Thursday, June 13, 2019

Habis Lebaran, Terbitlah Manusia-Manusia Lebar-an


Lebarannya memang sudah habis, gaes. Aroma gurih yang menyeruak dari kepulan asap kuah kaldu bakso, puding buah dan cake ala Holland Bakery, keragaman kue kering khas lebaran macam nastar, kastengel, dan kawan-kawan yang kemarin menghiasi meja tamu rumah ayah, serta minuman kaleng yang tersusun rapi di lemari pendingin, sudah mulai hilang dari peredaran. Acara cipika cipiki serta percakapan basa basi ala "hay apa kabar ?" atau "sehat kak ?" atau "kok gendutan !" ke saudara yang jarang bertemu, juga sudah mulai hilang euforia nya.


Tapi, soal kenaikan berat badan pasca lebaran yang tak kunjung hilang, mari kita diskusikan sekarang.


Nganggur banget, nih, meja ? Langsung ke ruang makan aja ya, wahahaha ~





Iya, kehadiran nastar dan kawan-kawan selalu mewakili citra lebaran keluarga saya. Aroma mentega dan telur wangi khas cookies, polesan kuning telur yang merata, renyah khas kue kering, selalu mewarnai momen silaturahmi. Begitupun dengan bakso dan bistik daging. 


Tiga hari sebelum lebaran, biasanya mama mulai menyusun kue kering, permen dan cokelat dalam toples kristal cantik yang selain lebaran hanya jadi pajangan di lemari. Sementara untuk makanan berat, tamu akan langsung dipersilahkan menuju ruang makan. Gemasnya, anak-anak kecil dari kompleks sebelah, selalu jadi tamu pertama setelah sholat Ied, yang menyempatkan makan permen dan membawa pulang minuman dingin dari rumah. Dan tentunya yang ditunggu-tunggu, salam tempel :))


Sebagai keluarga yang baru saja menikmati masa pensiun dan pertama kalinya berlebaran di desa, mama cukup kaget mendapati bahwa si kaleng merah Khong Ghuan dan si bundar biru Monde Butter Cookies justru dominan menghiasi meja tamu para tetangga. Belum lagi toples kaca tutup merah yang menjadi wadah kuping gajah, lidah kucing, kacang goreng, rempeyek, atau rengginang. Benar-benar mengubah peta menu khas lebaran ala keluarga saya. Tapi, serunya tuh disini ~










Suasana lebaran jadi 'Indonesia' banget. Tiap berkunjung ke rumah para tetua atau tetangga, kami disuguhi secangkir teh manis. Nggak lama kemudian muncul potongan dodol atau jadah bakar. Belum lagi oplosan ketupat dan opor ayam. Selain itu, warga di desa rupanya gemar membawakan oleh-oleh kepada kerabat atau keluarga yang datang berkunjung.


Kalo dalam sehari kami mengunjungi tiga rumah dan melahap dengan bar-bar semua yang dihidangkan, bayangin berapa kalori yang mengendap di tubuh. Tapi, hey.... kalo puasa adalah diet yang terselubung, maka lebaran boleh jadi momen pelampiasan terang-terangan. Seketika, keindahan jasmani dan keluhuran rohani hilang sudah. Wahahaha ~


Sehingga, maraknya pertanyaan "kapan nikah", "kapan nambah momongan", yang sering terlontar saat kumpul keluarga, sebetulnya masih kalah dengan pertanyaan "kapan berat badan ini turun" :))))


Mohon Maaf Lahir dan Batin ~