Sunday, July 14, 2019

Cetaphil Moisturizing Lotion for Face and Body


Ritual mandi selalu jadi aktivitas sederhana untuk melepas lelah yang menyenangkan. Kalo akhir pekan gini, biasa banget mandi tiga sampai empat kali sehari setelah urusan domestik di rumah kelar.


Apalagi saat cuaca panas, kamar yang dilengkapi dengan penyejuk udara (AC) hwaaahhh ibarat surga dunia yang nggak bisa ditawar lagi. Tapi, sejuknya AC membuat ku tanpa sadar jadi sering lupa minum. Efeknya berasa banget. Kulit yang basically kadar lembabnya minim jadi cenderung makin kering.




Thursday, June 13, 2019

Habis Lebaran, Terbitlah Manusia-Manusia Lebar-an


Lebarannya memang sudah habis, gaes. Aroma gurih yang menyeruak dari kepulan asap kuah kaldu bakso, puding buah dan cake ala Holland Bakery, keragaman kue kering khas lebaran macam nastar, kastengel, dan kawan-kawan yang kemarin menghiasi meja tamu rumah ayah, serta minuman kaleng yang tersusun rapi di lemari pendingin, sudah mulai hilang dari peredaran. Acara cipika cipiki serta percakapan basa basi ala "hay apa kabar ?" atau "sehat kak ?" atau "kok gendutan !" ke saudara yang jarang bertemu, juga sudah mulai hilang euforia-nya.


Tapi, soal kenaikan berat badan pasca lebaran yang tak kunjung hilang, mari kita diskusikan sekarang.




Thursday, May 30, 2019

Membentuk Karakter Bukanlah Seperti Restoran Cepat Saji


Ada dua tipe manusia yang kurang saya sukai, yaitu orang-orang yang tidak mau menjaga kebersihan dan orang-orang yang menutup diri dari kebenaran. 


Orang-orang terdekat paham kalau saya sangat concern terhadap kebersihan dan keteraturan. Iya, persoalan rendahnya kesadaran sebagian orang untuk menjaga kebersihan seringkali mengganggu. Padahal, pesan-pesan moral kemanusiaan dan mandat untuk menjaga kebersihan juga menjadi bagian penting isi Al-qur'an. Sayangnya, masih ada orang-orang yang menganggap masalah kebersihan bukan bagian dari integral keimanan.



Di ruang tunggu bandara, misalnya. Beberapa kali saya duduk bersebelahan dengan orang yang enggan membuang sampahnya sendiri setelah nyemil atau minum hanya karena buru-buru masuk ruang tunggu. Meskipun bukan urusan saya, saya langsung auto bete'. Walaupun ada petugas kebersihan, tapi itu kan sampahnya sendiri. Sesusah itu kah buang sampah di tempat yang semestinya ? Padahal, nggak sulit kok menemukan tempat sampah di ruang tunggu bandara. 



Membuang sampah sembarangan itu faktor kebiasaan yang tanpa sadar sering dilakukan. Kebiasaan yang dianggap sepele, tapi menunjukkan bagaimana karakter kita yang sebenarnya. Padahal, sejak SD kita semua sering dicekoki dengan slogan "jangan buang sampah sembarang". Tapi realitanya, slogan itu kerap bertentangan dengan kehidupan kita sehari-hari. Kalo sudah begitu, ya moon maap, Bapak, Ibu, pembentukan karakter memang bukanlah seperti restoran cepat saji. Tak bisa instan. Membentuk karakter itu butuh proses panjang dan peran serta orang-orang sekitar. Ketika karakter itu sudah terbentuk, biasanya akan sulit diubah. 


Begitu pula orang-orang yang menutup diri dari kebenaran. Intinya, ya, sama. Tapi, sekedar mengingatkan. Barangkali kita lupa. Bahwa kebenaran datang dari Yang Maha Kuasa. Bukan dari pikiran kita. Apalagi menilai kebenaran dan kebaikan seseorang hanya karena ia sudah lama tinggal di dunia. Sehingga kita seringkali abai terhadap perasaan orang-orang yang sebetulnya punya niat baik. Hanya demi menjaga perasaan orang-orang yang kita hormati, orang-orang yang kita anggap benar.


Ketika kita sudah secara otomatis membuang kemasan bekas makanan dan minuman di tempat sampah sesaat sebelum boarding, ketika kita tanpa diperingatkan langsung membawa keluar sampah sisa makanan atau minuman setelah nonton bioskop, ketika kita tak menyerobot antrean orang lain, ketika kita tidak abai terhadap perasaan orang-orang yang sebetulnya punya niat baik, ketika kita secara sadar melakukan hal-hal sepele yang dianggap tak penting oleh sebagian orang. Namun tetap kita lakukan karena kita sadar itu tindakan yang benar, maka itulah manusia yang berkarakter.

Monday, April 1, 2019

Memilih Buku


Dulu aku punya kebiasaan membeli buku dengan judge by it's cover. Memilih buku kadang membuat galau kambuh lebih lama daripada memilih sepatu. Apalagi ketika dadakan melipir ke toko buku dan belum punya pilihan ingin beli buku apa. Akhirnya aku hanya berkeliling, mengintip sekilas beberapa buku, dan memilih buku yang akan ku bawa pulang hanya karena covernya menarik. 


Judul dan covernya eye-catching, sinopsisnya menarik, tapi ketika ku baca ternyata kontennya nggak sesuai dengan ekspektasiku. Nggak sesuai dengan seleraku. Begitulah, terkadang buku yang aku suka belum tentu buku yang terjual baik di pasaran dan buku yang banyak diperbincangkan orang belum tentu menyenangkan bagiku.





(Related Post : Review : Saman (Ayu Utami)


Selain mendorong budaya baca, buatku media daring berbasis teks selalu jadi andalan ketika akan memutuskan untuk memilih buku. Ada banyak kanal yang bisa dipilih sebagai referensi :


Wednesday, March 27, 2019

Body Mist dari Brand Lokal yang Aromanya Enak Banget !


Bagiku, orang rapi dan wangi itu menarik. Keluar rumah dalam keadaan rapi dan wangi, selalu bikin level up rasa percaya diri. Memakai parfum atau sekedar body lotion. Membicarakan tentang wewangian, aku termasuk picky soal aroma, sebab wewangian tuh sangat mempengaruhi pikiran dan confident. Suka aroma soft cenderung floral, citrus, oceanic, atau aroma-aroma baby yang nyaman dihidung. 



Tapi, untuk sehari-hari di rumah, aku cukup pakai Body Mist aja. Memang nggak sewangi parfum dan hanya bertahan sementara, tapi priceable banget.