Friday, October 16, 2026

Pemikiran Tidak Populer Tentang Keadaan Sebuah Negeri


بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ


Jujur saja, beberapa waktu belakangan, dia akhirnya tiba pada keadaan dimana pikirannya cukup terdistraksi melihat keadaan sebuah negeri dan para pemimpin di dalamnya.


Ia merasa perlu menegaskan posisinya sebagai seorang perempuan yang juga punya kehendak atas rasa aman untuk tinggal di negerinya. Individu sekaligus seorang ibu yang lebih berhak atas kesejahteraan keluarga daripada para koruptor di atas sana. Salah seorang di antara ratusan juta rakyat Indonesia yang saban hari tak surut harap meminta kebaikan pada Rabb-nya. 


Tak pandailah dia berbahasa politik. Dia juga tidak tahu bagaimana cara berjuang dari dalam. Barangkali yang ia suarakan ini tak berpengaruh apa-apa, tetapi ia tetap memiliki hak mengeluarkan arsip pemikiran yang berminggu-minggu ia simpan di ruang pribadinya ini.



(Photo by Pinterest and Edited by Canva) Thank You 


Ia berusaha betul untuk tetap berpijak pada pemikiran-pemikiran yang sehat. Dia memahami betul bahwa menjadi pemimpin itu berat. Amat sangat berat. Lima tahun mengabdi barangkali tak akan cukup untuk menyelesaikan permasalahan dan membuat cita-cita keadilan sosial mewujud segera. Namun, orang-orang yang dipimpin ini punya hak merasakan kemajuan-kemajuan kecil yang sudah sepatutnya diupayakan sejak awal kepemimpinan. Sebab, tak ada rakyat yang ingin dikecewakan apalagi dibiarkan berlarut-larut menyelesaikan persoalannya sendiri. Seorang pemimpin tidak boleh berdiam diri. 


Tentu saja, rakyat tidak pernah lupa bersyukur. Mereka masih berusaha percaya bahwa negeri ini sanggup berbenah. Sungguh ia tak pernah mendustakan nikmat Rabb-nya. Namun, mari sedikit menjejak realitas saat ini. Terlalu banyak kemuraman beredar. Ketika sumber mata pencahariaan seharusnya memberi rasa aman, faktanya ancaman badai PHK begitu meluas dan meresahkan. Ketika suhu panas ekstrim sangat mengancam produksi pertanian. Ekonomi melemah, namun inflasi harga pangan dan pajak pun mencekik. Kebakaran hutan, krisis udara bersih, kelangkaan bahan bakar, musibah yang berkelanjutan. Ngeriii benar. 


Padahal, inilah tugas para pemimpin negeri. Bukan dengan orasi besar nan menggemparkan, melainkan perbaikan yang terstruktur, konsisten dan terarah. Memperjuangkan rakyat bukan dengan cinta posesif yang egois. Melainkan memastikan seluruh rakyat yang dipimpinnya mendapatkan hak-haknya dengan penuh. 


Lihatlah bagaimana dampak dari kabut asap pekat akibat kebakaran hutan di Palangkaraya. Suhu panas dan cuaca terik lebih dari biasanya, musim kemarau dengan tingkat kekeringan lebih tinggi dari biasanya. Sesak nafas menghantui, kesehatan dipertaruhkan. Padahal, rakyat memiliki hak untuk mendapat kehidupan yang layak, aman dan sehat dari terjaganya alam dan kesehatan hutan.


Sungguh... ia tidak menutup mata atas upaya pembenahan sektor pendidikan dengan adanya revitalisasi sekolah-sekolah negeri. Kebijakan ini patut diapresiasi. Namun, program-program yang diklaim sebagai pendukung sektor pendidikan seperti makan gratis dan digitalisasi pembelajaran nyatanya belum menjawab kebutuhan penting dalam pemerataan pendidikan. Belum lagi, tantangan pendidik yang semakin kompleks. Padahal, perasaan 'aman' sebab pemerataan kualitas hidup pendidik akan berdampak pada pemerataan kualitas pendidikan. Sehingga, sudah semestinya upaya pembenahan sektor pendidikan yang tengah dijalankan selaras pula dengan pemerataan kualitas hidup para pendidiknya.


Belum lagi hak atas perlindungan hukum untuk mengoreksi dan mengontrol jalannya pemerintahan serta hak atas perlakuan manusiawi. Ehm, hak rakyat bukan hanya tentang hak pilih lima tahunan itu, bukan (?) 


Sungguh... tak pernah bermimpi menjadi seperti Negeri Saba', cukuplah Baldatun Thoyyibatun, menjadi negeri yang baik ~