January 17, 2018

Mari Berhitung Pembayaran Pajak CR-V


Bulan Januari ini benar-benar istimewa banget. Si ganteng nya gue akhirnya selesai melewati proses yang cukup panjang untuk cabut berkas, mutasi, dan balik nama. Senang pastinya, karena sebagai warga negara yang baik, semuanya selesai kami urus sendiri melalui JALUR RESMI :)


Berangkat jelang siang, kami meluncur kembali ke SAMSAT Karanganyar untuk menyelesaikan keseluruhan prosesnya, termasuk bayar pajak 5 tahunan. Agak krusial ya kalau sudah berurusan dengan pembayaran pajak, hahaaa ~


Si Ganteng CR-V 2.0 A/T


Sesampainya di kantor SAMSAT Karanganyar, gue langsung menuju ke loket penyerahan STNK lalu menyerahkan surat keterangan pindah pengganti STNK yang kami bawa ke petugas. Kemudian petugas tadi mempersilahkan kami untuk menunggu panggilan dari loket kasir. Sekitar 10 menit, akhirnya nama suami gue pun dipanggil untuk menyelesaikan proses pembayaran dan menerima STNK baru. Lalu kami diarahkan menuju bagian belakang kantor SAMSAT untuk menerima plat nomor baru.


Sudah Atas Nama Suami Gue, dong :)

Berikut Detail Pembayarannya





Lalu bagaimana perhitungannya ??? Mari kita coba terka perhitungnya bareng-bareng :)



1. Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor (BBN-KB)

Dari informasi yang gue dapat, biaya yang harus dikeluarkan untuk BBN-KB berbeda-beda ya tergantung kebijakan tiap daerah. BBN untuk mobil baru biayanya sebesar 10% dari harga mobil sementara BBN untuk mobil second hanya dikenakan biaya 1% dari harga mobil. Alhamdulillah, mobil gue masuk hitungan 1% :)

1% X Rp. 280.000.000,00 = Rp. 2.800.000,00



2. Pajak Kendaraan Bermotor (PKB)

Kalau kata suami gue, untuk perhitungan pajak kendaraan bermotor biasanya mengacu pada beberapa hal : jenis mobil, tipe mobil, merk mobil, tahun pembuatan mobil, nilai jual mobil, besarnya CC, dan lain-lain.


Mobil gue berjenis Jeep, merk Honda, dengan tipe CR-V RM1 2WD 2.0 A/T CKD, tahun pembuatan 2012. Mobil ini sudah balik nama atas nama suami gue dan alamatnya di Karanganyar Jawa Tengah. Lalu cara perhitungannya bisa di cek disini


(Nilai Jual x Bobot) x Tarif = (Rp. 280.000.000,00 x 1,050) x 1,5% = Rp. 4.410.000


Hasil perhitungan ini dengan menggunakan rumus di atas agak kurang valid, ya. Karena PKB yang tertera di STNK sebesar Rp. 4.794.575,00. Gue percaya, yang pasti pihak kepolisian punya point tertentu untuk menghitung besarnya pajak di luar pengetahuan dan kemampuan gue :)


Sesuai peraturan baru tentang jenis dan tarif Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) maka : 

  • Biaya Administrasi STNK (pembuatan baru atau perpanjangan) naik menjadi Rp. 200.000,00
  • Biaya Administrasi TNKB naik menjadi Rp. 100.000,00
  • Biaya Penerbitan BPKB naik menjadi Rp. 375.000,00

Berhubung saat gue mengurus proses mutasi dan balik nama waktunya terlalu dekat dengan waktu pembayaran pajak, akhirnya bayar pajak nya telat deh. Dan seperti yang kita ketahui, jika telat membayar pajak, maka akan diberlakukan sanksi administrasi alias denda :)


Jadi :


  • Biaya Pokok PKB = Rp. 4.794.575,00 + Rp. 88.525,00 (sanksi adm) = Rp. 4.883.100,00
  • Biaya Pokok SWDKLLJ = Rp. 169.400,00 + Rp. 35.000,00 (sanksi adm) = Rp. 204.400,00
  • Biaya Administrasi STNK = Rp. 200.000,00
  • Biaya Administrasi TNKB = Rp. 100.000,00

Sehingga, total yang kami bayarkan adalah Rp. 8.871.900,00 (belum termasuk biaya penerbitan BPKB)



Alhamdulillah, selesai sudah semuanya. Jika dihitung-hitung, dari pengalaman gue mengurus semuanya melalui jalur resmi, maka total waktu yang dihabiskan kira-kira 1 bulan. Cukup panjang untuk mereka-mereka yang tidak punya banyak waktu. Jadi, akan lebih baik jika teman-teman luangkan waktu untuk mengurus 2-3 bulan sebelumnya agar tidak perlu 'menabung' denda :)


Nah... ini sedikit pengalaman gue dan suami mengurus proses cabut berkas, mutasi, balik nama, dan pembayaran pajak di SAMSAT Karanganyar. Bisa jadi sama atau berbeda dengan yang lain. Semoga bermanfaat, ya !







January 16, 2018

Jadilah Perempuan Cerdas dan Berkelas dengan Karya


Tiap hari, smartphone selalu dibanjiri notifikasi dari Line Today. Beberapa beritanya gue baca, ada juga yang gue lewatkan begitu saja. Bukan karena informasinya tidak menarik, ya. Namun biasanya gue jadi lebih excited ketika artikelnya mengangkat isu tentang perempuan. Yaaa, karena gue perempuan :)


Nah... gara-gara berita yang gue baca pagi ini, jadi tergoda juga untuk membahasnya disini. Dari sudut pandang gue sebagai seorang perempuan dan nilai-nilai yang gue yakini. Jika ada sejumlah pihak yang berseberangan dengan opini gue, bukan masalah. Semua orang bebas berjalan di atas rel nya masing-masing.





Bicara soal eksistensi perempuan. Kita semua tau peran yang dimainkan oleh perempuan sangat beragam. Mereka bisa jadi seorang istri, ibu, entrepreneur, atau eksis berkarir sekaligus. Lebih dari itu, perempuan harus menjadi objek perubahan. Dari sesuatu yang belum baik menjadi lebih baik, tanpa pernah merasa diri yang terbaik.


Yaaa... Gue mendengar banyak cerita dari beberapa kawan dan melihat keadaan saat ini. Banyak perempuan yang merepresentasikan diri sebagai perempuan mandiri dan tangguh. Khususnya dalam hal pekerjaan dan pendidikan. Sudah bukan hal luar biasa ya, melihat fenomena suami istri yang keduanya bekerja.


Apalagi ketika seorang perempuan punya daya juang tinggi, punya segudang potensi, mandiri, dan mampu memenuhi kebutuhan pribadinya. Panggilan hidup dan aktualisasi diri adalah segalanya. Gue senang melihat perempuan seperti ini. Semua laki-laki pasti bangga pula jika beristrikan perempuan dengan kriteria seperti ini.


Namun, tak sedikit kaum perempuan bekerja karena dihadapkan pada kondisi 'sulit'. Ketika mereka memilih bertukar peluh dengan rupiah, dari fajar hingga senja nampak dipelupuk mata, maka peran perempuan sebagai ibu dan pengatur rumah tangga akan banyak terabaikan. Banyak waktu dan obrolan bareng keluarga yang bakal terlewatkan. Ini yang gue sebut kebablasan.


Lalu apa yang terjadi ? Hukum rimba berkuasa. Perlakuan dan hak istimewa yang ia terima, sama pentingnya dengan uang yang ia punya. Pemahaman kesetaraan gender yang keliru inilah yang kerap ditelan bulat-bulat oleh banyak perempuan.


Kalau sudah begini, banyak suami yang tidak bisa berbuat apa-apa ketika mendapati istrinya bepergian tanpa izin. Banyak suami yang jadi minder dan kehilangan power karena merasa penghasilan sang istri lebih besar. Ketika sang istri berbuat khilaf, suami sungkan untuk menegur hanya karena merasa sang istri yang memenuhi semua kebutuhan rumah tangga mereka. Padahal sejatinya tugas seorang istri hanya 'membantu' dan 'mencari' untuk dirinya sendiri, bukan 'menggantikan' peran suami. Lalu siapa benar dan siapa salah ? Tak perlu judgemental.


Dari gue, selalu ada cara bijak yang sebetulnya dapat dilakukan agar perempuan bisa tetap berkelas dan berkarya tanpa mencederai kehormatannya sebagai seorang istri. Membuat skala prioritas. Berkarya dengan aktif di komunitas yang positif, membuka toko kue, menjadi penerjemah, menjadi pengajar paruh waktu, menenun atau menjahit, menulis buku atau aktif menulis di blog. Paling penting punya keinginan belajar tinggi and dare to begin ! Lalu SEBAAAR semua hal positif itu melalui aktifitas media sosial yang kita punya.


(Yuk bergabung di komunitas Blogger Muslimah )


Karena perempuan yang cerdas dan berkelas bukan lah perempuan yang bangga ketika eksistensi nya dipuja banyak lelaki, bukan pula perempuan yang kerap melupakan kodratnya sebagai seorang istri, apalagi kebanyakan pamer pose senyum-senyum selfie. Jangan sampai waktu kita hanya habis untuk bekerja sana sini. Ini nggak banget lah yaaa ~


Meski semuanya pilihan, pilihlah untuk menjadi perempuan cantik yang cerdas dan berkelas dengan KARYA ! Perempuan yang mampu melakoni tugas sebagai istri dengan sebaik-baiknya, mampu menjaga diri dari pandangan para pria, namun tetap eksis melalui karya tanpa mengabaikan yang jadi kewajiban utamanya.


Yaaa... suka atau tidak, inilah nilai-nilai yang gue yakini :)

































January 10, 2018

Ketika Mobil dalam Proses Cabut Berkas, Mutasi, Balik Nama, dan Pajak


Cari kendaraan yang sesuai dengan ingin nya gue dan suami itu memang susah susah gampang. Waktu itu butuh berbulan-bulan untuk dapat mobil sesuai kriteria dan budget kami.




Jadi Februari 2017 lalu gue dan suami beli mobil ini dari 'tetangga' yang tinggal di perumahan mewah dekat rumah, dengan alamat BPKB di Kota Solo. Sementara alamat tempat tinggal kami masuk wilayah Karanganyar. Berhubung gue nggak mau repot bolak balik pinjam KTP saat waktu bayar pajak tiba, akhirnya gue dan suami memutuskan untuk mutasi mobil sekaligus balik nama. 


Si Ganteng CRV 2.0 A/T Generasi 4


Sebenarnya prosesnya nggak sehoror yang orang-orang bilang, ya. Asal semua berkas yang dibutuhkan sudah dilengkapi dan dipersiapkan dari rumah. Nah, apa saja nih berkas yang wajib dibawa :

  • BPKB asli dan fotokopi 
  • STNK asli dan fotokopi 
  • KTP asli dan fotokopi
  • Kuitansi atau bukti jual beli mobil dengan materai Rp. 6.000,00


Sebelum berangkat menuju kantor SAMSAT Solo, gue dan suami menyiapkan dan membawa 'bekal' yang bakal kami butuhkan disana. Mulai dari peralatan tulis (pulpen, stipo, paper clip, dll), cemilan, dan air minum. Yang paling penting, jangan lupa bawa uang ! Hahahaaaa...


Setelah itu kami berdua langsung nge-gas menuju kantor SAMSAT Solo untuk melakukan proses mutasi (keluar) mobil. Sesampainya di lokasi, kami diarahkan menuju petugas pemeriksa yang sekaligus rangkap jabatan sebagai petugas fotokopi. Jadi buat teman-teman yang mungkin nggak punya banyak waktu untuk merangkap berkas, nggak perlu khawatir, karena petugas ini yang akan membantu kita membuat kopi berkas yang dibutuhkan (masing-masing 2 lembar).


Kemudian kami diarahkan menuju Loket Cek Fisik yang nggak jauh dari parkiran dan tempat fotokopi tadi untuk menyerahkan berkas yang sudah dilengkapi. Setelah diperiksa oleh petugas Loket Cek Fisik, berkas kami dikembalikan dan kami diberi selembar kertas gesek cek fisik untuk diserahkan pada petugas cek fisik mobil yang ada di area parkir.


Setelah membuka kap mobil dan petugas cek fisik menerima berkas dari kami, barulah proses cek fisik dimulai. Kalau kata suami gue, proses ini dilakukan untuk mengetahui kesesuaian mobil, apakah ada yang berubah atau nggak. Entah fisik mobil atau warna nya yang berubah. Juga untuk mencatat nomor rangka dan nomor mesin mobil. Untuk biaya nya, sebenarnya nggak dipungut biaya apa-apa. Namun nggak ada salahnya kalau kita beri sedikit tips ke petugas cek fisik tadi sebagai tanda terima kasih, beliau sudah rela loh panas-panasan ngurusi mobil kita :)


Cek fisik mobil selesai, kami dipandu kembali menuju Loket Mutasi untuk menyerahkan seluruh berkas dan hasil cek fisik mobil. Setelah semua berkas diperiksa dan dinyatakan lengkap, barulah kami diberi selembar formulir pendaftaran mutasi mobil dan balik nama yang harus kami isi sesuai dengan data di STNK mobil. 


Baru kemudian kami diarahkan menuju ke Loket Fiskal untuk membuat surat keterangan fiskal. Gue juga kurang paham ya fungsinya untuk apa. Dan di ruangan yang sama (maaf gue lupa loket nya apa saja) kami membayar sejumlah biaya sebesar Rp. 250.000 (kalau nggak salah) untuk biaya cabut berkas dan Rp. 367.000 untuk biaya mutasi keluar. Lalu kami diarahkan menuju kantor SATLANTAS Solo.


Di SATLANTAS Solo kami menyerahkan 1 bendel berkas dari SAMSAT Solo kebagian Loket Mutasi. Oh ya, biasanya bagian Loket Mutasi di SATLANTAS Solo sudah tutup pukul 12.00 siang. Jadi agar nggak membuang banyak waktu, sebaiknya teman-teman atur waktu agar berkas bisa diserahkan di hari yang sama. Kebetulan gue dan suami datang lewat dari jam 12.00 siang, alhasil disuruh kembali lagi keesokan harinya. Nah... esoknya setelah fotokopi ini itu sesuai yang diarahkan petugas, kami balik lagi ke Loket Mutasi. Dan ternyata, kami 'disuruh' kembali 1 bulan lagi untuk mengambil berkas keluar sesuai dengan tanggal yang tertera di map ! Gue sempat pulang ke Balikpapan dong, hahahaaa...


Singkat cerita, hari ini kami kembali ke SATLANTAS Solo untuk mengambil berkas. Setelah berkas kami terima, langsung saja kami nge-gas ke kantor SAMSAT Karanganyar untuk mengurus mutasi masuk dengan menyerahkan semua berkas tadi ke Loket Mutasi. Sama seperti sebelumnya, kami tetap melewati proses cek fisik mobil lagi.


Setelah cek fisik mobil selesai, juga semua berkas sudah di legalisir dan ditanda-tangani petugas, kami diarahkan menuju SATLANTAS Karanganyar yang berlokasi nggak jauh dari SAMSAT Karanganyar. Disini kami menuju Loket Pendaftaran BPKB dengan menyerahkan semua berkas. 


Nggak lama menunggu, nama suami gue dipanggil. Lalu petugas memberi surat keterangan pindah pengganti STNK atau semacam surat jalan gitu lah ya untuk menerangkan bahwa STNK asli sedang dalam proses dan dimutasikan atas nama suami gue. Nah, surat ini juga ditanda-tangani oleh KASATLANTAS POLRES Solo. Namun, surat keterangan ini hanya berlaku 2 bulan dan nggak bisa diperpanjang lagi ! 


Lalu oleh petugas (Mbak-Polisi-Cantik) tadi, kami diminta balik kembali 1 minggu kedepan untuk mengambil STNK baru juga diminta menunggu 2 bulan kedepan untuk dapat BPKB ! Lama dong yaaaa, hahahaaa. Gapapaaa, yang penting sudah fix atas nama suami gue dong :)


By the way... cukup panjang dan cukup jelas kan yaaa cerita pengalaman gue perihal cabut berkas, mutasi, dan balik nama mobil. Ya, prosesnya memang panjang. Namun nggak seribet yang gue bayangkan. Nggak perlu pakai calo atau biro jasa segala asal bersabar mengikuti prosesnya. Segini dulu ya ceritanya. Moga teman-teman yang juga sedang dalam proses dan ingin belajar menikmati proses, bisa lebih bersabar dari gue, hahaaa. Sampai bertemu di proses bayar pajak mobil, ya !






NOTE : Berkasnya satu bendel, banyak dan tebal banget, jadi nggak mungkin gue foto satu per satu, okay !


TIPS : Sedia uang pecahan kecil untuk biaya parkir (karena bakal bolak balik), fotokopi, dan tips cek fisik meski sebenarnya nggak dipungut biaya. Parkir mobil Rp. 3.000,00 dan tips cek fisik seikhlasnya (kalau gue Rp. 20.000,00)













January 7, 2018

3 Things I Learned in Past Year and 3 Things I Want To Do With My Life


It took me days, to think about my life, think about what I've learned in my marriage life since 2015 and what I want to do with my life. So heavy, eh ??? So as my first post in 2018, I wanted to share it with you ~


Best Friend for Life



3 Things I've Learned in My Marriage Life :



1. Alhamdulillah. My marriage life has been filled with happiness. 'Cause I was doing what I loved ; praying with my husband, keep my home clean, prepare meals for my dad-in-law, of course blogging and reading activities. Don't get me wrong, I love to go on holiday and go shopping sometimes, haha. But the reason I felt so so happy in my marriage life is when I get closer to God, stay productive and useful for everyday. Yeah... I feel that my life is more qualified than before. I'm so blessed :)


2. Meet some of the most amazing people. Moreover, after that 'heartbreak' (if you know the real story), I learn something new. It's okey not to be loved by everyone. Just to be loved by only few people will makes me more better.


  • My husband. Yeah, we are so different in a lot of ways. We had whole different cultural background, different character, different habit, and different perspective for life. I tried to fix him and he did the same. And it makes our love grow stronger, insya Allah. Let's keep this feeling more stronger ~
  • Cousin of my husband ; Mbak Tika and Mbak Yenny. Believe me, I want to talk to them in a person everyday, huhuuu.
  • Ira Puspitasari Rahayu. The woman who greatly influenced me to the world of literature. You color up my world, darl ~
  • My brother Bayu and his closest friend Nisaa, makes every journey amazing as they are.


3. Allah SWT has the best plan for me and my husband. That overcoming injustice, Allah SWT grant us something better to replace it. Our health is the most awesome blessing that Allah SWT give to us. Our financial system always stable and strong when many people doubt our ability to survive. Yeah, rizq always comes from unimagined and unexpected source :)





3 Things I Want To Do With My Life The Next After :



1. Yeah, we are waiting for children. It's confusing when I don't have the answers for them. But I'm sure Allah SWT has the best plan for us. It probably the time to takes a lot of effort, pray even harder than before, do something useful for many people. Maybe Allah SWT give us more time to plan more activities together, have time to cuddle, hihiiii. Having a baby ??? It will happen if it's meant to be, Insya Allah :)


2. You know what, getting into a bed with a good book is the best rewarding things I've done for myself in my marriage life. I decided I would read more book and always post something nice on my web. 3 books in a week and 1 post in a week. Hahaaa, good luck for me !


3. Yeah, the people closest to me know that my marriage life brought me closer to a person that never took the time to respect me and my husband. It's not about maturity as people say. It's about self-esteem and trust. And forgiving isn't easy you know. Okey, I've decided to open my heart and I've learned to forgive. But just stay far away. It's probably made living better. 



Bismillah ~





























December 28, 2017

Ketika Baca Buku Menjadi Candu


Cukup tersentak ketika membaca kekhawatiran seorang bapak di salah satu media sosial tentang rendahnya minat baca anak-anak masa kini yang lebih memilih edukasi dan hiburan menggunakan audiovisual. Lebih menikmati YouTube daripada membaca ensiklopedia. Lebih senang bermain gadget daripada belajar aksara. 'Kids jaman now' memang sudah berbeda, ya. Menurut mereka, membaca buku itu 'so last year' banget. Bagi mereka, bermain gadget dan media sosial jauh lebih menyenangkan daripada membaca buku :(


Gue bersyukur sejak kecil sudah diperkenalkan dan diajarkan oleh Ayah untuk menyukai buku. Gue ingat ketika itu, Ayah membawakan sebuah buku berjudul The Lost Boy karya Dave Pelzer, yang sebenarnya buku tersebut terlalu berat untuk bisa dinikmati oleh anak perempuan yang masih berusia 8 tahun kala itu. Buku yang akhirnya gue baca kembali dan baru bisa gue pahami ketika masuk sekolah menengah.


Buku yang diangkat dari kisah nyata tentang seorang anak laki-laki broken home yang juga mengalami child abuse, hingga ia pun hidup dalam ketakutan dan keterasingan meski tinggal bersama ibunya. Sejak membaca buku itu, gue makin bersyukur sudah dilahirkan dan dibesarkan oleh kedua orang tua yang telah melakukan perannya dengan baik, menyayangi dan memenuhi semua hak gue sebagai seorang anak.


Buku-buku Karya Ayu Utami

Buku-buku Kisah Perjalanan karya Windy Ariestanty dkk

Buku-buku Karya Arswendo Atmowiloto


Sejak itu pula, gue mulai kecanduan membaca. Tiap kali libur, gue meminta Ayah mengantarkan ke toko buku untuk sekedar baca-baca serial Goosebumps dan Detective Conan yang selalu gue tunggu-tunggu. 


Lalu kecanduan ini semakin menggila saat kuliah. Ketika itu gue berani memangkas separuh uang saku di awal bulan demi tak ketinggalan memiliki majalah dan buku favorit gue ; National Geographic, buku-buku karya Ayu Utami, buku-buku karya Windy Ariestanty, dan buku-buku karya  Ika Natassa. Gue tidak pernah menghitung secara pasti, berapa buku yang sudah gue beli lalu gue baca. Namun dalam sebulan gue bisa membeli sepuluh buku dan menyelesaikan membaca empat sampai enam buku.



Gue memilih untuk berbuat sesuatu



Yaaa... gue memilih untuk berbuat sesuatu. Menyewa satu kamar tambahan di samping kamar kost gue khusus untuk menyimpan koleksi buku-buku dan membangun 'perpustakaan kecil' di dalamnya. Memberi ruang bagi teman-teman kost untuk bebas membaca. Memulai dari hal kecil seperti ini untuk menumbuhkan minat baca. Lalu tiap satu buku yang jadi penghuni baru di rak buku, selalu gue selimuti dengan sampul plastik. Gue bubuhi tanda tangan dan tanggal pembelian. Iya, gue senang melihat buku-buku tersusun cantik dan rapi.


Pergi kemana pun, sebisa mungkin gue bawa buku untuk baca-baca. Bawa satu atau dua buku saja. Karena bisa jadi bukunya akan bertambah ketika pulang, hahaaa


Gue yang saat itu masih berstatus mahasiswi, ada kalanya ingin belanja baju-baju cantik untuk update penampilan layaknya mahasiswi lain. Namun keinginan mempercantik diri itu sering kali kalah oleh keinginan gue untuk upgrade ilmu dan hal-hal informatif yang hanya bisa gue dapat dari sebuah buku.



Dari menyukai buku, gue belajar bagaimana 'merelakan' untuk mengusahakan 'sesuatu' yang lebih besar manfaatnya.



Melalui buku The Journey yang berisi 12 kisah perjalanan yang dikemas dalam 12 cerita berbeda, kolaborasi Windy Ariestanty dengan penulis-penulis kece lainnya seperti Alexander ThianTrinityValiant Budi, dkk yang sudah khatam banget soal menulis kisah perjalanan, gue seperti sedang berada di Lucerne, Spanyol, Tel Aviv, Mekkah, New York, Andalusia, dan sedang menikmati tempat-tempat cantik di luar sana. Kisah mereka memberi percikan semangat yang besar ke gue. Hingga akhirnya patah hati membuat gue menemukan perjalanan sendiri ; Surabaya - Malang - Jogjakarta. 


Gue salut dengan keberanian seorang Ayu Utami bicara tentang seksualitas, cinta, dan nafsu dalam bukunya 'Pengakuan Eks Parasit Lajang'. Gue kagum bagaimana ia dengan berani menggunakan kosakata tabu tanpa membuat para pembacanya berpikiran kotor. Entah nyata atau tidak, tiap kalimat yang ia tuangkan dalam semua bukunya terasa penuh dengan kejujuran. Gaya bahasanya sangat argumentatif dengan penuturan bahasa sastra yang sangat apik.



Dunia ini penuh orang jahat yang tidak dihukum. Mereka berkeliaran. Sebagian karena tidak tertangkap, sebagian lagi memang dilindungi, tak tersentuh hukum atau aparat (Saman by Ayu Utami)



Dari buku pula, gue mengerti bagaimana rasanya bahagia tanpa gadget dan jauh dari hingar bingar media sosial. Ketika gue ingin bertemu kenyamanan tanpa diganggu oleh apapun dan siapapun, maka teman terbaik adalah buku. Biasanya kalau sudah begini, gue hanya berhenti membaca ketika masuk waktu sholat dan perut keroncongan. Dari bangun tidur hingga kembali tidur. Lebih bermanfaat daripada 'ngerasani' orang :)


Jadi kalau toh ditanya hobi gue apa, gue akan selalu jawab 'baca buku'. Tentang hobi jalan-jalan, apalagi belanja, aahhh sudahlah. Itu hanya persoalan duniawi yang tak akan kunjung selesai kalau gue terus mengejarnya. Perjalanan dan pengalaman hidup akan mengisi gue dengan berbagai ilmu dan rasa. Karena banyak hal di dunia ini yang belum gue tau. Dan membaca adalah salah satu cara untuk mengisi hidup gue dengan ilmu dan rasa itu.


Ketika gue menua nanti, gue berharap masih mampu berbagi hal-hal positif dan inspiratif pada anak cucu gue melalui buku yang pernah gue baca dan karya yang gue punya. Yang suatu hari akan gue baca ulang kembali bersama mereka.