Sunday, January 11, 2026

Alarm Itu Bernama Intuisi

 

Entah bagaimana mulanya, perempuan itu merasa punya kecenderungan untuk cepat membaca tanda dan pola. Seolah sedang membaca jalan cerita di depan mata, sebuah cerita yang samar, tetapi ia tahu kemana arah cerita itu akan bermuara. Sesuatu yang sebenernya tak ingin dia ketahui, tapi tetap saja alarm itu berbunyi.





Awalnya, ia mengira perasaan itu hanyalah sebuah asumsi acak sebab kepekaan hatinya. Barangkali ia hanya sedang merasa-rasa. Ya, perempuan selalu menggunakan perasaannya, bukan ? Baper, katanya. Kenyataannya, alarm itu berbunyi tidak dengan tiba-tiba dan bersuara dengan cara tak terduga. Awalnya terdengar bunyi pelan, ada pola yang berulang. Ada rangkaian kejadian yang saling bertaut. Ia amati, ia telusuri, lalu ia rangkai pola demi pola itu dengan apa yang ia ketahui. Yang semula samar lama-kelamaan menjadi terang. 


Sinyal yang kerapkali ia kirimkan pula untuk orang-orang terdekatnya. Padahal, dirinya sendiri justru seringkali mengabaikannya sampai-sampai alarm peringatan itu tak selalu berhasil menyelamatkannya.


Ya... Dunia terlalu bising baginya. Ia tahu motif tersembunyi dari topeng-topeng manusia bumi. Ia bisa melihat dualisme makna dari sikap manusia. Ia memahami setiap perkataan atau pertanyaan dari nama-nama baru yang hadir dalam hidupnya. Ia dengan cepat membaca pola, bahasa tubuh, mimik wajah, reaksi emosional mereka. Ia dengan cepat mengetahui apakah energi mereka akan selaras atau tidak meski belum ada interaksi yang berkelanjutan. Ia bisa melihat akan bagaimana relasi baru itu akan berujung. Apakah itu overthink ? Ia rasa bukan.


Sampai akhirnya kompas itu memberinya petunjuk dan membawanya pada sebuah jalan hingga kebenaran itu satu per satu terhampar di depan mata ~



اِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَۙ

(Tunjukkanlah kami ke jalan yang lurus...)

Tuesday, December 30, 2025

2025 Reflections : Understanding 'This is Enough'

 

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ




It's been a tough year for everyone but there's still a lot to be thankful for & I hope we still grateful for the life lessons we learned...


❤  Level up energy and spiritual protection with improving and strengthening our relationship with Allah Ta'ala may not eliminate our hardship but it will helps us stay stronger. We may lucky enough to meet sincere and caring people in hard times, but recognize our limitation only for Allah's forgiveness and blessing will purify soul and improve our focus, Insya Allah. Isn't that enough to depend on with Allah in every circumstance ? 


❤ Realizing 'this is enough'. Simplify everything, focus on what we can control and understanding when enough is enough. It given us more self control and bring us more peace even in hard days. It makes me and my husband more easy to create mindful decisions about how to respond anything happened in life.


❤  Completely honest with ourselves. Being honest means that we brave of the consequences that come with honesty. Because of this, me and my husband choose peace over people. Remember, there's always antagonist role in life, hence we enough with just a few of people whom we choose to open, to spend time with and 'deserve' our attention. 


❤ Being comfortable with silence but still adapted with discomfort. Accept everything that we don't fully fit in. With someone, a social group or a situation. Accept that not everyone will comfort with us. Alhamdulillah, I'm blessing with this feeling.


❤  Forgiveness. It takes strong heart to do. It's better to forgive from distance, even if they haven't asked for it. You don't even have to tell them. Just pray for them hopefully they will learn, grow and be better from their mistakes.


❤ Bismillah for every opportunities in life. But still be careful. Maybe it comes once in a lifetime. Maybe it is right there awaiting for us. Maybe it will give us a life lesson. All we can do is trying and praying. Everything happen for a reason, right ?


❤  In today's fast-paced world, I think everyone should have a passion. Something we like and develop. Loving ways to reconnect with ourselves. Writing could brings out all the hidden emotions and the introverted part of me. Re-read more book enjoy my day. It would feel, the time has slow down and the world has become calm. It's a self-care, it's important and that’s more than enough. 


❤ Never underestimate the power of 'being here'. When the body and soul being here with them. Worship, play, study, eat, sleep, read a book, doing an imperfect thing, happy and cry with my kids. Not just takes time but makes time for them. 


❤ Change isn't really that scary. New place, new environment, new circle, new beginning. There should be some people who uncomfortable with the presence of new people. It's normal and just a part of life. 


❤  Mindfully let go. I prefer to protect my energy from over think. There still people will not like me, will makes me disappoint, disrespect and treat me unpleasantly. Everywhere. Understand them, maybe they just don't understand me and struggle to feel enough with their life.


Alhamdulillah for 2025, Bismillah for 2026 and the next years after ~

Thursday, December 25, 2025

Jejak Warna dan Karya dari Sekepal Tangan Kecil

 

She really love to draw and coloring since she was very little. Until her mom realize, it's not just drawing and coloring. She decide what kind of life she want to live. Everything she draw and color, she doing it only for herself. Because the creative process itself enough to makes her happy 😊


Banyak hal baru dialaminya setiap hari, beberapa di antaranya menjadi sesuatu yang sangat ia sukai ❤


Hasil Karya Kombinasi Warna (1st Grade Student of SDIT Fatahillah)


Alat warna khusus belajar di rumah



Awalnya, saya mengira dia sama seperti anak-anak lain yang memulai dunianya dengan gambar dan warna. Si anak kicik ini suka mengambil sendiri buku gambar, pensil dan crayon yang saya letakkan di tas kecilnya. Sengaja saya kumpulkan menjadi satu di dalam tas kecil agar ia lebih mudah mengambilnya sendiri. Dia sering minta digambarkan sesuatu untuk kemudian ia beri warna. Karena makin lama gambar yang dia minta semakin sulit untuk saya gambar manual, tapi saya nggak kehabisan ide untuk mencetaknya di atas kertas putih 😁



Masih bisa gambar manual 😁


Lalu, saya mulai menyadari kegemarannya menggambar dan mewarnai ketika usianya 2,5 tahun. Belum, dia belum sekolah kala itu. Sejak saat itu, hampir setiap minggu, kami punya kegiatan baru : berbelanja alat gambar dan alat warna untuknya. 


Kanvas pertamanya adalah colouring book. Setiap hari dia belajar mewarnai. Semakin lama dia mulai mengerti kalau penggunaan dan cara memperlakukan crayon, pensil warna dan cat air itu berbeda. Mulai dari satu warna, dia mulai memahami kalau sebuah gambar bisa menjadi lebih cantik dengan mencampur warna. Yang awalnya masih kotor, kini hasil mewarnainya semakin bersih dan rapi.


Yang awalnya dia coba menggambar garis lurus tanpa penggaris, lama-lama dia mulai bisa meniru gambar. Dia mulai dari menggambar bentuk bangun ; segitiga, persegi, lingkaran. Kemudian dia menggambar dari hal-hal yang ditangkap oleh matanya, gambar-gambar sederhana ala anak kecil saja. Semakin ke sini dia mulai semakin pede membuat gambar dari imajinasi dan goresan tangan kecilnya sendiri. 


Awal Mula Mewarnai (masih berantakan 😂)


TK A mulai meniru gambar dan mewarnai sedikit lebih rapi


Video Proses Menggambar dan Karyanya yang lain ada di Instagram, ya 😉



Sebuah Visual dan Cerita di Baliknya (In Frame : Vespa Ayahnya)


Eksperimen Kombinasi Warna Primer (Part 2)


Eksperimen Kombinasi Warna Primer (Part 3)


Entah mengapa, setiap kebosanannya berakhir jadi sebuah gambar dan warna. Corat coret walau hanya 10 menit. Kalau tak diingatkan untuk istirahat, lengah dikit, sudah penuh saja buku gambarnya. Buku tulis sekolahnya pun penuh dengan gambar 😁 Apalagi di sekolahnya sekarang, ada mata pelajaran 'project' yang diisi khusus dengan kegiatan menggambar dan mewarnai yang hasilnya selalu dibawa pulang dan dia simpan rapi (too much kalau semua harus di post di sini). Studying while relaxing. Saya bilang ini program yang keren banget. Because relaxing could helps student learn better 😉


Terlalu jumawa kalau saya bilang dia berbakat. She's just 1st grade of primary school's student. Belum pernah ikut kompetisi apapun. Tapi, saya tau dia punya kemampuan itu dan dia yakin practice makes perfect. Dan itu yang selalu konsisten dia upayakan. Yang paling penting, dia happy dan sangat mencintai karyanya, sesederhana apapun hasilnya. 


Happy practice always, Faradiba ❤

Tuesday, December 16, 2025

The Poetry : What If...

 

I believe, marriage is the best place for us to grow, to feel enough...





What if we break the common marriage rules, about having a quality time at least date outside once a week and we don't. What if we just loves to stay at home and give time for each other. Is our marriage look unhealthy and unhappy ? 😊

What if I'm a mediocre full time mom who rarely makes real food for kids ? What if I more often buys bread and sometimes just make fried rice for them ? Am I a bad mom ? 😊

What if I'm a mediocre wife who contributed nothing to earn something ? What if I’m a wife who doesn't care about decorate our home with fancy things, whose home just empty but comfy ? ❤

What if till now we haven't give any beautiful experiences to our parents but they still afford to give us a beautiful life ? Are we not mature ? ❤

What if I don't really feel need to have a group of 'mommy friends' to play dates or hangout together with them ? What if I just only have one or two friend but having two-way street deep relationship with them ? Is it bad that I want to be a different mom ? 😊

What if I just love to write and read at home for my 'me time' ? Am I a boring person ? 😊

What if I choose to fight for my beliefs openly or quietly but sometimes still make mistakes ? 😇

What if I'm choosing peace over people and prefer to decline any 'offer', to tons of solitude, to have a comfortable rest, to save my energy in order to more focus on my little family and found peace in worshipping Allah ? Am I not wise ? 😊


Let that be enough, feel enough. Alhamdulillah ❤

Tuesday, December 9, 2025

Idealis Di Tengah Dunia yang Pragmatis

 

Selama ini, saya selalu denial saat salah seorang teman dekat bilang bahwa saya adalah seorang idealis. Saya baru sedikit bisa menerima label idealis itu pada saya setelah ngobrol dengannya lebih dalam. Sebab, dalam benak saya, justru saya merasa diri ini egois 😁




"Kamu tuh selalu berpegang teguh dan berjalan pada nilai-nilai yang kamu percaya, walaupun pemikiran atau pilihanmu itu terasa kurang realistis di jaman now, berbeda sangat dengan pilihan kebanyakan orang..."

"Kamu dengerin orang lain dan paham betul pilihan mereka, tanpa mencela pilihan mereka, tanpa memaksakan pilihanmu ke mereka, tanpa bikin mereka menyukai pilihanmu, tanpa bikin mereka mengikuti pilihanmu, tapi kamu tetap berada di jalurmu sendiri sampai akhir..."

"Pilihanmu meninggalkan karir impian dan damai-damai aja jadi ibu di rumah, konsisten menulis esai di blog padahal lebih menguntungkan nge-vlog, pilihanmu bersuara di twitter meski kamu nggak tau itu akan terdengar atau nggak, banyaklah pilihan hidupmu yang kurang efisien. Kamu bisa bertanggung jawab atas identitas yang melekat didirimu, itu keren sih. Meski pilihan itu naif dan terlihat aneh..."

"Lebih pilih menghidupkan petualangan padahal depan mata ada jalur aman, hahahaaaa..."

"Kenyataannya, kita nih hidup di dunia yang melihat dan menuntut angka besar dihasil akhir, bukan prosesnya..."

"Dunia ini terlalu pragmatis untuk orang idealis kayak lo. Makanya, orang-orang idealis kayak lo tuh sering dipinggirkan bahkan disingkirkan..."

"Kamu pasti tau, konsekuensi mempertahankan kebenaran adalah menjadi seseorang yang tidak disukai..."


Ya Rabb... saya dibilang naif sama sahabat saya, guysss 😆


Ehm... saya seperti ini barangkali karena saya udah kebal saja, sih. Sudah berdamai apapun pendapat orang tentang saya. Dikritik, dibilang kaku, dianggap nggak fleksibel, tak dianggap menguntungkan, alhamdulillah. Kehidupan ini begitu kompleks, apapun jalan yang kita pilih tetap akan ada yang bersebrangan dan diam-diam tidak menyukai, it's okey. Ambil yang baik, buang saja yang buruk. Entah dianggap idealis, perfeksionis atau apapun itu, bagi saya, ujung dari semuanya adalah tetap komitmen terhadap pilihan.


Saya tak punya panggung, tetapi sistem harus tetap berjalan. Saya tetap punya pilihan untuk terus berproses, tidak curang, berjalan maju apapun peran yang ditakdirkan, siap atas segala konsekuensinya, tidak mengganggu kepentingan atau merugikan siapa-siapa. Dunia ini tempat segala ujian, bukan ? Selama saya masih punya 'ruang pribadi' untuk berdaya dan berkarya, itu sudah cukup. Sebab, pada akhirnya, setiap manusia akan berjalan sendirian. Gapapa sedikit ikut arus, tapi jangan sampai terseret begitu dalam. Berjalan sesuai hati nurani dan ritme diri saja, sebab kita punya hak untuk jujur pada diri sendiri. Diterima ataupun tidak.


Mungkin argumen teman dekat saya ada benarnya, tetapi bisa jadi kurang tepat.


Sebab, setiap manusia pasti memiliki sisi-sisi idealis, perfeksionis dan pragmatis meski bisa jadi akan berakhir realistis. 


Terdengar seperti paradoks, barangkali benar saya hanya egois. Atau ngeyel ? 😬