak gitu ding konsepnya, hehe. Pecinta sushi pasti tau siapa dia. Tapi bukan makanan di balik dapur Jiro yang ingin ku bagi ceritanya di sini, melainkan semangatnya & bagaimana ia teramat mencintai pekerjaannya.


(Source : Pinterest)


Jiro Ono diklaim sebagai Master Sushi terbaik di dunia. Usianya hampir mendekati satu abad. Orang lawas yang dikenal akan kecintaannya terhadap sushi. Baginya, sushi adalah karya seni. Hari-harinya sibuk, seperti tak menyisakan ruang untuk bernafas. Ia justru tak suka hari libur. Baginya, libur justru membuat waktu berjalan lambat. Ia hanya libur ketika tanggal merah. Layak kalo dirinya masuk ke dalam daftar kaum Hatarakibaci. Beda ya sama kite-kite yang senang banget kalo banyak libur, gak mau lembur, tapi tetap pengin fulusnya ngucur, lol.


Jepang adalah negara penganut kesempurnaan. Segala sesuatunya dituntut untuk praktik sempurna. Jiro Dreams of Sushi membuat penikmatnya jadi banyak tau bagaimana Jepang mampu mempertahankan nilai-nilai hidup yang mereka anut hingga kini. Bagaimana budaya mereka akhirnya berimplikasi pada lahirnya citra Jepang di panggung dunia sebagai negara yang disegani. 


Jiro tangguh sedari kecil. Bagaimana tidak. Ia berasal dari keluarga tajir yang kemudian hidupnya berbalik arah ketika bisnis ayahnya gulung tikar. Lalu hidup sendirian diumurnya yang masih tujuh tahun.


Awal ia menikah pun masih sama. Cuma punya 10 yen di tabungan. Coba deh rupiahkan sendiri, hehe. Pergi kerja sedari subuh & balik ke rumah ketika anak-anaknya sudah tidur. Waktu magang, ia hampir tak dibayar sama sekali. Lalu apa dia nyerah ? Oh tentu tydack sodara-sodara. Ia terus berusaha & mengulang hal yang sama setiap hari. Ingat ya, mengulang hal yang sama setiap hari. Memperbaiki sedikit demi sedikit, untuk membuat sushi terbaik.


Tekunnya gak ada ampun. Selalu level up his skill. Ia juga mendorong kedua putranya, Yoshikazu & Takashi, untuk belajar & bekerja di kedai sushi miliknya. Mereka berlatih dengan keras. Tiap hari, selama persiapan sebelum kedai dibuka, Jiro selalu mencicipi sushi yang mereka buat & duduk makan bersama dengan para asistennya.


Bahkan malam sebelumnya, ia selalu berdiskusi dengan putra pertamanya, Yoshikazu, tentang rencana esok hari. Apa saja yang diinginkan oleh Jiro. Belajar teruuus, sampai putra keduanya, Takashi, dipercaya mengelola cabang.


Sangking besarnya nama sang ayah, para pelanggan selalu beranggapan bahwa sushi terbaik buatan Takashi pun rasanya nggak akan mampu menandingi sushi buatan ayahnya. Biasalah kayak gitu. Ketika ada dua hal yang mirip atau sama, pasti langsung dibandingin & dicari-cari perbedaannya. Kalo disini, selain dibandingin, bonus dijulitin pulak, langsung deh kenak mental, lol. 


Jiro punya akses khusus dengan yang terbaik. Pemasok tuna & udang terbaik. Pemasok beras terbaik. Mereka memahami kebutuhannya & ia pun royal terhadap mereka. 


Ia paham betul ikan apa yang sedang musim. Bagaimana memilih, menyimpan & mengolahnya. Bagaimana memotong ikan, mana yang harus tebal & mana yang harus tipis. Bagaimana menyajikan ikan agar suhunya terjaga & rasanya nggak berubah. Bagaimana agar tekstur ikan tetap kenyal tapi tetap mudah dikunyah. Seberapa banyak wasabi harus disertakan. Untuk menyajikan nasi aja nih, nggak main-main. Nasi harus punya daya ikat yang cukup agar nggak tercerai berai, bulirnya utuh, nggak lembek alias padat. Padahal kalo udah dicaplok sama aja ya, haha.


Ia seorang perfeksionis. Selalu ‘keras’ melatih muridnya. Mental kuat akan membawa mereka dekat dengan keahlian level dewa seperti yang dimiliki Jiro, tapi kalo tidak, mereka pasti langsung kabur dalam sehari, lol. Mereka benar-benar dilatih dengan serius, nggak sekedar magang disuruh cuci piring doank. Bahkan salah satu pelanggannya ada yang kini menjadi asistennya. Berlatihnya nggak sebentar, bertahun-tahun.


Aku sepakat dengan statement Jiro : untuk membuat makanan enak, kita mesti nyoba makanan enak. Ia mengatur pengelolaan food product dengan profesional, cooking method yang sempurna, penerapan hygiene & food serving yang baik. Itu semua membuat sushi yang ia hidangkan membekas panjang dalam ingatan.


Memasak itu soal intuisi, menurutku. Kita bisa saja mencicipi masakan yang sama tapi bisa berbeda jauh rasanya. Sebab intuisi nggak bisa dicuri. 


Dan makanan tak pernah disajikan sendiri. Ia selalu hadir bersama dialog manusia & cerita inspiratif di baliknya. Jiro menularkan cinta & ketulusan. Bahwa semua orang bisa menemukan, memiliki kecintaan & menularkan kegembiraan atas apa yang sedang dikerjakan.


Long life, Jiro ~

Friday, December 10, 2021

Pijakan Pertama Memulai Kolaborasi


Menggabungkan banyak kepala dalam suatu pekerjaan atau dalam suatu forum diskusi artinya harus mampu saling mendengarkan & berkompromi satu sama lain.


(Picture by Pinterest)


Tiap orang punya peran masing-masing & sama pentingnya. Ada yang lebih unggul mengutarakan ide & ada juga yang lebih nyaman mengembangkan ide yang sudah ada. Melengkapi satu sama lain tapi juga tetap menampilkan ‘warna’ tiap-tiap individu tanpa mengaburkan warna yang lain. 


Santai berbincang sebagai teman, tapi juga bersedia menurunkan ego untuk mendengar ide dari yang lain. Sehingga kita bisa tau mengapa ada yang punya sudut pandang berbeda jauh dengan kita. Bukan perkara mudah. Apalagi secara pribadi, terkadang sulit bagi saya untuk ikut memberi ‘warna’, tapi semua bisa dipelajari. Sama-sama belajar & perlu terus konsisten berlatih.


Sudah beragam agenda dilalui bersama. Tapi di sisi lain, ikut bertumbuh sebagai individu itu yang paling penting untuk saya. Banyak aspek yang jadi terlatih, tiga di antaranya adalah kemampuan management, sosialisasi & skill komunikasi. Terutama terhadap orang-orang yang terlibat secara langsung.


Menurut saya pribadi, salah satu parameter kolaborasi yang sehat adalah adanya mutual respect di antara orang-orang yang terlibat & memahami betul apa tujuannya :)


Pada akhirnya, kolaborasi atau bekerja bersama bukan hanya tentang mencapai tujuan bersama, tapi juga belajar memahami satu sama lain.


Saya percaya kemampuan untuk saling menopang, sehingga kita bisa menikmati setiap proses sebagai bentuk apresiasi terhadap hal baik yang sedang & akan terus berlangsung. 




Best Regards, Arif H Purwono

(Yang dipaksa ibu negara untuk menulis)


Wednesday, November 24, 2021

Anak Kedua & Cerita di balik Kelahirannya


Siang itu, Rabu 3 Nopember 2021, diusia kandungan 39 minggu, tiba-tiba ‘brown discharge’ menetes keluar, padahal tidak ada rasa mulas sebelumnya. Aku juga masih berbenah rumah seperti biasanya.


Aku pun inisiatif menghubungi pak suami “Yank… siap-siap ya, ini udah keluar cairan yang warnanya cenderung coklat. Mungkin kalo nggak nanti malam yaaa besok pagi kita ke klinik…”. Suami pun mengiyakan.


(Baca juga ya : Akhirnyaaa, Kabar Bahagia itu Datang)






Selepas Magrib, kami pun meluncur ke klinik pribadinya Dokter Murtiningsih, Klinik Utama Sri Murti Husada, tempat dimana Diba dilahirkan 3 tahun lalu.


Setelah bertemu & menjelaskan apa yang terjadi ke bidan jaga, ia langsung melakukan VT (Vaginal Toucher) alias periksa dalam. Ternyata belum ada pembukaan serviks sama sekaliii, sodara-sodara. Tapi, ada bercak darah yang dicurigai sebagai plasenta previa. Karena belum ada kontraksi & pembukaan, aku memilih pulang dengan banyak tanda tanya.


Kamis, 4 Nopember 2021. Brown discharge makin banyak. Karena cemas & penasaran, akhirnya kami inisiatif menyusul Dokter Murti ke tempat praktiknya di RSUI Kustati. Selesai pemeriksaan, beliau memaparkan kondisi medis terakhir yang aku alami. Bayi sebetulnya sudah siap dilahirkan. Hanya saja, rahim dengan varises sangat ‘malas’ untuk berkontraksi. Sehingga sampai usia kandungan 39 minggu pun aku tidak merasakan mulas. Dan ternyata benar saja, letak plasenta ku pun menutupi sebagian jalan lahir.


Dari penjelasan Bu Dokter, aku baru tau bahwa varises bisa muncul dimana saja. Bahkan bisa ditemukan di jalan lahir (vagina), di rahim (uterus) bahkan di dubur. Terlalu beresiko kalo memaksakan diri untuk persalinan normal. Resikonya adalah pendarahan yang banyak akibat robeknya varises saat mengejan.


Rekam medis juga menjelaskan bahwa rahimku cenderung rapuh. Jaringannya rentan mengalami kerusakan & mudah mengalami pendarahan kalo tersentuh. Kaget juga, karena selama hamil, nggak pernah sekalipun mual muntah. Konsumsi makanan sehat, minum vitamin yang diberi oleh Bu Dokter, minum susu & madu, rutin memeriksakan kehamilan. Aku pikir kehamilanku baik-baik aja. 


Bu Dokter menyerahkan sepenuhnya pilihan proses persalinan ke aku. Karena kondisi si bayi juga sudah lemah & tidak mungkin melakukan induksi. Demi kesehatan & keselamatan, aku & pak Suami akhirnya memutuskan proses persalinan secara caesar, seperti yang disarankan juga oleh beliau.


Beliau menjadwalkan tindakan hari itu juga pukul 4 sore, tapi aku minta waktu untuk mengantar Diba ke rumah Mbahkung-nya (IYAAA… dalam kondisi urgent begitu, aku melakukan perjalanan 4 jam bolak balik nganter Diba supaya memastikan Diba bisa di handle langsung oleh Mbahkung-nya)


Setelah balik lagi ke RSUI Kustati, aku langsung menuju IGD & menyerahkan Surat Rujukan yang diberikan oleh Dokter Murti. Aku langsung diarahkan ke dalam bilik untuk diinfus & pak Suami menuju bagian administrasi untuk pendaftaran. Lalu, aku dibawa ke ruang ‘transit’ & berpuasa mulai pukul 12 malam, sambil menunggu proses persalinan yang ternyata dijadwalkan esok paginya pukul 05.30. 


Jumat, 5 Nopember 2021, pukul 5 pagi. Bidan mengantarku ke ruang rawat inap untuk bersiap mandi (IYAAA DOOONK, mau persalinan yaaa mandi dulu biar seger & wangi, lol). Setelah itu, aku dibawa menuju ruang persalinan.


Di ruangan itu, aku benar-benar single fighter. Nggak ada suami atau kerabat yang menemani. Aku justru ‘dikeroyok’ oleh beberapa paramedis & dokter-dokter spesialis. Kemudian, tirai dibentang melintang di atas dada ku. Proses suntik bius pun dilakukan. Aku tetap sadar ketika proses SC berlangsung. Mataku masih segar banget. Hanya setengah badan ke bawah yang hilang rasa. Gerakkin jempol kaki aja nggak bisa. Tapi, selain bunyi hospital beeps, aku masih sedikit overheard obrolan Dokter Murti & partner-nya sepanjang operasi berlangsung. 


Berbeda dengan proses kelahiran Diba, persalinan kedua ini cukup lama, kurang lebih 2,5 jam. Aku juga mengalami muntah-muntah saat prosesnya berlangsung. Tapi, setelah mendengar tangisannya, aku LEGAAAAA :’)


Setelah tindakan SC selesai, aku dibawa ke sebuah ruang observasi untuk memantau kondisiku pasca persalinan. Di sana juga ada ‘tetangga’ alias pasien lain selain aku. Di ruangan itu, tekanan darah & suhu tubuhku terus dipantau. Lalu setelah kurang lebih 2 jam, aku dipindahkan ke ruang rawat inap. Dengan kata lain, bersiaplah merasakan berkurangnya efek bius yang perlahan tapi pasti !


Karena kadar Hb ku pasca operasi terjun payung dibanding sebelum operasi, maka transfusi darah harus dilakukan. Prosesnya nggak berjalan mulus. Darah macet diselang infus. Sampai harus lepas pasang jarum berkali-kali & itu bikin ngilu !


Untuk sementara waktu, aku juga belum boleh makan atau minum. Hampir 12 jam. Ngelaaaaakkk cyaaak, lol. Tapi, dalam waktu itu, secara bertahap & sedikit demi sedikit, aku mulai diberi minum air putih hangat, susu putih cair & makanan lunak semacam bubur gitu. Baru kemudian boleh makan nasi.


Si bayi pun langsung ditaruh di kamar bersamaku. Aku mulai latihan tidur miring kanan kiri sambil menyusui. Beuh, rasa (sakitnya) warbyasaaak ! Pelan-pelan latihan duduk & jalan. Yaaaa, itu semua aku lakukan dihari pertama :’)


Tiap beberapa jam, mbak perawat masuk ke ruanganku. Cek tekanan darah, cek infus dan sebagainya. Setiap masuk, aku selalu ditanya :

“udah latihan miring kiri kanan, mbak…?”

“udah bisa duduk…?”

“udah kentut belum…?”

Untuk pertanyaan yang ketiga, rasanya aku pengen banget jawab “mau bukti niiiihh mbaknyaaaah…” :)))


Btw… sangking nggak kuatnya dengan rasa ngilu di tangan, aku memaksa mbak perawat untuk melepas infus sekaligus kateter meskipun belum waktunya. Entah bagaimana pertimbangannya, Dokter Murti mengizinkan. Akhirnya, aku bisa bebas berjalan. Thank youuuu, Bu Dok :’)


Long story short, setelah 3 hari di rumah sakit. Minggu, 7 Nopember 2021, aku diperbolehkan pulang.


Terima kasih banyak Bu Dokter Murtiningsih, Sp.OG beserta team & paramedis yang membantu proses kelahiran adiknya Diba. Bu Dokter yang selalu sabar & tenang menghadapi pasien bandel sepertiku. One of the best Obgyn Doctor i’ve ever met so far. Semoga Allah SWT selalu menganugerahi beliau kesehatan yang prima. 


Welcome Home, Farabiy E.A ~

Tuesday, October 5, 2021

Different Kinds of Life Stage : Baby #2




There are so many different kinds of life stage & kinds of experience in the past 3 years. Not everything has to be shared & some things should be wait for little while before being shared.


And i think it’s a good time to share my baby #2 pregnancy update with our happiness :)


————————


Going a little backward, the end year of 2018 will be of the year that incredibly memorable : after waiting for almost 3 years, I went from being a wife into being a mom of a beautiful girl, Baby #1 :’)


We found out that I was pregnant Baby #2 in February on this year. 2 months after Diba’s second birthday. My husband & I met The Obgyn when my pregnancy into 7 weeks. The Doctor does an ultrasound to make sure that I’m pregnant & giving me Vitamin to make sure the baby growing well. 


I remember we are being so excited but i also remember it’s going to get harder for surviving day by day. Happy or moody most of the time is my friend. It also kept me busy -taking care Diba who were potty training- and many ‘surprises’ I meet everyday. My daily life more dynamic :’)


Oh well, I just finished Belly Laughs by Jenny McCarty. It’s not an educational short read for pregnancy, actually. Just for stress free. Because she covers her story with laugh-out-loud funny :))))


And I’m going this third trimester with Baby #2 on this FUN FACT : 

• How Far Along : currently 36 weeks 

• Due Date : End of October or The Beginning of Nopember

• Size of Baby : 2,8 Kg & I’m not allowed to eat any sugar or sweet food again, my doctor made it clear, lol :))

• Maternity Clothes : All my dress are maxy dress. It’s more than enough to support my ‘new’ body. So i don’t need special maternity clothes :)

• Morning Sickness : Never :)

• Baby Shower : Of course NO :)

• Babymoon : Hunting for good food is my simple babymoon, lol…

• Food Cravings : Ice cream, Dimsum, Pempek, Lotek, Cheese Bread :)))

• Shopping : Only for the newborn super basic needs

• Gender : Surpriseeee :p

• Miss Something : I just miss going to bookstore :’)


On the last check, the fetal heart monitoring & the amniotic fluid level was good, the doctor said.


But maybe, I really can’t share much yet. If all the things are developing good, I’ll definitely share more details when the baby #2 arrive.


So, please sending your positive energy & big prayers to keep me surviving.


Thank you so much :’)