Sunday, July 26, 2026

Kisah Memotret Makanan

 

Belum terlalu jauh mengenal tetapi selalu ingin terus mencoba...


Barangkali, inilah kalimat paling tepat yang menggambarkan gimana (sejak jaman di Surabaya dulu) saya mulai tertarik memotret sebagai salah satu kesenangan yang menemani hari-hari, khususnya memotret makanan. Diingat-ingat, karena lagi senang-senangnya motret kala itu, saya sering bepergian seorang diri, nongkrong di kafe estetik dan memesan menu yang 'estetik' untuk saya foto.


Tapi, jangan berlebihan bayanginnya. I'm not representable enough to show off my photographic work. Ya Allah, latihannya juga masih maju mundur syantik, hihihiii. Motret seadanya, belum paham penataan apalagi teknik, masih harus rajin berlatih lagi.


Nggak ada tips yang gimana-gimana layaknya profesional. Ini murni hasil berlatih mandiri dengan cara-cara sederhana. Latihan juga seringnya tergantung mood, ya. Karena, jujur, saya hanya ingin memotret makanan dengan bahagia sebagaimana saya bahagia saat makan makanan favorit saya 😁


Lontong Opor, Bolu Pisang Nangka, Brownies, Roti Piz Ketan, Roti Pisang, Pudding Roti


Untuk tool, sampai sekarang saya masih motret mandiri menggunakan smartphone lawas. Sementara untuk properti, saya sudah upgrade menggunakan meja dapur kinclong berwarna putih berbahan granit dan berukuran cukup besar. Properti pendukungnya juga sebetulnya nggak banyak dan hanya mengandalkan barang-barang perdapuran yang sudah ada, seperti toples tupperware wadah kopi dengan warna bright, piring motif dan teko listrik berwarna calm yang cute banget itu. Tapi yang pasti, properti pendukung ini harus selalu dalam keadaan clean. 


Saya suka menata ornamen sebelum mulai memotret. Bagi saya, rapi itu menyenangkan dan melegakan. Apalagi bisa sering motret beragam obyek, cukup menantang. Tapi, jujur, saya lebih percaya diri memotret makanan-makanan favorit. Karena saya lebih nyaman mengandalkan cahaya matahari pagi sebagai sumber cahaya, itulah mengapa saya lebih suka memotret dipagi hari. Hasil dari memotret dipagi hari dengan ornamen-ornamen pendukung ini (in my opinion) cukup membuat tangkapan layar smartphone lawas saya lebih apik. 


Belajar posisi motret juga bermodal intuisi saja. Masih jauh dari sempurna. Hasil fotonya juga belum bisa fokus. Sehingga, untuk komposisi cahaya dan hasil foto yang lebih estetik, saya menggunakan bantuan Canva.


Ehm... satu yang pasti, semakin rajin latihan, jadi merasa sense of art semakin terasah juga. Perlahan seperti jadi menemukan sendiri trik yang apik untuk how to take better and look better in pictures. 



By the way, saya suka memotret keseluruhan obyek dari atas seperti ini






Atau memotret dari sisi sudut seperti ini







Color makes this food look photogenic


Monday, June 22, 2026

SDIT Fatahillah Sukoharjo and The Story Behind

 

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ


Bagaimanakah pendidikan yang tepat itu ?

Sekolah terbaik seperti apa yang anak-anak kami butuhkan ?

Sekolah seperti apa yang pas dan realistis dijalani oleh keluarga kecil kami ?


Bertahun-tahun lalu pertanyaan itu terus kami simpan rapi tetapi terus berputar dalam benak saban hari. Pertanyaan yang berulang kali saya tanyakan pada diri sendiri di tengah kejadian demi kejadian, naik turun, manis dan pahit cerita hidup yang Allah tetapkan untuk keluarga kecil kami. Melewati hari demi hari dengan penuh kekhawatiran sebab pemahaman kami yang sedikit sekali, berharap sepenuhnya pada Allah untuk memberikan jawaban terbaiknya. 


Setelah bertemu, ngobrol dan mengambil ilmu dari beberapa teman yang sudah teruji betul pengalaman hidup, pengetahuan dan pemahamannya. Allah buka pula pemahaman kami dengan hikmah-Nya. Membuat kami pelan-pelan memahami bagaimana memilih sekolah sebagaimana yang anak-anak kami butuhkan.


Sebuah mind mapping : 

❤  Sekolah yang tidak jauh dari rumah

❤  Sekolah yang memiliki keselarasan visi dengan kami

❤ Sekolah yang mengelola seluruh standart pendidikan di dalamnya dengan profesional, bertanggung jawab dan terbuka untuk evaluasi

❤  Sekolah yang mampu menyelaraskan pembelajaran umum dengan nilai-nilai Al-Qur'an dan As-Sunnah 

❤  Sekolah yang mampu menstimulasi pertumbuhan karakter anak-anak

❤  Sekolah yang punya pembiasaan beribadah serta membantu anak-anak menjaga sholat dan hafalannya

❤  Sekolah yang tetap memberi ruang bagi anak-anak untuk menyalurkan minat dan bakatnya

❤  Sekolah yang mengedepankan 'bimbingan' berbasis empati

❤  Sekolah yang membantu anak-anak tumbuh penuh empati, mandiri dan percaya diri

❤ Sekolah yang bisa bersinergi dengan kami untuk anak-anak berproses mencintai ke-Islamannya, menyeimbangkan nilai-nilai akademik dan aktualisasi hidup zuhud


Mengapa kami concern sekali dengan aktualisasi hidup zuhud ini ? Sebab, anak-anak belajar dari apa yang mereka lihat dan dengar. Mereka melewati separuh hari aktif di sekolah sehingga kami berkeyakinan penuh bahwa anak-anak tidak hanya 'menyerap' dari buku-buku yang dibacanya dan apa yang mereka ‘lihat’ di rumah, melainkan juga menyerap dari apa-apa yang disampaikan oleh guru-gurunya, kebiasaan teman-temannya dan gaya hidup di sekitarnya.


Begitu pentingnya aktualisasi hidup zuhud di tengah perlombaan dunia yang tak ada batasnya dan tiada habisnya. Agar anak-anak paham bahwa kesempurnaan dan kekayaan bukanlah standar kemuliaan. Agar anak-anak mampu menjaga diri dari perilaku hidup konsumtif. Agar anak-anak perlahan terbiasa mengendalikan diri dan bijak terhadap setiap anugerah yang Allah karuniakan pada mereka. Agar mereka mampu menempuh jalan kebenaran dan menerima segala sesuatu dengan hati yang selalu merasa cukup. Sebentuk ikhtiar untuk menggapai ketenangan hidup. 


(Baca Juga : Mencintai & Mempertahankan yang Nyaris Hilang)


Ada beberapa pilihan hingga pilihan kami mengerucut pada sebuah sekolah :


Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT) Fatahillah

















Lalu mengintip kembali sebuah janji Allah :


"Barangsiapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar..."


Sudah satu tahun. Alhamdulillah, Dia hadiahkan kepada Diba tempat belajar yang menentramkan dan hangat ukhuwahnya. Sekolah yang mencetak generasi Islam beradab dan berakhlak mulia. Sekolah yang merawat iman serta menanamkan cinta dan keyakinan pada Allah sebagai pondasi ibadah. Sekolah yang mana ustadz dan ustadzahnya menerangkan dengan tindakan dan keteladanan ; dalam akhlak, dalam beribadah, dalam berpakaian Sekolah yang membatasi keterpaparan pada materialisme sehingga siswa jauh dari praktik hedonisme. Minim pertemuan rutin dengan sesama wali murid sehingga meminimalisir interaksi yang tidak mendesak (sebagai orang tua, secara personal saya menganggap ini point penting) 😊


Menyaksikan sendiri bagaimana kehidupan sekolah mereka, seringkali melahirkan evaluasi dan refleksi pribadi. Menyaksikan bagaimana kepercayaan diri dan rasa cinta pada ilmu perlahan tumbuh dalam diri Diba membuat kami tersadar bahwa bukan hanya Diba yang bertumbuh melainkan juga kami orang tuanya. 


Bagi kami, memilih sekolah tidak hanya tentang memilih lingkungan belajar yang berfokus melahirkan manusia berprestasi, melainkan juga memilih lingkungan belajar yang nyaman dimana anak-anak bertumbuh dengan adab, iman, kebijaksanaan, kesederhanaan dan kecintaan akan ilmu. Semoga Allah Ta'ala ridhoi selalu mereka dalam belajar dan menimba ilmu di SDIT Fatahillah hingga mereka lulus nanti.



Informasi SDIT Fatahillah

Alamat     : Carikan, RT.04 RW.04, Sukoharjo, Jawa Tengah

Instagram : sditfatahillah.sukoharjo


Friday, May 1, 2026

Supporting Muslim Halal Store | Sebuah Langkah Kecil 'Muslim Support Muslim'

 

Assalamuallaikum warohmatullahi wabarokatu, sister fillah...

Senang ya bertemu tanggal merah dihari Jumat. Vibes-nya beda aja gitu, xixixi. Oh ya, liburannya pada kemana, nih ? 😉




Pagi tadi, kami berbelanja cemilan anak-anak dan beberapa kebutuhan rumah yang kebetulan memang sudah habis. Karena biasanya kami belanja untuk kebutuhan satu bulan langsung, belanja dalam jumlah banyak, kami suka belanja di store yang menawarkan harga grosir dan banyak promo-promo khusus, eheee. Sebetulnya ada store yang lebih dekat dengan rumah, tapi gapapa deh belanjanya jauhan dikit, karena biasanya sekalian main ke rumah mertua. Ehm, walaupun sebenarnya ini bukan hanya tentang belanja.




Mereka sudah bestie-an banget sama Goro Assalaam sedari kecil


Fruit & Vegetables area. Spot favorite Diba Dipo





Spot favorit bapak-bapak


Beberapa tahun belakangan, kami memahami sebuah pelaksanaan Syariat Islam bahwa sesederhana belanja pun juga butuh ilmu. Tentang hak pembeli dan penjual. Tentang tolong menolong dalam kebaikan dan takwa. Tentang keluarga muslim yang memiliki keutamaan untuk berbelanja kepada sesama muslim ketika mereka memiliki pilihan dan kelonggaran. Bermuamalah di tempat-tempat yang hanya menjual kebutuhan maupun makanan-makanan halal dan menjaga diri dari memasarkan sesuatu yang haram. Berbekal ilmu yang masih sedikit ini, kami mencoba untuk pelan-pelan mengupayakannya.


Seperti bulan-bulan biasanya, kami berbelanja di Goro Assalaam Hypermarket. One of my happy place. Aku suka calm ambience-nya. Memasuki gerbang, kita akan disuguhkan dengan pemandangan parkiran yang luas dan nyaman, entah bagaimana kalau melihat area yang luas bikin bernafas dan bergerak jadi terasa lebih plooong aja gitu. Toiletnya bersih, berada dibagian depan sisi kiri supermarket di dalam bangunan yang sama. 


Ada beberapa toko dan tenan yang menjual gamis-gamis cantik, abaya, dan pakaian-pakaian muslim (anyway... beberapa kali lebaran aku memakai gamis mereka). Penataan display-nya rapi sehingga barang mudah dicari. Ada tenan khusus yang menjual obat-obatan herbal dan madu juga beberapa tenan yang menjual buku-buku Islami. Ada arena bermain anak juga. Beberapa bulan belakangan, mereka punya semacam toko roti sendiri ❤


Goro Assalaam Hypermarket








Sebagai Muslim Halal Store, mereka sudah pasti tidak menjual makanan non halal apalagi minuman beralkohol. Kaleeem... ada pujasera di dalam supermarketnya, ada banyak pilihan makanan, kita bisa mampir isi perut dulu sebelum mutar-mutar belanja. Oh ya, jangan lupa Kartu Member PAS-nya dibawa ketika belanja ya, Sis. Dengan kartu 'ajaib' ini, pelanggan bisa dapat reward point yang kalau udah terkumpul banyak bisa ditukarkan dengan hadiah cantik dibagian informasi. Saya paling sering dapat voucher belanja dan biasanya saat itu juga saya langsung gercep belanjakan kembali, mumpung masih 'fresh' 😁


Bakery Goro Assalaam


Line kasirnya banyak. Ada pramuniaga laki-laki dan perempuan. Pramuniaga perempuan semuanya memakai hijab, tak ada wajah jutek apalagi respon judes. Yang bikin betah, tidak ada alunan musik berlebihan. Selama bertahun-tahun belanja di sini, seramai apapun momennya, khususnya menjelang lebaran, belum pernah sampai berdesak-desakan. Ada beberapa kursi panjang yang disediakan untuk menunggu atau beristirahat sejenak. By the way, saya belum pernah bertemu sekalipun dengan customer yang berpakaian serba irit di sini, eheee. Jadi, pandangan terjaga mandali, insya Allah 😊




Di area depan supermarket & di dekat area parkir, ada tenan-tenan kecil memanjang yang menjual berbagai macam snack dan minuman. Habis belanja, mampir jajan di sini juga asik.


Yang membuat supermarket ini berbeda dan istimewa, mereka juga mengupayakan dan menjaga syiar-syiar Islam. Ada sebuah Masjid besar yang 'hidup, Masjid Ibadurrohman namanya. Berada dalam satu kompleks dengan supermarket, yang mana masjid ini aktif melaksanakan sholat berjamaah agar kita-kita yang sedang berbelanja di sini pun tetap bisa menjaga waktu sholat. Masjid ini juga aktif mengadakan kajian, semoga someday bisa join. Sisterfillah nggak usah khawatir, kalau butuh uang tunai, ada fasilitas ATM di area dekat Masjid. Ada beberapa warung makanan dan pujasera juga, barangkali jamaah laper, eheee. Mereka juga seringkali mengadakan event ; ada event talk show, event mewarnai untuk anak-anak, event bazar dan event tahunan paling spektakuler yang hadiah utamanya umroh, Siiisss. Masya Allah ❤


Ya. Inilah upaya dan langkah kecil kami. Berbelanja di Muslim Halal Store, Goro Assalaam Hypermarket. Supermarket halal dengan vibes modern ❤


Dengan berbelanja pada pedagang muslim atau berbelanja di Muslim Halal Store (baik store besar atau kecil), harapannya, kita bisa mendukung sesama Muslim untuk dapat menunaikan kewajiban membayar zakat. Sebentuk upaya saling mendukung dan saling menjaga sesama muslim dari 'kekurangan' yang bisa melemahkan hati, jiwa dan raga.


Sebab, logikanya begini. Semakin besar keuntungan yang diterima oleh seorang pedagang muslim atau sebuah Muslim Store, semakin banyak 'harta' yang dimilikinya, maka akan semakin mudah beramal, maka akan semakin besar juga zakat yang akan mereka bayarkan. Yang mana, zakat tersebut akan sangat membantu saudara-saudara muslim kita lainnya yang berhak menerima zakat. Ibarat kata nih ya, semakin lo kaya, (semestinya) kekayaan lo akan semakin membawa maslahat bagi muslim lainnya. Untuk pengembangan dakwah, pendidikan, kesehatan, kesejahteraan pegawai dan kebaikan-kebaikan lainnya.


Apakah harus belanja ke store atau supermarket ? Nggak harus, kok. Berbelanja pada pedagang Muslim kecil yang kita kenal justru lebih diutamakan. Kalau barang yang kita cari nggak ada di sini bagaimana ? Yaaa silakan untuk cari di tempat lain. Tapi, Goro Assalaam lengkap bangeeet, apa aja ada. 


Apakah Muslim Support Muslim harus dengan cara berbelanja ? Enggak harus, yaa. Banyak sekali jalannya. Kita hanya diminta untuk bertakwa sesuai kesanggupan. Let's turn Taqwa into Action ~



For More Info, Visit Their :

Website : assalaammarket.com

Instagram : assalaamhypermarket

Wednesday, April 22, 2026

Penyempurna Kebaikan itu Bernama Hati Nurani

 

Pak Blangkon adalah Ketua Asosiasi Sobat Raket di sebuah Kompleks Menengah bernama Konoha Asri Village. Dalam tongkrongan Sabtu malam sobat begadang kali ini, warga melihat ia hadir membawa bahasa tubuh yang sedikit lebih gusar. 





Dalam banyak situasi, ia sebagai Ketua Asosiasi Sobat Raket Konoha Asri Village, kerapkali di hadapkan pada pilihan-pilihan yang tidak mudah. Dalam hal mengambil keputusan, misalnya. Ini baru lingkup kecil, bagaimana mengurus negara, pikirnya.


Ada tugas yang harus tetap berjalan, ada fungsi yang harus bergerak sesuai posisi dan dieksekusi sesuai batas maksimal kemampuan. Ada kepentingan yang perlu dipertahankan tetapi tetap mengupayakan segalanya terjaga dalam keseimbangan. Pada tahap ini, ia kerapkali mengakalinya dengan ekspansi yang lebih halus. Sampai di sini, semuanya masih mandali, aman terkendali. 


Ia tak pernah menyangkal bahwa naluri alami manusia adalah mempertahankan apa yang dibutuhkan dari sesuatu yang sudah didapatkan. Dia sadar betul, pada banyak waktu, ambisi bisa menguasai diri siapa saja. Disaat yang sama, bersyukur kebaikan hati masih sedikit banyak terjaga. Pada tahap ini, godaan untuk melakukan hal yang melanggar nurani dan kelurusan hati saling berkejaran. Ketika godaan itu telah menguasai, cepat atau lambat ketimpangan bisa terjadi. 


Tetapi, ketimpangan dan keseimbangan, kebaikan dan keburukan kerapkali bersinggungan dan saling mengisi. Ada kalanya, keseimbangan yang diupayakan sebaik-baiknya, berujung pada habisnya energi dan waktu untuk diri sendiri. Sebaliknya, sebentuk ketimpangan bisa membuat diri memiliki pemahaman yang mendalam tentang kebaikan dari mundur selangkah.


Malam itu, Pak Blangkon ingat sebuah Sabda Nabi dari Hadist Riwayat At-Tirmidzi "Sebaik-baik kalian adalah orang yang paling diharapkan kebaikannya dan orang lain merasa aman dari keburukannya (aibnya terjaga). Dia merenungi kalimat paling akhir.


Lalu dia teringat, bahwa di tengah pilihan-pilihan yang tak mudah, sesungguhnya manusia hanya butuh kelapangan hati untuk berunding, keikhlasan menjalani dan hati nurani sebagai penyempurna kebaikan. Lalu ia tersadar, betapa beruntungnya manusia-manusia yang Allah jadikan ucapan dan perbuatannya sebagai kunci kebaikan. Dan harapannya masih sama. 


Malam itu, tongkrongan sobat begadang berakhir dengan nyemil jadah bakar dan minum jahe bersama. Ada kegusaran yang sedikit terurai. 


Tapi, barangkali ini bukan hanya tentang kegusaran Pak Blangkon ~

Tuesday, March 17, 2026

Dunia Tak Harus Setuju Nilai Dirimu | Catatan Ramadan 1447 H

 

Hati kembali menemukan rasa menentramkan itu kala berjumpa Ramadan. Hari-hari terbaik untuk menepi, mengambil jeda sebentar dan meluangkan waktu untuk kembali lebih dekat mengenal diri.


Nyatanya, kebanyakan manusia tidak benar-benar tau apa yang ia mau dan tak berkeyakinan penuh atas keputusan-keputusan yang akhirnya ia pilih. Terlampau sibuk dan membiarkan hidup let if flow saja. Sayangnya, aku tak pernah sepakat dengan konsep let it flow itu. 


Ramadan, waktu dimana aku ingin mengingat-ingat kembali...




Apa yang sebenarnya aku inginkan dan aku suka ?

Bagaimana sebenarnya nilai hidup yang aku yakini ?

Sudahkah aku jujur dengan nilai-nilai hidup yang aku jalani ?

Mimpi apa yang sedang aku kejar ?

Upaya apa yang sudah aku lakukan untuk jadi lebih baik ?

Sebagai seorang istri dan seorang ibu yang ingin lebih dekat dengan Rabb nya...


Momen kontemplasi Ramadan tahun ini membuatku semakin tersadar. Rasanya tak perlu bersusah payah mencari cara agar mata-mata di luar sana melihat nilai diri kita. Sebab, nilai diri seorang manusia sebetulnya tak hanya terlihat tetapi bisa dirasakan pula oleh orang-orang yang hadir dalam hidupnya. Especially, mereka yang punya kesamaan rasa dengan nilai-nilai yang aku yakini dan jalani. Kalau toh 'nilai' itu tak terlihat, artinya, apa yang mereka cari dan butuhkan tak ada dalam diri ini. Dan itu nggak papa. 


Sebab, kita tetap bernilai bagi mereka yang betul-betul mengenal kita. Orang tua kita, pasangan hidup kita, anak-anak kita, teman terdekat kita, orang-orang di sekeliling kita. Mereka yang bersedia membuka diri untuk mengenal kita.


Aku menyukai kejelasan dan keteraturan. Nyaman berpakaian longgar bersama panjang dan lebar hijab yang dikenakan, especially warna gelap. Tetap rapi dan wangi di momen apapun. Tak perlu sering berinteraksi dengan banyak manusia tetapi tetap bisa membangun kegiatan yang bermakna. Punya waktu spesial untuk bercerita dan mendengarkan cerita orang tua. Punya banyak waktu untuk anak-anak dan selalu nyiapin bekal untuk mereka. Makan makanan sederhana dan disuka. Deep talk bersama partner hidup dan berbagi pengetahuan. Tak berjauhan tapi tetap seru dengan hobi masing-masing. Sholat subuh berjama'ah di masjid full team. Merasakan angin segar dan melihat matahari terbit. Bertemu dengan sahabat shaliha-ku. Belajar psikologi manusia. Dan, aku ingin tetap menulis. Menikmati proses dan tetap menguatkan akar nilai dalam diri. Inilah versi paling jujur tentang tenang yang aku cari.


Dan... Di ramadan ini semua mewujud dengan tenangnya. Prosesnya tak melulu sempurna, tapi aku tetap merasa berlimpah berkah luar biasa. 


Sebab, aku percaya, mereka yang telah menemukan ketenangan dan kebahagiaan saat berproses adalah orang-orang yang punya kemungkinan lebih besar untuk memahami dan mudah menjalani nilai-nilai hidup yang ia yakini.


Ya... dunia tak harus setuju dengan nilai dirinya. Ia akan selalu berterima kasih atas pelajaran dari manusia-manusia yang pernah hadir. Dan, akan ia persilahkan alam semesta menghadirkan manusia-manusia yang sesuai dengan nilai hidup yang ia tawarkan. Atas izin Rabb nya...



Selasa, Hari ke Dua Puluh Delapan, Ramadan 1447 H ~

Monday, January 26, 2026

Tidak Membenci Hujan

 

Langit tampak gelap dan terlihat lebih mendung dari biasanya, padahal sudah pukul enam tiga puluh pagi. Ada semacam perasaan yang membuatku jadi sedikit lebih gloomy. Aku tidak suka pagi dengan matahari yang bersembunyi. Aku tidak nyaman dengan rintik kecil yang membesar dan liar. Tidak, aku tidak membenci hujan. Aku hanya tidak menyukai timing-nya.




Mereka bilang, hujan itu menenangkan. Mereka bilang, hujan bisa membawa mereka menari-nari bersama memori. Mereka bilang, mereka jadi tak perlu sedih sembunyi-sembunyi. Mereka bilang, hujan itu melegakan. Sementara aku, mengapa aku tak selalu bisa menikmati hadirnya hujan ? Mengapa tiap kali hujan hadir aku justru merasa khawatir ? Apalagi akhir-akhir ini hujan tumpah dengan tak ramah.


Ia bukan lagi air jernih yang jatuh tenang dari langit. Ia seolah tak lagi turun sebagai berkat. Aku tidak nyaman dengan hujan yang tak kunjung reda. Aku memang tidak menangis, tapi sulit rasanya menjelaskan bahwa aku sedih melihat banjir dan longsor dimana-mana. Sementara di tempatku, air hujan mengubah jalanan menjadi genangan. Berkali-kali ku biarkan deras hujan menusuk wajah dan kulitku sambil melaju agar segera sampai ke rumah. Dalam perjalanan, nyaris terjatuh & terpeleset karena lubang yang tertutup air. Mantol tidak sepenuhnya bisa memayungi. Mereka menyuruhku "mobilan saja". Mereka menyuruhku berhenti membenci hujan. Tidak, aku bilang aku tidak membenci hujan.


Tapi, bolehkah aku jujur atas satu-satunya hal yang aku sukai saat hujan ? Hujan membuka pintu-pintu langit untuk mempercepat sampainya doaku. Aku merasa Dia lebih dekat kala hujan. Sehingga hati mudah tenggelam dalam tafakur.


Tidak, aku tidak membenci hujan. Sebab, aku menyukai hujan yang baik, hujan sedang tanpa angin kencang, agar aku bisa melihat padi yang berbunga dan membentuk bulir ~

Sunday, January 11, 2026

Alarm Itu Bernama Intuisi

 

Entah bagaimana mulanya, perempuan itu merasa punya kecenderungan untuk cepat membaca tanda dan pola. Seolah sedang membaca jalan cerita di depan mata, sebuah cerita yang samar, tetapi ia tahu kemana arah cerita itu akan bermuara. Sesuatu yang sebenernya tak ingin dia ketahui, tapi tetap saja alarm itu berbunyi.





Awalnya, ia mengira perasaan itu hanyalah sebuah asumsi acak sebab kepekaan hatinya. Barangkali ia hanya sedang merasa-rasa. Ya, perempuan selalu menggunakan perasaannya, bukan ? Baper, katanya. Kenyataannya, alarm itu berbunyi tidak dengan tiba-tiba dan bersuara dengan cara tak terduga. Awalnya terdengar bunyi pelan, ada pola yang berulang. Ada rangkaian kejadian yang saling bertaut. Ia amati, ia telusuri, lalu ia rangkai pola demi pola itu dengan apa yang ia ketahui. Yang semula samar lama-kelamaan menjadi terang. 


Sinyal yang kerapkali ia kirimkan pula untuk orang-orang terdekatnya. Padahal, dirinya sendiri justru seringkali mengabaikannya sampai-sampai alarm peringatan itu tak selalu berhasil menyelamatkannya.


Ya... Dunia terlalu bising baginya. Ia tahu motif tersembunyi dari topeng-topeng manusia bumi. Ia bisa melihat dualisme makna dari sikap manusia. Ia memahami setiap perkataan atau pertanyaan dari nama-nama baru yang hadir dalam hidupnya. Ia dengan cepat membaca pola, bahasa tubuh, mimik wajah, reaksi emosional mereka. Ia dengan cepat mengetahui apakah energi mereka akan selaras atau tidak meski belum ada interaksi yang berkelanjutan. Ia bisa melihat akan bagaimana relasi baru itu akan berujung. Apakah itu overthink ? Ia rasa bukan.


Sampai akhirnya kompas itu memberinya petunjuk dan membawanya pada sebuah jalan hingga kebenaran itu satu per satu terhampar di depan mata ~



اِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَۙ

(Tunjukkanlah kami ke jalan yang lurus...)

Tuesday, December 30, 2025

2025 Reflections : Understanding 'This is Enough'

 

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ




It's been a tough year for everyone but there's still a lot to be thankful for & I hope we still grateful for the life lessons we learned...


❤  Level up energy and spiritual protection with improving and strengthening our relationship with Allah Ta'ala may not eliminate our hardship but it will helps us stay stronger. We may lucky enough to meet sincere and caring people in hard times, but recognize our limitation only for Allah's forgiveness and blessing will purify soul and improve our focus, Insya Allah. Isn't that enough to depend on with Allah in every circumstance ? 


❤ Realizing 'this is enough'. Simplify everything, focus on what we can control and understanding when enough is enough. It given us more self control and bring us more peace even in hard days. It makes me and my husband more easy to create mindful decisions about how to respond anything happened in life.


❤  Completely honest with ourselves. Being honest means that we brave of the consequences that come with honesty. Because of this, me and my husband choose peace over people. Remember, there's always antagonist role in life, hence we enough with just a few of people whom we choose to open, to spend time with and 'deserve' our attention. 


❤ Being comfortable with silence but still adapted with discomfort. Accept everything that we don't fully fit in. With someone, a social group or a situation. Accept that not everyone will comfort with us. Alhamdulillah, I'm blessing with this feeling.


❤  Forgiveness. It takes strong heart to do. It's better to forgive from distance, even if they haven't asked for it. You don't even have to tell them. Just pray for them hopefully they will learn, grow and be better from their mistakes.


❤ Bismillah for every opportunities in life. But still be careful. Maybe it comes once in a lifetime. Maybe it is right there awaiting for us. Maybe it will give us a life lesson. All we can do is trying and praying. Everything happen for a reason, right ?


❤  In today's fast-paced world, I think everyone should have a passion. Something we like and develop. Loving ways to reconnect with ourselves. Writing could brings out all the hidden emotions and the introverted part of me. Re-read more book enjoy my day. It would feel, the time has slow down and the world has become calm. It's a self-care, it's important and that’s more than enough. 


❤ Never underestimate the power of 'being here'. When the body and soul being here with them. Worship, play, study, eat, sleep, read a book, doing an imperfect thing, happy and cry with my kids. Not just takes time but makes time for them. 


❤ Change isn't really that scary. New place, new environment, new circle, new beginning. There should be some people who uncomfortable with the presence of new people. It's normal and just a part of life. 


❤  Mindfully let go. I prefer to protect my energy from over think. There still people will not like me, will makes me disappoint, disrespect and treat me unpleasantly. Everywhere. Understand them, maybe they just don't understand me and struggle to feel enough with their life.


Alhamdulillah for 2025, Bismillah for 2026 and the next years after ~

Thursday, December 25, 2025

Jejak Warna dan Karya dari Sekepal Tangan Kecil

 

She really love to draw and coloring since she was very little. Until her mom realize, it's not just drawing and coloring. She decide what kind of life she want to live. Everything she draw and color, she doing it only for herself. Because the creative process itself enough to makes her happy 😊


Banyak hal baru dialaminya setiap hari, beberapa di antaranya menjadi sesuatu yang sangat ia sukai ❤


Hasil Karya Kombinasi Warna (1st Grade Student of SDIT Fatahillah)


Alat warna khusus belajar di rumah



Awalnya, saya mengira dia sama seperti anak-anak lain yang memulai dunianya dengan gambar dan warna. Si anak kicik ini suka mengambil sendiri buku gambar, pensil dan crayon yang saya letakkan di tas kecilnya. Sengaja saya kumpulkan menjadi satu di dalam tas kecil agar ia lebih mudah mengambilnya sendiri. Dia sering minta digambarkan sesuatu untuk kemudian ia beri warna. Karena makin lama gambar yang dia minta semakin sulit untuk saya gambar manual, tapi saya nggak kehabisan ide untuk mencetaknya di atas kertas putih 😁



Masih bisa gambar manual 😁


Lalu, saya mulai menyadari kegemarannya menggambar dan mewarnai ketika usianya 2,5 tahun. Belum, dia belum sekolah kala itu. Sejak saat itu, hampir setiap minggu, kami punya kegiatan baru : berbelanja alat gambar dan alat warna untuknya. 


Kanvas pertamanya adalah colouring book. Setiap hari dia belajar mewarnai. Semakin lama dia mulai mengerti kalau penggunaan dan cara memperlakukan crayon, pensil warna dan cat air itu berbeda. Mulai dari satu warna, dia mulai memahami kalau sebuah gambar bisa menjadi lebih cantik dengan mencampur warna. Yang awalnya masih kotor, kini hasil mewarnainya semakin bersih dan rapi.


Yang awalnya dia coba menggambar garis lurus tanpa penggaris, lama-lama dia mulai bisa meniru gambar. Dia mulai dari menggambar bentuk bangun ; segitiga, persegi, lingkaran. Kemudian dia menggambar dari hal-hal yang ditangkap oleh matanya, gambar-gambar sederhana ala anak kecil saja. Semakin ke sini dia mulai semakin pede membuat gambar dari imajinasi dan goresan tangan kecilnya sendiri. 


Awal Mula Mewarnai (masih berantakan 😂)


TK A mulai meniru gambar dan mewarnai sedikit lebih rapi


Video Proses Menggambar dan Karyanya yang lain ada di Instagram, ya 😉



Sebuah Visual dan Cerita di Baliknya (In Frame : Vespa Ayahnya)


Eksperimen Kombinasi Warna Primer (Part 2)


Eksperimen Kombinasi Warna Primer (Part 3)


Entah mengapa, setiap kebosanannya berakhir jadi sebuah gambar dan warna. Corat coret walau hanya 10 menit. Kalau tak diingatkan untuk istirahat, lengah dikit, sudah penuh saja buku gambarnya. Buku tulis sekolahnya pun penuh dengan gambar 😁 Apalagi di sekolahnya sekarang, ada mata pelajaran 'project' yang diisi khusus dengan kegiatan menggambar dan mewarnai yang hasilnya selalu dibawa pulang dan dia simpan rapi (too much kalau semua harus di post di sini). Studying while relaxing. Saya bilang ini program yang keren banget. Because relaxing could helps student learn better 😉


Terlalu jumawa kalau saya bilang dia berbakat. She's just 1st grade of primary school's student. Belum pernah ikut kompetisi apapun. Tapi, saya tau dia punya kemampuan itu dan dia yakin practice makes perfect. Dan itu yang selalu konsisten dia upayakan. Yang paling penting, dia happy dan sangat mencintai karyanya, sesederhana apapun hasilnya. 


Happy practice always, Faradiba ❤

Tuesday, December 16, 2025

The Poetry : What If...

 

I believe, marriage is the best place for us to grow, to feel enough...





What if we break the common marriage rules, about having a quality time at least date outside once a week and we don't. What if we just loves to stay at home and give time for each other. Is our marriage look unhealthy and unhappy ? 😊

What if I'm a mediocre full time mom who rarely makes real food for kids ? What if I more often buys bread and sometimes just make fried rice for them ? Am I a bad mom ? 😊

What if I'm a mediocre wife who contributed nothing to earn something ? What if I’m a wife who doesn't care about decorate our home with fancy things, whose home just empty but comfy ? ❤

What if till now we haven't give any beautiful experiences to our parents but they still afford to give us a beautiful life ? Are we not mature ? ❤

What if I don't really feel need to have a group of 'mommy friends' to play dates or hangout together with them ? What if I just only have one or two friend but having two-way street deep relationship with them ? Is it bad that I want to be a different mom ? 😊

What if I just love to write and read at home for my 'me time' ? Am I a boring person ? 😊

What if I choose to fight for my beliefs openly or quietly but sometimes still make mistakes ? 😇

What if I'm choosing peace over people and prefer to decline any 'offer', to tons of solitude, to have a comfortable rest, to save my energy in order to more focus on my little family and found peace in worshipping Allah ? Am I not wise ? 😊


Let that be enough, feel enough. Alhamdulillah ❤

Tuesday, December 9, 2025

Idealis Di Tengah Dunia yang Pragmatis

 

Selama ini, saya selalu denial saat salah seorang teman dekat bilang bahwa saya adalah seorang idealis. Saya baru sedikit bisa menerima label idealis itu pada saya setelah ngobrol dengannya lebih dalam. Sebab, dalam benak saya, justru saya merasa diri ini egois 😁




"Kamu tuh selalu berpegang teguh dan berjalan pada nilai-nilai yang kamu percaya, walaupun pemikiran atau pilihanmu itu terasa kurang realistis di jaman now, berbeda sangat dengan pilihan kebanyakan orang..."

"Kamu dengerin orang lain dan paham betul pilihan mereka, tanpa mencela pilihan mereka, tanpa memaksakan pilihanmu ke mereka, tanpa bikin mereka menyukai pilihanmu, tanpa bikin mereka mengikuti pilihanmu, tapi kamu tetap berada di jalurmu sendiri sampai akhir..."

"Pilihanmu meninggalkan karir impian dan damai-damai aja jadi ibu di rumah, konsisten menulis esai di blog padahal lebih menguntungkan nge-vlog, pilihanmu bersuara di twitter meski kamu nggak tau itu akan terdengar atau nggak, banyaklah pilihan hidupmu yang kurang efisien. Kamu bisa bertanggung jawab atas identitas yang melekat didirimu, itu keren sih. Meski pilihan itu naif dan terlihat aneh..."

"Lebih pilih menghidupkan petualangan padahal depan mata ada jalur aman, hahahaaaa..."

"Kenyataannya, kita nih hidup di dunia yang melihat dan menuntut angka besar dihasil akhir, bukan prosesnya..."

"Dunia ini terlalu pragmatis untuk orang idealis kayak lo. Makanya, orang-orang idealis kayak lo tuh sering dipinggirkan bahkan disingkirkan..."

"Kamu pasti tau, konsekuensi mempertahankan kebenaran adalah menjadi seseorang yang tidak disukai..."


Ya Rabb... saya dibilang naif sama sahabat saya, guysss 😆


Ehm... saya seperti ini barangkali karena saya udah kebal saja, sih. Sudah berdamai apapun pendapat orang tentang saya. Dikritik, dibilang kaku, dianggap nggak fleksibel, tak dianggap menguntungkan, alhamdulillah. Kehidupan ini begitu kompleks, apapun jalan yang kita pilih tetap akan ada yang bersebrangan dan diam-diam tidak menyukai, it's okey. Ambil yang baik, buang saja yang buruk. Entah dianggap idealis, perfeksionis atau apapun itu, bagi saya, ujung dari semuanya adalah tetap komitmen terhadap pilihan.


Saya tak punya panggung, tetapi sistem harus tetap berjalan. Saya tetap punya pilihan untuk terus berproses, tidak curang, berjalan maju apapun peran yang ditakdirkan, siap atas segala konsekuensinya, tidak mengganggu kepentingan atau merugikan siapa-siapa. Dunia ini tempat segala ujian, bukan ? Selama saya masih punya 'ruang pribadi' untuk berdaya dan berkarya, itu sudah cukup. Sebab, pada akhirnya, setiap manusia akan berjalan sendirian. Gapapa sedikit ikut arus, tapi jangan sampai terseret begitu dalam. Berjalan sesuai hati nurani dan ritme diri saja, sebab kita punya hak untuk jujur pada diri sendiri. Diterima ataupun tidak.


Mungkin argumen teman dekat saya ada benarnya, tetapi bisa jadi kurang tepat.


Sebab, setiap manusia pasti memiliki sisi-sisi idealis, perfeksionis dan pragmatis meski bisa jadi akan berakhir realistis. 


Terdengar seperti paradoks, barangkali benar saya hanya egois. Atau ngeyel ? 😬

Saturday, December 6, 2025

Mencintai dan Mempertahankan yang Nyaris Hilang

 

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ


Jumat 15 Jumadil Akhir 1447 Hijriah, menjadi penanda selesainya pelaksanaan Asesmen Sumatif Akhir Semester satu di sekolah Diba. Ada perasaan lega bercampur haru. Rasa-rasanya baru kemarin dia belajar di Al-A'raaf dan sekarang sudah berjalan satu semester di Fatahillah.


Melihatnya setiap hari bertumbuh menjadi pribadi yang berbeda yang insya Allah semakin baik. Dia yang memulai semuanya dengan penuh keyakinan dan dalam perjalanannya berusaha menempa diri dengan keikhlasan. Sebab, keraguan bukan milik mereka yang bersungguh-sungguh atas apa yang dicintainya.




... Sungguh telah datang kepadamu cahaya dari Allah dan kitab yang nyata. Dengan kitab itulah, Allah membimbing orang-orang yang mengikuti keridhoan-Nya ke jalan-jalan keselamatan, mengeluarkan mereka dari gelap gulita kepada cahaya yang terang benderang dengan izin-Nya dan kembali pada jalan yang lurus (QS. Al-Maidah ayat 15-16)



Sejak mulai belajar di sekolah dasar, nampaknya ia cukup tertarik dengan pelajaran berhitung. Entah apa yang mengusiknya, ia selalu menuntaskan rasa penasarannya sepulang sekolah. Ia buka kembali bukunya, dia ambil pensilnya sambil dia mainkan jari-jarinya. Tak terlihat seperti beban, biasa saja. Barangkali, baginya matematika itu asyik. Sama seperti menggambar dan mewarnai yang biasa dia lakukan kala mengisi waktu luang.


Tapi, satu hal yang paling membahagiakan dan membuat haru sejadi-jadinya adalah ia tak pernah melupakan hafalannya. Bahkan, tanpa sadar, hafalan itu kerap kali keluar sendiri dari mulutnya. Rasanya penuh syukur sebab ia berada di lingkungan sekolah yang kondusif serta di kelilingi oleh pengampu, ustad ustadzah dan teman-teman dengan tujuan yang sama ; belajar ilmu Dien dan menghafal Kitabullah. 


Alhamdulillah ini adalah tahun ketiganya. Tahun pertama di sekolah dasar dan sekolah memulainya kembali dari awal. Dia seseorang yang cepat mengingat tapi suka tak percaya diri memulai. Surah Al-Fajr', misalnya. Sebetulnya dia sudah hafal dan masih hafal, tapi tetap harus diberi clue awalan untuk memulainya. Dia justru lebih mudah menghafal surah yang jumlah ayatnya sedikit meski bacaan per-ayatnya panjang seperti Al-Bayyinah. Sementara untuk murojaah, dia seperti membuat 'metode'nya sendiri. Dia suka mengulang hafalannya dari surah-surah yang dibacakan oleh ustad ketika berjamaah Magrib dan Isya di masjid (beliau kerap menggunakan surah-surah Wasath Mufhasal). Sebuah 'metode' anak kecil yang baginya menyenangkan dan memudahkan. Dan semester satu ini selesai di surah Al-Ghosyiyah ❤


Tetapi, ia tetaplah anak manis dengan dunianya, ia tetaplah perempuan kecil biasa. Ia tak bisa murojaah sendirian, tak bisa mutqin sendirian, tak bisa istiqomah sendirian. Ada kalanya fokusnya terganggu, keadaan hatinya porak poranda, semangatnya meredup, moodnya terjun payung sampai mara-mara sendiri. Terkadang ia juga kepayahan sebab mengulang ayat berkali-kali tapi tak kunjung lekat dalam ingatan. Mempertahankan yang nyaris hilang. Patah hatinya nembuuuus sekali. Maka, akan selalu menjadi tugas orang-orang terdekatnya untuk terus mendampinginya, menguatkannya, mengevaluasi, ikut menghafal bersamanya dan mendukungnya habis-habisan. Agar ia selalu kembali kepada ayat-ayat Allah dan tetap merasakan nikmat hafalan itu dalam hatinya. 


(Baca Juga Kisahnya : Memulai Perjalanan Menghafal)


Tetapi, ini bukan hanya tentang menghafal. Melainkan juga upayanya untuk jatuh cinta berkali-kali dan mencintai dengan kesungguhan hati. Mengimani, memuliakan serta menjaga ayat-ayat suci Al-Qur'an


Dia tak terlahir dari keluarga penghafal Al-Qur'an. Meski saat ini ia memiliki pencapaian sebab karunia Allah, namun jangan bayangkan pula ia seseorang dengan hafalan yang banyak. Ia masih jauh dari kata itu dan banyak yang jauh lebih baik darinya. Tapi, alhamdulillah, semakin ke sini semakin baik. 


Jika ada satu anggota keluarga yang kelak akan menjadi syafaat bagi kedua orang tua dan keluarganya, mudah-mudahan orang itu adalah dia. Dia yang akan menjadi kebanggaan di hadapan Allah Ta'ala yang kelak kembali pulang kepada Rabb-nya dengan bangga pula. 


Semoga Allah jaga selalu hafalannya, Allah jaga akhlaknya, Allah jaga ibadahnya, Allah ridhoi upayanya untuk menjadi bagian dari orang-orang yang menghafal dan menjaga Al-Qur'an. Laa Hawlaa Walla Quwwatta Illaa Billah ~

Tuesday, November 18, 2025

Gelap Terang Dunia Akademisi | POV Biasa dari Istri Seorang Pengajar

 

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ


Hallo, istri dari bapak Arif di sini 😊


Seperti ini kegiatan suami yang bisa terpantau oleh kacamata saya...



❤  Bangun dan mandi. Lalu bikin kopi setelah pulang dari masjid. Sambil minum kopi, buka whatsapp untuk ngecek ada pesan dari mahasiswa dan rekan kerja atau tidak. Balas-balas pesan kalau ada yang perlu dibalas

❤   Ngecek jadwal kuliah

❤   Berangkat ke kampus & ngajar tentunyaaa

❤  Sebagai PA, dia memberi pendampingan ke mahasiswa untuk menyusun rencana studi & memilih mata kuliah, membuka konsul berkala dengan mahasiswa, memberi pengarahan kalau mahasiswa mengalami kendala dalam proses perkuliahan

❤  Sebagai pembimbing dan penguji ya tugasnya mengoreksi proposal atau tugas akhir, mendampingi mahasiswa seminar atau sidang, nguji seminar atau sidang 

❤   Penelitian sepertinya lebih sering mengerjakan berkelompok dengan tim riset yaaa

❤  Pengabdian pada masyarakat. Berupaya ikut memberi kontribusi bagi masyarakat dengan menerapkan ilmu untuk solusi masalah di lingkungan mereka 

❤   Ikut pelatihan, seminar dan sertifikasi 

❤   Bertemu dengan akademisi yang berkunjung ke kampus

❤  Belajar tipis-tipis. Ya donk, pengajar bukan dewa. Dia tetap perlu update materi, apalagi untuk ngajar kelas RPL 😁

❤   Update bahan ajar dan atau kirim bahan kuliah ke mahasiswa

❤   Tugas-tugas lain yang terkait dengan amanah jabatan di kampus


Saya tau dia sibuk dan lelah. Anak-anak juga tau ayahnya bekerja untuk mereka. Tapi, menurut saya, orang paling sibuk justru ialah orang-orang yang diberi kemampuan lebih untuk mengatur waktu luangnya


❤   Scroll medsos untuk lihat video-video komedi 😁 atau video pengembangan diri 😎

❤   Quality time di rumah ortu atau di rumah mertua

❤   Berkegiatan yang berkaitan dengan hobi sambil full recharge energy di rumah saja kala weekend 

❤   Tetap ngeronda, rapat RT, kerja bakti, pengajian atau kegiatan lain bapak-bapak di perumahan 

❤   Di momen tertentu, hangout bareng rekan seprofesi seperjuangan, bersama anak istri

❤   Muter-muter naik vespa sama anaknya sambil jajan tipis-tipis (ini selalu, tidak pernah tidak)

❤   Olahraga tipis-tipis 

❤ Deep talk with his queen : ngobrolin tentang perkembangan anak-anak, ngobrolin kegiatan di kampus, ngobrolin kerandoman tingkah mahasiswa, ngobrolin kebijakan pemerintah terkait pendidikan, ngobrolin iklim akademik yang sehat, ngobrolin perkembangan teknologi sampai review kajian

❤  Tak lupa mengambil jeda untuk diri sendiri


Kami selalu punya waktu untuk ‘sendiri’ meski sedang sama-sama berada di rumah. Terkadang, silent moment adalah salah satu cara kami untuk saling menghargai ketenangan diri masing-masing


Tak ada yang berlebihan. Tak juga banyak menunjukkan bagaimana kesibukannya. Tak membawa pulang lelahnya. Walau barangkali banyak sekali hal-hal berat dalam kepala yang ia pilih untuk disimpan sendiri. Menantang, gelap terang penuh warna warni. Sebab, ia juga manusia biasa terlepas apapun persepsi publik tentangnya.


Semoga ia selalu kuat menjadikan Allah Ta'ala satu-satunya cahaya yang mengatur hidupnya, memantapkan tujuannya, memberi pemahaman kepadanya juga menenangkan qolbunya.


Laa hawlaa walla quwwatta illa billah ~



Thursday, November 13, 2025

Almaz Fried Chicken & Menu Arabic-nya yang Akrab dengan Selera Lidah Indonesia

 

Banyak sekali kebetulan dan keberuntungan hari ini ❤


Lagi pengin banget makan siang dengan menu Arabic food yang sederhana aja. Penginnya menu Arabic yang juga cocok untuk bocil, karena biasanya menu Arabic kan cenderung pedas, ya. Lalu entah kenapa tadi kami melewati Almaz Fried Chicken. Langsung mampir donk 🥰


Mereka punya menu ayam goreng crispy yang semua bocil biasanya suka, ada juga nasi kebuli dan beef burger. Jadilah kami pesan satu porsi nasi kebuli + ayam goreng crispy dada untuk aku, satu porsi ayam goreng crispy paha + nasi putih untuk Dipo, satu porsi beef burger take home untuk Diba. Nggak lupa pesan air mineral dingin dan minuman spesial mereka susu kurma.






Ayam goreng Almaz sebetulnya serupa dengan ayam goreng umumnya, crispy golden brown. Baru akan terlihat perbedaannya ketika disuwir. Bumbu rempahnya merah orange menggoda 😍 Tapi sebetulnya enggak pedas dan cocok banget untuk bocil karena dagingnya juga empuk.


Kalau biasanya nasi kebuli dihidangkan dengan potongan daging kambing, tapi di Almaz pakai ayam goreng crispy dan ada potongan kismisnya. Rasanya tetap okeee dan tetap akrab dengan selera lidah kita. Bociiil approved 😉


Thank you, Almaz ~

Thursday, November 6, 2025

The Fireworks and The Beautiful Rises Moon

 



If Faradiba's love was the slow beautiful rises moon, Farabiy's love was the cool fireworks

She's a calming light, at the same time, he light up around anything

Their love were here, to surround me and fill me

So does my heart

It's the love that the same to celebrate both of them

Especially the fireworks who lived everyday from November 5th

Dear Farabiy, thank you for being a cool firework for these four years

Be bright always

Thursday, October 30, 2025

Holland Bakery dan Sepotong Kenangan Manis

 

Bicara tentang kebahagiaan, seseorang pasti punya kenangan manis tentang bagaimana sebuah tempat bisa menjadi support system dan happy place dalam hidupnya. Sebuah tempat pelepas penat, pengurai lelah, tempat yang bisa memperbaiki mood dan menghadirkan perasaan yang menyenangkan. Aku pun demikian.


Sejak remaja hingga kini sudah menjadi ibu, aku punya happy place yang masih sama, sebuah toko roti. Bagiku, bahagianya membawa pulang roti atau cake kesukaan serupa dengan bahagianya ketika masuk ke toko buku dan akhirnya bisa memiliki buku yang sudah lama ingin ku baca. Keduanya membawaku kembali dan pulang dengan perasaan yang sama. 


(Related Post : Kue dan Sebuah Perayaan)


Ada cheese dan chocolate john kesukaan, roti kelapa, cromboloni (seasonal), lemper ayam


Semua bermula dari roti dan cake yang sering ayah bawa sepulang kerja. Dijaman itu, sekitar tahun 2000an awal, sepertinya belum banyak toko roti di kotaku. Jadi, aku selalu ingat rasa rotinya dan bentuknya yang bermacam-macam. Karena memang selalu beli roti di toko yang sama. Sayang, tak banyak yang aku ingat tentang nama atau jenisnya. Maklum, saat itu belum ada smartphone alias masih henpon jadul. Tetapi yang paling membekas dalam ingatan adalah momen akhir pekan ketika ayah selalu mengajak kami ke toko roti tersebut dan membebaskan kami untuk memilih sendiri apa-apa yang kami mau. Rasanya senang sekali. Dan Holland Bakery selalu berhasil menjawab kerinduan dan membawaku kembali ke masa-masa itu.


(Related Post : Hadiah Paling Manis)


Ketika momen lamaran adikku, misalnya. Dia memberiku mandat untuk memesan beberapa kotak Bika Ambon dan Lapis Legit di Holland Bakery sebagai salah satu hantarannya. Juga ketika momen sidang thesis suami 9 tahun lalu, sebelum ada Diba dan Dipo, kami berdua memesan suguhan untuk para dosen penguji di sini. Sekarang, tiap kali ada momen penting seperti wisuda tahfidz Diba beberapa waktu lalu atau ketika anak-anak berulang tahun, kami suka jajan roti atau cake di Holland Bakery. Demi sepotong kenangan manis.






Mudah menemukan Holland Bakery terutama di kota-kota besar. Parasnya yang putih minimalis dan khas kincir angin selalu nempel dalam ingatan para penggemarnya. Range produk mereka cukup luas. Mulai dari roti, kue tradisional, pastry, donat, pudding, cake, kue lapis, kue kering dan cookies. Ada yang selalu ready setiap hari dan ada juga yang seasonal. Beberapa di antaranya malah jadi favorit keluargaku dan biasa aku beli berulang seperti roti long john, roti kelapa, pudding kelapa, roti cokelat susu, roti sisir dan lemper. Anak-anak senang memesan pudding dan roti cokelat favorit mereka. Kalau suami suka semuanya 😆 Rasanya rich dan makan satu roti saja terkadang sudah bikin kenyang. 


Ada yang baru 'Singapore Kaya Toast'


Lemper, Bika Ambon versi Slice, Muffin dan Roti John. Selalu repurchase


Pudding Kelapa & Pudding Pelangi favorit anak-anak


Kue Lebaran Terfavorit


Roti Almond ini juga enak banget !



Roti sisir jadul yang super lembut


Ini bukan hanya sekedar toko roti, bukan hanya soal rasa, melainkan juga happy place pembangkit kenangan manis semasa remaja. Yang selalu ingin aku 'ulang' saat ini bersama suami, anak-anak dan bestie tersayang (you know who you are) ~