Monday, January 29, 2018

Tentang Ruang Sederhana Untuk Bertumbuh


Aku percaya, bahwa sosok orang tua ada dalam diri kita semua. Dua sosok yang selalu memastikan hal sekecil apa pun pada kita berada dalam rel-nya dan menghendaki kehidupan kita berjalan sempurna. Kita tumbuh bersama doktrin yang mereka tanamkan dan impian yang kita pelihara.


Meski ia tak pernah sekali pun membicarakannya, kami tahu, Ayah ingin menemukan masa kecilnya kembali. Membangun rumah kecil dan membiarkan halamannya tetap luas. Bukan rumah minimalis modern ala-ala Amerika, Eropa atau sejenisnya. Tak muluk-muluk, hanya sebuah rumah ukir Limasan serba klasik, etnik, tradisional, tanpa banyak pintu, dengan halaman yang lapang.



Yang ternyata impiannya itu sejalan dengan impian suami saya. Pantas saja kami berjodoh ! Hahahaaa... nggak gitu, deng :)





Monday, January 22, 2018

Memberi Reward Untuk Diri Sendiri


Ada momen dimana kita ngerasa senang saat orang lain berlaku baik ke kita. Walopun dengan hal kecil, efeknya ke kita bisa besar banget. Ehm, tapi kita nggak bisa berharap orang lain untuk terus berbuat baik ke kita, kan ? Daripada menunggu, ada baiknya meluangkan waktu untuk menghadiahi diri.


Bagi saya, menghadiahi diri bukan perkara mementingkan urusan pribadi. Melainkan bentuk apresiasi atas usaha dan kerja keras yang sudah saya lalui. Berusaha mentreat diri sebaik mungkin. Memberi penghargaan untuk tubuh dan pikiran yang udah bekerjasama mewujudkan maunya saya. Bukan hanya ketika berhasil mencapai goals yang saya punya, tapi juga ketika hasil yang dicapai ternyata jauh di bawah ekspektasi saya.








Nggak harus menghadiahi diri dengan barang-barang branded, kok. Barangkali hal-hal sederhana ini bisa jadi pilihan untuk menghadiahi diri dengan lebih bijak :


  • Open Minded
Kita paham, manusia memang nggak diciptakan untuk hidup statis. Ada sisi hidup yang manis dan ada yang pahit. Ada kerja keras yang berhasil dan ada yang gagal. Saya rasa orang di luar sana pasti pernah ngerasain yang namanya 'gagal', apapun bentuknya. Begitu pun saya. Ada harap yang harus pupus, ada mimpi yang harus tenggelam. Saat itu saya hanya berpikir gimana cara agar saya ikhlas. Saya harus bisa menumbuhkan tunas baru. Saya nggak boleh fokus disitu-situ aja. Saya harus berdamai dengan diri sendiri dan membuka diri dengan hal baru.



Pikiran yang terbuka membawa saya pada sudut pandang baru untuk evaluasi diri. Ketika kita gagal dengan satu impian, kita tetap akan jadi manusia yang bertumbuh dengan impian lain. Kita akan tetap belajar memahami impian, memberi ruang untuk impian, belajar bersama impian, dan siap berjuang demi impian. It could be something that helps us evolve as a person. Never ending learning process inilah yang mengarahkan kita untuk memilih jalan hidup seperti yang kita inginkan.



  • Commited to Always Doing Good

Pemberian terbaik yang saya lakukan bagi orang lain selama hidup akan jadi 'bekal' perjalanan paling indah yang bisa saya beri untuk diri sendiri. Barangkali saya termasuk manusia yang gampang banget dibuat bahagia. Cukup dengan melakukan berbagai laku sederhana seperti menjaga jadwal makan, makan bareng sahabat, merapikan dan mempercantik rumah, belanja di pedagang pasar tradisional tanpa menawar, menyiapkan makanan terbaik, menyapa tetangga tiap kali bertemu, mengunjungi keluarga, memaafkan orang lain atas kesalahan yang terjadi di masa lalu, dan nggak lupa untuk mengucap terima kasih. Berusaha komit untuk selalu berbuat baik hingga kelak saya bisa menjawab bagaimana hidup saya berarti.



  • Bough Some New Books
Orang-orang terdekat saya tau kalo saya adalah orang yang impulsif terhadap satu hal : belanja buku. Pernah saya ke toko buku, mengambil 15 buku sekaligus dan menghabiskan nggak kurang dari 2 juta rupiah untuk itu. Saya butuh buku itu dan saya membelinya. Tapi juga kadang saya nggak punya alasan sama sekali saat belanja buku tertentu. Yaaa karena bagi saya, kita nggak perlu alasan khusus ketika menghabiskan sejumlah uang untuk sesuatu yang bisa kita wariskan. As simple as that :)



  • Be Thankful For Everything We Have & We Don't Have

Katanya, gagal tuh mendewasakan. Barangkali itu benar, se-nggaknya benar bagi saya. Apapun kegagalan yang terjadi dan segala hal saya miliki saat ini, itulah yang membentuk diri saya. Suami, keluarga, dan sahabat yang saya pilih menjadi tempat untuk mempercayakan banyak cerita. Dan apapun yang nggak bisa saya punya, saya anggap itu sebagai salah satu bentuk kasih sayang dan penjagaan diri saya oleh Yang Maha Kuasa. Tapi, kita nggak perlu gagal dulu kan untuk jadi dewasa. Pokoknya, banyak-banyak berterimakasih aja :)




Semoga kita nggak pernah lupa untuk berterimakasih pada diri sendiri, yaaa ~