September 24, 2017

Mental 'Cash Payment' Garis Keras


Tidak hanya wanita, ternyata banyak kaum pria yang juga memiliki 'the essential must-have list' idaman mereka. Entah itu mobil, motor klasik, smartphone, sneakers, postman bag, leather jacket, macbook, DSLR, jam tangan, atau barang-barang yang ada hubungannya dengan hobi untuk memenuhi gaya hidup.





Obsesi manusia terhadap suatu barang tertentu memang kadang cenderung tak masuk di akal. Bisa terbayang-bayang terus sampai barang yang diinginkan itu benar-benar dimiliki. Sebenarnya tidak ada yang salah dengan semua itu, karena barang-barang tersebut bisa jadi sebuah simbol 'pengakuan'. Namun godaan terbesarnya adalah promo cicilan ! I tell you, it's just another classic trap guys...


Sebagai bahan pertimbangan, sebaiknya kita harus tau dulu berapa total biaya yang akan kita keluarkan untuk memiliki items idaman tersebut. Biasanya, items yang kita bayar secara cash atau tunai akan lebih murah harganya jika dibandingkan items tersebut kita bayar dengan cara dicicil. Dengan membayar secara cash, membuat pengeluaran jadi lebih efisien. Meski untuk beberapa barang yang tergolong sangat mahal, membeli dengan cara dicicil juga dapat jadi pilihan untuk memudahkan kita segera memilikinya sih. Rumah misalnya, hahahaaaa...


Namun gue dan Pak Arif memilih untuk menutup mata dari godaan promo cicilan dan sejenisnya itu. Menjaga diri untuk tidak membeli barang di luar kemampuan kami dan tidak mengurangi pengeluaran 'meja makan' untuk membeli barang branded hanya demi terlihat mewah dari atas sampai bawah ( Baca juga yaa Membuat Skala Prioritas Demi Hidup Yang Ter-Cover Dengan Baik )


Tapi bukan berarti gue akan pasrah dengan keadaan agar nampak menjalani hidup sederhana. Gue tetap akan membeli barang yang benar-benar gue butuhkan, yang penting tidak dicicil dan sanggup membayar secara cash. Jika ternyata gue tidak sanggup membeli dengan cash, artinya items idaman tersebut belum waktunya gue miliki atau bukan bagian dari lifestyle gue. Prinsipnya, gue nggak ingin punya beban hutang yang mengatas-namakan cicilan. Just think over and over...


Well... ingin membeli items idaman secara cash atau dicicil memang wajib disesuaikan dengan kondisi masing-masing, yaa. Selama tidak ada pihak lain yang 'menyalahi' pengeluaran dan items tersebut dibeli dengan penuh perencanaan, gue rasa kondisi keuangan akan selalu baik-baik saja......











September 21, 2017

Laki-Laki yang Passionate dengan Hobinya


Pak Arif... Laki-laki yang gue kenal sangat passionate dengan hobinya, seorang penikmat vespa klasik. Baginya... scooter classic itu bukan hanya sekedar hobi, tapi juga identitas dan pengakuan.


Sedikit cerita. Perkenalannya dengan scooter 2 tak ini sebenarnya sudah terjalin sejak ia masih taman kanak-kanak. Papa, Pakde, serta Mamanya saat itu memiliki vespa klasik yang jadi teman perjalanan mereka sehari-hari. Ia kerap kali diantar oleh Mamanya ke sekolah dengan vespa. Jadi tak heran jika vespa klasik selalu punya tempat dihatinya. Sampai akhirnya ia memiliki vespa pertamanya saat duduk di bangku SMP, sebuah Vespa Sprint keluaran 1974 berwarna merah. 



Pak Arif & Gue Jalan-Jalan ke Ketep Pass bareng Si Red Bull (Vespa Sprint 1974)

Baru Selesai Dibangun (Vespa Super 1962)


Meski sampai saat ini baru memiliki 2 buah vespa klasik, namun masing-masing dari keduanya punya karakter tersendiri. Vespa Super keluaran 1962 untuk city tour dan Vespa Sprint keluaran 1974 untuk kebutuhan tour luar kota. Ketika di Surabaya, gue sering diajak Pak Arif untuk menghadiri acara-acara komunitas nya atau sekedar morning ride. Yang paling membuat gue bangga, ia 'membangun' kedua vespa nya sendiri. Mulai dari turun mesin, menambah aksesoris, sampai cat body. 


Karena padatnya jadwal menyelesaikan Thesis dan mengajar yang cukup menyita banyak waktu, hobinya ini harus ia hentikan beberapa lama. Baru hari ini deh ia mulai membelai manja kembali kesayangannya. Keduanya sudah mulai dihidupkan meski hanya sekedar untuk warm up. Tak lupa juga ia mengecek ulang beberapa peralatan yang wajib selalu ada dalam bagasi vespa nya. Oli samping, obeng, kunci ganjil, tang, tali kopling, busi, dan lainnya.



Mumpung Libur Manjain Si Red Bull duluuuu ~


Beruntung ia masih terhubung dengan teman-teman lamanya dari Scooter Club Surabaya yang sering berbagi informasi di WA grup mengenai vespa. Mulai dari jual beli vespa, aksesoris, spare part, hingga event vespa yang akan diselenggarakan di Jogja pada 23-24 September 2017 mendatang. 


Well... Vespa hanyalah satu bagian dari banyak sisi kehidupan Pak Arif yang lain. Sehingga bukan berarti seluruh waktunya ia habiskan untuk itu. Ia tetap memiliki ruang lain untuk berkembang, memelihara dan merawat puluhan pasang love bird miliknya. Bukan hanya sekedar hobi, tapi sudah sampai dalam level ahli.


Karena baginya, hidup itu harus seimbang. Ada unsur hidup lain yang juga harus diperhatikan. Sedangkan passion itu bicara soal 'waktu', ia tau kapan waktunya berhenti sejenak dan membuka diri dengan peluang lain, yang akan dikenang sebagai bagian dari perjalanan hidupnya.


So take your hobby and enjoy your holiday yaaa ~



September 16, 2017

Jaga Harga Diri Tanpa Perlu Mengagungkan Gengsi


Banyak orang menemukan kebahagiaan sesederhana membahagiakan orang lain. Melakukan segala yang ia bisa, memberi semua yang ia punya, namun tetap dianggap sebelah mata. Lalu akan hinggap rasa kecewa. Tidak apa-apa. Tak perlu memohon pada siapa pun untuk mendapatkannya. 


Karena semua orang selalu benar dalam perspektifnya. Maka kita tak bisa dan tak perlu memaksa orang lain untuk berempati dan menghargai. Sehingga mereka juga tidak bisa menuntut kita untuk memahami. Well, anggap mereka hanya segelintir manusia yang dikirimkan Tuhan untuk memberi kita pelajaran.


Suami Baik Hati


Hidup ini memang tak selalu ramah. Tak selamanya hidup kita akan baik-baik saja, maka tak perlu mengagungkan gengsi. Apalagi gengsi soal materi, bikin capek sendiri. Bersikap wajar lah jika berurusan dengan gengsi. Karena gengsi hanya menjadi cerita yang tak pernah ada bagi orang-orang yang ingin hidup tenang dan bahagia. Masih ingat bukan, cerita Iblis yang 'gengsi' ketika diperintahkan oleh Tuhan untuk sujud pada Adam hingga diusir dari Surga ???  


Maka jaga harga diri kita dengan perilaku baik, bergaul dengan orang-orang baik, perlakukan orang lain dengan cara yang baik. For sure, dengan sendirinya harga diri kita akan meroket naik. Kelak yang baik-baik itulah yang akan mengantarkan kita pada terkabulnya doa. Tak ada hati yang tenang dan bahagia jika luka terus dipelihara. Akui kesalahan, belajar memaafkan, hingga tak ada lagi kebencian.


Lalu masihkah butuh penghargaan ? Pergilah ke toko pembuat piala. Bayar dan mintalah ia membuatkan satu yang terbaik untuk mu, pajang di atas meja dan pandangi lah piala itu tiap pagi :)












September 13, 2017

Membuat Skala Prioritas Demi Hidup yang Ter-Cover Dengan Baik


Gue dan adik-adik dibesarkan dalam kultur keluarga yang selalu punya skala prioritas, sehingga barang-barang apapun yang kami beli pastilah sesuatu yang benar-benar berguna dan kami butuhkan.





Ayah kami termasuk tipe orang yang cukup royal. Namun bukan berarti semua yang kami minta akan langsung dipenuhi. Biasanya ayah baru akan mulai bergerak ketika kami sudah memberi 'kode' berkali-kali. Salah satunya soal kebutuhan transportasi. Ketika masih SMP dulu, sementara teman-teman yang lain sudah menggunakan sepeda motor, gue masih setia menggunakan transportasi umum, but it's okey. Bukan karena ayah tidak mau mempermudah aktivitas gue, hanya saja saat itu belum waktunya dan motor belum jadi prioritas.

September 12, 2017

Tak Perlu Judgemental. Itu Urusan Tuhan.


Ketika beberapa orang bertanya ke gue tentang perjalanan hidup seperti apa yang sedang gue jalani saat ini, dengan lantang gue menjawab "perubahan" !


Setelah menikah di bulan Agustus tahun 2015 lalu, gue mengalami fluktuasi hidup yang luar biasa sekaligus mendapat banyak pengalaman baru. Hal-hal baru yang 'bukan gue banget' gue (coba/harus/terpaksa) jalani. Lingkungan yang baru, tanggung jawab yang lebih besar, juga hal-hal yang melibatkan rasa sedih dan kecewa. Tentu juga banyak sekali hal baik datang yang membuat gue jadi pribadi lebih kuat.






Beberapa cerita kurang menyenangkan kerap menghampiri. Banyak orang baru yang hadir dalam hidup gue. Beberapa dari mereka tidak terlalu mengenal gue dengan baik dan beberapa dari mereka suka berkomentar sinis. Gue mencoba menemukan alasan paling rasional dari sikap mereka tapi mereka tidak benar-benar paham apa yang gue rasa. Yap, begitulah hidup di tengah keberagaman sifat manusia. You definitely wouldn't believe with the way they treat me and the way they talk to me. But hey... justru itu yang membuat gue berubah dan lebih kuat :)