Tuesday, March 17, 2026

Dunia Tak Harus Setuju Nilai Dirimu | Catatan Ramadan 1447 H

 

Hati kembali menemukan rasa menentramkan itu kala berjumpa Ramadan. Hari-hari terbaik untuk menepi, mengambil jeda sebentar dan meluangkan waktu untuk kembali mengenal diri lebih dekat. 


Nyatanya, kebanyakan manusia tidak benar-benar tau apa yang ia mau dan tak berkeyakinan penuh atas keputusan-keputusan yang akhirnya ia pilih. Terlampau sibuk dan membiarkan hidup let if flow saja. Sayangnya, aku tak pernah sepakat dengan konsep let it flow itu. 


Ramadan, waktu dimana aku ingin mengingat-ingat kembali...




Apa yang sebenarnya aku inginkan dan aku suka ?

Bagaimana sebenarnya nilai hidup yang aku yakini ?

Sudahkah aku jujur dengan nilai-nilai hidup yang aku jalani ?

Mimpi apa yang sedang aku kejar ?

Upaya apa yang sudah aku lakukan untuk jadi lebih baik ?

Sebagai seorang istri dan seorang ibu yang lebih dekat dengan Rabb nya...


Momen kontemplasi Ramadan tahun ini membuatku semakin tersadar. Rasanya tak perlu bersusah payah mencari cara agar mata-mata di luar sana melihat nilai diri kita. Sebab, nilai diri seorang manusia sebetulnya tak hanya terlihat tetapi bisa dirasakan pula oleh orang-orang yang hadir dalam hidupnya. Especially, mereka yang punya kesamaan rasa dengan nilai-nilai yang aku yakini dan jalani. Kalau toh 'nilai' itu tak terlihat, artinya, apa yang mereka cari dan butuhkan tak ada dalam diri ini. Dan itu nggak papa. 


Sebab, kita tetap bernilai bagi mereka yang betul-betul mengenal kita. Orang tua kita, pasangan hidup kita, anak-anak kita, teman terdekat kita, orang-orang di sekeliling kita. Mereka yang bersedia membuka diri untuk mengenal kita.


Aku menyukai kejelasan dan keteraturan. Nyaman berpakaian longgar, tetap rapi dan wangi di momen apapun. Panjangin dan lebarin jilbabnya (jangan badannya 😒). Tak perlu sering berinteraksi dengan banyak manusia tetapi tetap bisa membangun kegiatan yang bermakna. Punya waktu spesial untuk bercerita dan mendengarkan cerita orang tua. Punya banyak waktu untuk anak-anak dan selalu nyiapin bekal untuk mereka. Makan makanan sederhana dan disuka. Deep talk bersama partner hidup dan berbagi pengetahuan. Tak berjauhan tapi tetap seru dengan hobi masing-masing. Sholat subuh berjama'ah di masjid full team. Merasakan angin segar dan melihat matahari terbit. Bertemu dengan sahabat shaliha-ku. Belajar psikologi manusia. Dan, aku ingin tetap menulis. Menikmati proses dan tetap menguatkan akar nilai dalam diri. Inilah versi paling jujur tentang tenang yang aku cari.


Dan... Di ramadan ini semua mewujud dengan tenangnya. Prosesnya tak melulu sempurna, tapi aku tetap merasa berlimpah berkah luar biasa. 


Sebab, aku percaya, mereka yang telah menemukan ketenangan dan kebahagiaan saat berproses adalah orang-orang yang punya kemungkinan lebih besar untuk memahami dan menjalani nilai-nilai hidup yang ia yakini.


Ya... dunia tak harus setuju dengan nilai dirinya. Ia akan selalu berterima kasih atas pelajaran dari manusia-manusia yang pernah hadir. Dan, akan ia persilahkan alam semesta menghadirkan manusia-manusia yang sesuai dengan nilai hidup yang ia tawarkan. Atas izin Rabb nya...



Selasa, Hari ke Dua Puluh Delapan, Ramadan 1447 H ~