Saat remaja, saya selalu suka menunggu akhir pekan tiba, sebab akhir pekan adalah waktu bermain ke toko buku. Di kota kelahiran saya, hanya ada satu toko buku besar yang letaknya berada dalam area pusat perbelanjaan. Saya suka berkunjung, berkeliling, mengintip sekilas beberapa buku lalu memilih buku yang akan saya bawa pulang. Kala itu, saya lagi senang-senangnya menikmati buku populer remaja bergenre romantis 😉
Padahal, sebagai anak remaja, saya seringkali bisa menebak arah ceritanya. Biasanya ya seputar itu-itu saja. Tipikal teenager story yang ceritanya dramatis abis, imajinasi penulisnya terlalu melangit sampai-sampai terasa tidak logis. Tapi, saya suka.
| (Photo & Story Update on June 2026) |
(Related Post : Review : Saman (Ayu Utami)
Time Flies. Tahun kedua kuliah, saya langsung merasa cocok ketika membaca buku karya Ika Natassa, A Very Yuppy Wedding. Gaya kepenulisan Mbak Ika yang santai dan biasa menggunakan bilingual dalam sebuah percakapan, bikin saya yang baca berasa kembali muda 😁 Tapi, jujur saja, makin ke sini saya lebih sering mengikuti perkembangan cerita Mbak Ika melalui media sosial justru tentang her real life, terlebih tentang bapak ibu beliau yang hobi nonton bioskop. Alhamdulillah, kerinduan saya dengan karya Ika Natassa akhirnya terobati satu bulan lalu dengan buku terbarunya yang berjudul Langit Mengambil, sebuah hadiah ulang tahun untuk saya, pemberian dari si teman hidup.
Di tahun-tahun penuh perjuangan itu, saya juga mulai membaca blog pribadi dan buku-buku Windy Ariestanty, salah satu yang paling membekas dalam ingatan adalah Life Traveler. Saya suka gaya kepenulisan beliau dimana karakter-karakternya terasa hidup dan kalimat demi kalimat feel deep sekali. Perbendaharaan kosakata saya banyak bertambah karena membaca buku-buku beliau. Terimakasih, Mbak W ! (Suatu ketika, buku itu dipinjam oleh teman dan akhirnya tak pernah kembali)
Namun, patah hati saya sedikit banyak terobati karena kehadiran seorang teman perempuan yang gemar membaca dan berdiskusi yang sering membagikan pemikirannya perihal buku-buku yang ia baca. Kala itu, salah seorang teman di luar kampus mengenalkan saya dengan C2O Library, sebuah perpustakaan dan ruang galeri serbaguna di Kota Surabaya. Dari situ pula saya mulai mengenal buku-buku karya Ayu Utami, Leila S. Chudori, Agustinus Wibowo juga beberapa penulis lain dan mulai menyadari ketertarikan saya pada novel sastra. Beberapa karya mereka ada dalam jajaran buku favorit, di antaranya saya beri underline pada kata-kata yang saya suka dan saya ulas di blog.
Ehm... seiring usia bertambah, saya mulai menyadari, ternyata sudut pandang dan selera bacaan saya pun berubah. Beberapa buku bacaan yang dulu terasa romantis, sekarang membacanya justru terasa geli sendiri 😁 Bukan karena bukunya tidak lagi menarik, melainkan sudut pandang dan preferensi saya yang sudah berubah.
Namun, satu hal paling penting dari perjalanan membaca untuk saya adalah bagaimana sebuah buku bisa mendewasakan, memberi pelajaran atau membawa keterhubungan dengan satu kenangan ~