Wednesday, June 19, 2019

Dapur dan Meja Makan adalah Ruang Diskusi sekaligus Tempat Terhangat di Rumah


Dapur memang nggak bisa dipisahkan dari aktivitas masak-memasak. Bukan hanya aktivitas mengiris cabai, menguleg bumbu, merebus ayam untuk kaldu, menggoreng tempe, mengaduk sayur, perbandingan gula dan garam, atau gas yang tiba-tiba saja habis. Lebih jauh soal urusan hati, bagi saya, dapur dan meja makan adalah tempat terhangat di rumah. Bukan, bukan karena ada kompor yang sering menyala disana, sis. Melainkan banyaknya menu-menu yang kami rindukan, dihidangkan dengan penuh cinta disana. Tsssaaahhh ~


Iya, ayah terbiasa ke pasar tiap pagi. Sesekali waktu ia membeli cabai rawit merah, cabai keriting merah, tomat merah, bawang putih, dan terasi untuk membuat sambal Ma'ruf favorit kami sekeluarga. Membeli beberapa macam cemilan. Mampir ke warung di sekitaran pasar untuk membeli macam-macam lauk bekal makan siang dan makan malam. Lalu pulang dengan banyak perintilan plastik belanjaan. Iya, ayah selalu seserius itu kalo sudah berurusan dengan makanan.




Thursday, June 13, 2019

Habis Lebaran, Terbitlah Manusia-Manusia Lebar-an


Lebarannya memang sudah habis, gaes. Aroma gurih yang menyeruak dari kepulan asap kuah kaldu bakso, puding buah dan cake ala Holland Bakery, keragaman kue kering khas lebaran macam nastar, kastengel, dan kawan-kawan yang kemarin menghiasi meja tamu rumah ayah, serta minuman kaleng yang tersusun rapi di lemari pendingin, sudah mulai hilang dari peredaran. Acara cipika cipiki serta percakapan basa basi ala "hay apa kabar ?" atau "sehat kak ?" atau "kok gendutan !" ke saudara yang jarang bertemu, juga sudah mulai hilang euforia nya.


Tapi, soal kenaikan berat badan pasca lebaran yang tak kunjung hilang, mari kita diskusikan sekarang.


Nganggur banget, nih, meja ? Langsung ke ruang makan aja ya, wahahaha ~


Iya, kehadiran nastar dan kawan-kawan selalu mewakili citra lebaran keluarga saya. Aroma mentega dan telur wangi khas cookies, polesan kuning telur yang merata, renyah khas kue kering, selalu mewarnai momen silaturahmi. Begitupun dengan bakso dan bistik daging. 

Friday, June 7, 2019

Generasi Multibahasa


Sebenarnya, perbedaan metode parenting antara orang tua yang satu dengan yang lain memang lumrah terjadi. Tiap generasi pasti memiliki metode yang beda-beda. Nggak ada yang salah, sebab kebutuhan tiap anak juga pasti berbeda.


Bicara soal pendidikan, misalnya. Banyak sekali sekolah swasta didirikan dengan berbagai metode pembelajaran yang menarik minat para orang tua. Ada sekolah berbasis alam, sekolah berbasis internasional, sekolah berbasis agama, home schooling, dan masih banyak lagi. 


The Queen ~


Sebagai orang tua yang sok iyes, sok ideal, dan sok hipster dengan kemampuan spiritual yang masih dangkal banget, saya dan suami punya keyakinan penuh bahwa memilih pendidikan berbasis agama bisa jadi solusi untuk melekatkan nilai-nilai keagamaan dalam kehidupan sehari-hari adek Diba. Sekolah yang mengajarkan agama dengan utuh. Nggak hanya sebatas pada hafalan Al-qur'an atau tau ritualnya saja, tapi juga mengajarkan adek Diba untuk bisa memahami konsep-konsep keagamaan, menghargai keragaman, terbiasa berkompetisi dengan berani, sehingga adek Diba tumbuh dengan budi pekerti dan akhlak yang baik. Punya kemampuan multibahasa itu lebih baik :)


Thursday, May 30, 2019

Pembentukan Karakter Bukanlah Seperti Restoran Cepat Saji


Ada dua jenis manusia yang kurang saya sukai, yaitu orang-orang yang sering membuang sampah tidak pada tempatnya dan orang-orang yang menutup diri dari kebenaran. 


Orang-orang dekat saya paham bahwa saya seorang CLEAN FREAK. Iya, persoalan sampah dan rendahnya kesadaran sebagian orang untuk menjaga kebersihan seringkali membuat saya terganggu. Padahal, pesan-pesan moral kemanusiaan dan mandat untuk menjaga kebersihan juga jadi bagian penting isi Al-qur'an. Sayangnya, masih ada orang-orang yang menganggap masalah kebersihan itu bukan bagian dari integral keimanan.


Source : Pinterest


Di ruang tunggu bandara, misalnya. Beberapa kali saya kedapatan duduk bersebelahan dengan orang yang enggan membuang sampahnya sendiri setelah nyemil atau minum hanya karena buru-buru boarding. Meskipun bukan urusan saya, saya langsung auto bete'. Walaupun ada petugas kebersihan, tapi itu kan sampahnya sendiri. Sesusah itu kah buang sampah di tempat yang semestinya ? Padahal, nggak sulit kok menemukan tempat sampah di ruang tunggu bandara. 


Jangankan ruang tunggu bandara yang jelas-jelas di luar rumah, saya pun sering menemukan orang-orang yang meskipun di rumahnya sendiri, terbiasa menumpuk sampah. Karena saya tipe orang yang nggak toleransi sama sekali terhadap segala hal yang disorganized, apalagi itu rumah saudara atau keluarga sendiri, saya nggak akan segan-segan untuk turun langsung membersihkan dan merapikan. Nggak peduli seberapa penting perasaan si pemilik rumah. 


Membuang sampah sembarangan itu faktor KEBIASAAN yang tanpa sadar sering dilakukan. Kebiasaan yang dianggap sepele, tapi menunjukkan bagaimana KARAKTER kita yang sebenarnya. Padahal, sejak SD kita semua sering dicekoki dengan slogan "jangan buang sampah sembarang". Tapi realitanya, slogan itu kerap bertentangan dengan kehidupan kita sehari-hari. Kalo sudah begitu, ya moon maap, Bapak, Ibu, pembentukan karakter memang bukanlah seperti restoran cepat saji. Nggak bisa instan. Membentuk karakter itu butuh proses panjang dan peran serta orang-orang sekitar. Ketika karakter itu sudah terbentuk, biasanya akan sulit diubah. 


Begitu pula orang-orang yang menutup diri dari kebenaran. Intinya, ya, sama. Tapi, sekedar mengingatkan. Barangkali kita lupa. Bahwa kebenaran datang dari Yang Maha Kuasa. Bukan dari pikiran kita. Apalagi menilai kebenaran dan kebaikan seseorang hanya karena ia sudah lama tinggal di dunia. Sehingga kita seringkali abai terhadap perasaan orang-orang yang sebetulnya punya niat baik. Hanya demi menjaga perasaan orang-orang yang kita hormati, orang-orang yang kita anggap benar.


Well... Ketika kita sudah secara otomatis membuang kemasan bekas makanan dan minuman di tempat sampah sesaat sebelum boarding time, ketika kita tanpa diperingatkan langsung membawa keluar sampah sisa makanan atau minuman setelah nonton bioskop, ketika kita nggak menyerobot antrean orang lain, ketika kita tidak abai terhadap perasaan orang-orang yang sebetulnya punya niat baik, ketika kita secara sadar melakukan hal-hal sepele yang dianggap nggak penting oleh sebagian orang. Tapi, tetap kita lakukan karena kita sadar itu tindakan yang benar, maka buat saya itulah manusia yang berkarakter.


Btw... saya juga bukan orang yang auto benar, siiiih. Tapi, saya punya harapan besar, moga kita nggak butuh proses yang panjang untuk menyadari. Sebab, sebaik-baiknya manusia yang berkarakter adalah mereka yang benar-benar sadar, memahami, menjalani, dan nggak menutup diri dari kebenaran ~

Tuesday, May 14, 2019

Minimalis itu Tentang Belajar Memaknai Value


Kebanyakan dari kita lebih tertarik membicarakan hidup seseorang dari parameter kepemilikan. Sudah punya rumah, belum ? Sudah punya mobil, belum ? Eh udah beli iPhone terbaru, belum ? Haaah... punya jet pribadi ? So, berapa aset kekayaan bersih yang lo punya ? Oh wooow ~


Sama seperti beberapa waktu lalu ketika adik saya yang paling bungsu melontarkan pertanyaan menggelitik "warna angin tuh apa, sih, mbak?" Pertanyaan-pertanyaan lucuk yang sebetulnya gak nampak sedikit pun faedahnya. Seakan-akan, makin banyak harta benda yang kita punya, maka bahagia kita. Seolah-olah, uang dan harta benda yang melimpah satu-satunya sumber bahagia.






Bagi saya, sepatu bukan hanya sekedar alas kaki, tapi juga investasi. Sudah seperti barang seni yang diburu dan dikoleksi oleh para penggemarnya. Di usia muda, saya gemar sekali berburu sepatu. Udah out of control banget lah. Ada lebih dari tiga puluh pasang sepatu dan sandal dari berbagai brand yang saya punya. Asal saya suka, pasti saya punya.