Tuesday, December 9, 2025

Idealis Di Tengah Dunia yang Pragmatis

 

Selama ini, saya selalu denial saat salah seorang teman dekat bilang bahwa saya adalah seorang idealis. Saya baru sedikit bisa menerima label idealis itu pada saya setelah ngobrol dengannya lebih dalam. Sebab, dalam benak saya, justru saya merasa diri ini egois 😁




"Kamu tuh selalu berpegang teguh dan berjalan pada nilai-nilai yang kamu percaya, walaupun pemikiran atau pilihanmu itu terasa kurang realistis di jaman now, berbeda sangat dengan pilihan kebanyakan orang..."

"Kamu dengerin orang lain dan paham betul pilihan mereka, tanpa mencela pilihan mereka, tanpa memaksakan pilihanmu ke mereka, tanpa bikin mereka menyukai pilihanmu, tanpa bikin mereka mengikuti pilihanmu, tapi kamu tetap berada di jalurmu sendiri sampai akhir..."

"Pilihanmu meninggalkan karir impian dan damai-damai aja jadi ibu di rumah, konsisten menulis esai di blog padahal lebih menguntungkan nge-vlog, pilihanmu bersuara di twitter meski kamu nggak tau itu akan terdengar atau nggak, banyaklah pilihan hidupmu yang kurang efisien. Kamu bisa bertanggung jawab atas identitas yang melekat didirimu, itu keren sih. Meski pilihan itu naif dan terlihat aneh..."

"Lebih pilih menghidupkan petualangan padahal depan mata ada jalur aman, hahahaaaa..."

"Kenyataannya, kita nih hidup di dunia yang melihat dan menuntut angka besar dihasil akhir, bukan prosesnya..."

"Dunia ini terlalu pragmatis untuk orang idealis kayak lo. Makanya, orang-orang idealis kayak lo tuh sering dipinggirkan bahkan disingkirkan..."

"Kamu pasti tau, konsekuensi mempertahankan kebenaran adalah menjadi seseorang yang tidak disukai..."


Ya Rabb... saya dibilang naif sama sahabat saya, guysss 😆


Ehm... saya seperti ini barangkali karena saya udah kebal saja, sih. Sudah berdamai apapun pendapat orang tentang saya. Dikritik, dibilang kaku, dianggap nggak fleksibel, tak dianggap menguntungkan, alhamdulillah. Kehidupan ini begitu kompleks, apapun jalan yang kita pilih tetap akan ada yang bersebrangan dan diam-diam tidak menyukai, it's okey. Ambil yang baik, buang saja yang buruk. Entah dianggap idealis, perfeksionis atau apapun itu, bagi saya, ujung dari semuanya adalah tetap komitmen terhadap pilihan.


Saya tak punya panggung, tetapi sistem harus tetap berjalan. Saya tetap punya pilihan untuk terus berproses, tidak curang, berjalan maju apapun peran yang ditakdirkan, siap atas segala konsekuensinya, tidak mengganggu kepentingan atau merugikan siapa-siapa. Dunia ini tempat segala ujian, bukan ? Selama saya masih punya 'ruang pribadi' untuk berdaya dan berkarya, itu sudah cukup. Sebab, pada akhirnya, setiap manusia akan berjalan sendirian. Gapapa sedikit ikut arus, tapi jangan sampai terseret begitu dalam. Berjalan sesuai hati nurani dan ritme diri saja, sebab kita punya hak untuk jujur pada diri sendiri. Diterima ataupun tidak.


Mungkin argumen teman dekat saya ada benarnya, tetapi bisa jadi kurang tepat.


Sebab, setiap manusia pasti memiliki sisi-sisi idealis, perfeksionis dan pragmatis meski bisa jadi akan berakhir realistis. 


Terdengar seperti paradoks, barangkali benar saya hanya egois. Atau ngeyel ? 😬