April 1, 2018

Nyaman Bicara Perihal Finansial Bareng Pasangan


Bicara seputar finansial, topik ini memang selalu jadi isu paling sensitif untuk ditanyakan bagi beberapa orang atau pasangan, ya. Terutama soal penghasilan. Meski sebenarnya tidak ada salahnya juga untuk dibahas. Oke, gue ingin cerita sedikit...


Benteng Vredeburg Jogjakarta


Sebelum menikah dulu, gue pernah 3 tahun bekerja di salah satu perusahaan media cetak. Kala itu, pengeluaran gue masih seputar gaya hidup. Selain biaya kost dan transport, uang gaji biasanya menguap untuk hal-hal remeh seperti keluar masuk coffee shop bareng teman, mencoba makanan baru, atau untuk belanja buku.


Ya, gue termasuk orang yang cukup royal kalau sudah berurusan dengan buku. Pengeluaran untuk belanja buku dalam sebulan bisa lebih besar dari pengeluaran untuk makan. Demikian pula dengan urusan perut. Prinsip yang gue pegang, semahal apapun makanan, akan gue beli ketika gue suka dan gue menginginkannya.


Tapi, prinsip itu sedikit mengalami pergeseran ketika menikah. Posisinya sekarang, gue adalah makmum dari suami gue. Seorang ibu rumah tangga yang statusnya dinafkahi oleh mas suami. Belum punya baby dan masih numpang di Paviliun mertua. Tapi tetap, kami berdua punya 'sistem pemerintahan' dan 'dapur' yang berbeda. Urusan makan dan kebutuhan hidup murni jadi tanggung jawab kami pribadi.


Meskipun kami juga ikut andil memenuhi kebutuhan rumah yang dirasa 'kurang', alhamdulillah sejauh ini finansial kami tetap on the track. Masih bisa belanja buku, beli sepatu, beli kemeja, beli parfum, beli apapun yang kami mau meski nggak sesering jaman jomblo dulu. Menyesuaikan dengan kesanggupan kami, yang penting reasonable dan tetap punya skala prioritas.


(Related Post : Membuat Skala Prioritas Demi Hidup yang Ter-Cover dengan Baik)


Nah, balik lagi soal nafkah. Sebetulnya ini penting banget dipahami dan dibicarakan oleh semua (calon) pasangan. Kalau kita kembali pada aturan asalnya, yang dibebani kewajiban untuk menafkahi adalah laki-laki (suami). Baik ketika status si istri bekerja atau pun tidak. Hak istri atas nafkah dari suami dijamin 100% dalam ajaran agama kami. Bahkan, memberi nafkah pada istri (dan anak) punya ganjaran yang amat besar sebab masuk dalam kategori ibadah.


Bagi kami, membangun rumah tangga butuh komitmen untuk jujur dan terbuka, apalagi soal finansial. Tanpa keterbukaan, masalah finansial akan jadi boomerang yang kapan pun bisa merusak indahnya pernikahan. Sejak awal menikah, mas suami cukup transparan dengan jumlah penghasilannya. Sampai saat ini pun kami kerap berdiskusi perihal penggunaan uang belanja agar alokasi nya nggak salah sasaran. Bahkan untuk sekedar beli buku menggunakan dana pribadi pun gue selalu laporan ke dia. Semua wajib dikomunikasikan, agar nggak ada salah prasangka.


Ada beberapa financial planning yang kerap gue temui dari beberapa cerita pasangan suami istri. Meski tiap keluarga pasti punya cara masing-masing mengatur keuangannya. Pertama, ada yang suaminya memberi otoritas penuh pada sang istri untuk mengelola seluruh penghasilannya, sementara si suami diberi alokasi per minggu. Kedua, ada pula yang suaminya memberi sejumlah uang ke istri sesuai dengan kebutuhan. Kami lebih prefer pada cara yang kedua.


Gue diberi amanah oleh mas suami untuk mengatur 3/4 penghasilannya (penghasilan disini belum termasuk pendapatan dari usaha kecil-kecilan dia, ya). Sedang 1/4 nya dipegang sendiri oleh mas suami untuk investasi. Sementara masih belum punya baby, kami hanya membagi yang 3/4 itu menjadi 2 pos pengeluaran, untuk pengeluaran saat ini dan untuk pengeluaran sosial. Pengeluaran saat ini mencakup kebutuhan rumah tangga selama 1 bulan dan termasuk pula simpanan untuk biaya pajak kendaraan. Dan ada hak orang lain dari 2,5% penghasilan kita yang masuk dalam kategori pengeluaran sosial.


Cara yang kami jalani ini barangkali terasa non sense bagi pasangan lainnya. Selain faktor eksistensi diri, tuntutan hidup yang semakin kompleks juga membuat (banyak) istri memilih berkarier di luar rumah. Lalu tanpa sengaja, saling mengalahkan dalam hal gaji dan posisi. Maka, tidak jarang istri punya kemapanan finansial lebih besar dari suami. Kalau tidak bijak menyikapinya, bisa saja memicu konflik.


Lain hal nya ketika keuangan satu orang dirasa belum benar-benar cukup untuk mimpi yang ingin dicapai bareng keluarga, nah... nggak ada salahnya istri ikut ambil peran agar impian bareng keluarga segera tercapai.


Lantas apakah mas suami keberatan ketika penghasilan gue menjadi lebih besar daripada penghasilannya ? (Mungkin) tidak...


Tapi gue menyukai argumen mas suami :


"Konflik yang umumnya terjadi bukan karena penghasilan istri yang lebih besar. Sebenarnya nggak ada yang salah dengan itu. Yang perlu diingat, bekerja dan mencari nafkah itu dua hal yang berbeda. Istri boleh bekerja, tapi nggak wajib ikut menggunakan penghasilannya untuk menafkahi keluarga. Dari banyak kasus yang terjadi, masalah muncul ketika ada miskomunikasi, si suami merasa nggak perlu lagi menafkahi istri karena si istri bekerja dan punya penghasilan sendiri. Lalu istri jadi cenderung nggak mampu menghargai suami karena merasa posisi dirinya lebih unggul dari si suami. Entah gajinya, entah penghasilannya, entah kedudukannya. Makanya semua butuh komunikasi yang baik dan hak istri wajib dipenuhi. Kalau aturan yang asalnya dari Pencipta saja dilanggar, nggak heran kalau rumah tangga jadi penuh konflik bahkan berujung divorce hanya karena masalah uang..."


Btw... kalian yang sudah berkeluarga, cukup terbuka kah kalian bareng pasangan soal finansial (?)