May 27, 2018

Bekal Menjadi Orang Tua Baru


Kami berdua sebenarnya bukan orang yang kompeten untuk memberikan tips atau pun wejangan mengenai parenting. Pertama, menyadari kami ini calon orang tua amatir dengan pengetahuan seadanya. Kedua, calon baby nya juga masih di dalam perut :)


Ya, menjadi orang tua memang butuh persiapan dan mental baja. Tapi, kalau dibilang belum siap juga tidak. Setelah hampir 3 tahun usia pernikahan, tiap saat meminta lewat doa yang terpanjat, tiap hari meminta lewat doa dari orang-orang terkasih, akhirnya Allah bersedia menitipkannya pada kami. Senang, haru, bersyukur sekali. Perasaan yang tidak bisa digambarkan dengan jelas.


(In Frame : My Lil' Brother)


Kadang, kalau lagi ngobrol berdua bapak negara, sering tiba-tiba terlintas pertanyaan di kepala. Sebagai seorang calon ibu, bisa tidak ya nanti melahirkan seorang baby dengan jalan lahir yang sekecil itu ? Sebagai calon orang tua, sanggup tidak ya begadang tiap malam saat baby nya susah bobo ?


Belum lagi ketika ia tumbuh besar. Bagaimana mengajarkan budi pekerti padanya, bagaimana terus menjaga akhlaknya, bagaimana melindunginya, bagaimana menjaga kesehatannya, bagaimana memenuhi semua hak nya, bagaimana berlaku adil terhadapnya, bagaimana pendidikannya. Huuuaaahhh... banyak sekali pertanyaan yang rasanya tidak sanggup dicerna. 


Beruntung, kami ini dua orang yang percaya dirinya besar sekali. Keyakinan kami sangat penuh. Ketika Allah memberi amanah, ketika Allah bersedia menitipkan seorang anak pada hamba-Nya, itu artinya DIA tau orang tersebut siap dan mampu. Siap menyambut kedatangan anggota keluarga baru dan mampu mengarungi fase hidup baru bersamanya.


------------------------------------------


Ya... kehadiran malaikat kecil dalam hidup kita itu tentang kesiapan mental dan finansial. Tiap orang tua jelas berbeda-beda standar kesiapan mental dan finansial nya. Tergantung kondisi masing-masing rumah tangga.


Gue masih ingat dengan baik bagaimana kisahnya hingga kami akhirnya bisa menikah. Dua orang manusia (nekat) yang memutuskan untuk menikah dengan segala keterbatasannya. Suami masih menempuh studi S2 nya, sementara gue justru memilih untuk berhenti bekerja. Jangan tanya bagaimana besarnya badai dan olengnya kapal yang kami tumpangi saat itu. Tapi, perhitungan matematis Allah memang tidak akan pernah sama dengan perhitungan matematis manusia. Kami adalah orang-orang beruntung atas sepenuhnya keyakinan kami. Alhamdulillah Allah Maha Besar, kami masih tegak berdiri hingga detik ini. Semoga terus dicukupkan pula ilmu dan rizki untuk si baby.


(Related Post : Catatan Spiritual Menuju Pernikahan)


Kehadiran malaikat kecil dalam hidup kita juga tentang kesiapan berbagi dan kehilangan waktu. Gue dan suami harus sanggup cepat beradaptasi antara kehadirannya dengan waktu untuk mengerjakan hal lain. Harus rela kehilangan waktu istirahat, harus ikhlas tidak punya banyak waktu untuk kebutuhan sosial, harus bersedia banyak baca literatur sebagai bekal ilmu orang tua baru, harus mengesampingkan ego pribadi kalau sama-sama sibuk bekerja, tidak boleh marah melihat rumah berantakan, haha. Banyak lah pokoknya. Tapi, kehilangan waktu untuk diri sendiri, tidak akan ada artinya apa-apa dibanding kehilangan waktu bareng anak yang akan kami sesali nantinya.


Jadi ingat pengalaman orang yang sebenarnya tidak terlalu gue kenal, yang akhirnya kisahnya pun sampai ke telinga gue. Tentang seorang ayah yang putrinya secara pribadi minta disekolahkan di pesantren dan tinggal di asrama. Ehm, kedengarannya tidak ada yang salah ya dengan sekolah di pesantren. Bagus malah. Tapi, ketika gue dengar alasan si anak ingin 'mondok' hanya karena sulitnya punya waktu dengan orang tuanya yang sibuk bekerja, lebih memilih tinggal di asrama agar punya banyak teman, hati gue mendadak kelu. Yakin banget, kalau itu anak kami, kami sebagai orang tua pasti amat menyesal. Ini yang tadi gue bilang, kehilangan waktu untuk diri sendiri akan menjadi tak ada artinya dibanding kehilangan waktu bareng anak :(


------------------------------------------


Well, begitulah obrolan sersan gue dan suami. Calon orang tua baru yang masih perlu banyak belajar dari pengalaman orang lain. Kenyataannya mungkin tidak akan sesederhana itu. Tapi, satu yang kami pegang erat, anak yang dititipkan oleh Allah pada kita semua punya hak bahagia atas waktu yang kita punya. Maka, jangan sia-siakan.


Dan biarlah pengalaman yang kemudian akan memberi banyak momen berharga dan menjadi guru terbaik kita ~

May 23, 2018

Sebab Semua Perempuan Istimewa


Satu dari sekian banyak hal yang paling gue syukuri ditakdirkan dalam hidup ini adalah terlahir sebagai perempuan. Tapi, menjadi perempuan seutuhnya itu tak mudah. Banyak hal berharga yang harus dijaga.


Every Woman are Special


Gue ingat bertahun-tahun lalu, waktu awal mula masuk SMA, sulit rasanya bergaul dengan teman-teman perempuan yang lain. Gaya modis mereka dengan rambut panjang tergerai lebat sementara gue nampak cupu dengan tubuh yang berbalut hijab. Kulit wajah mereka cerah berseri sementara gue berusaha sekuat tenaga menutupi bekas jahitan panjang yang menempel di pipi kiri. Tapi, tak sedikit pun gue meminta mereka untuk berhijab seperti gue. Tidak etis rasanya kalau gue memaksa mereka berhijab sementara mereka sendiri belum siap.


April 26, 2018

Jadikan Buku dan Aktivitas Membaca sebagai Investasi Terbaik Kita


Artikel gue kali ini sebetulnya bukan ditujukan untuk memotivasi mereka yang tidak terbiasa membaca buku atau yang kurang minat membacanya. Lebih ke memotivasi diri sendiri saja, sebab memang akhir-akhir ini kecepatan membaca gue sudah kayak siput dan agak kesulitan mengatur waktu dengan kegiatan lain *sok sibuk* :))


But anyway, yang sudah mengenal gue dengan baik pasti tau kalau gue memang senang main ke toko buku, senang bawa buku kemana-mana, suka 'mbajak' suami belanja buku, selalu kalap di tempat mana saja yang memungkinkan gue untuk membeli buku dan punya ruang untuk lebih banyak membaca.


(Related Post : The Bookstore Date)


Beberapa Koleksi Buku Favorit Gue


Sayangnya, tidak semua orang dalam lingkungan keluarga atau lingkungan pertemanan gue memiliki pandangan serupa. Beberapa masih saja ada yang bicara soal untung rugi membeli buku. Daripada beli buku mahal-mahal yang ujung-ujungnya hanya jadi pajangan doang, lebih baik uangnya digunakan untuk investasi yang lebih bernilai. Dan tiap kali bicara tentang investasi bernilai, pasti yang mereka bicarakan tidak jauh-jauh seputar investasi berkelas macam investasi logam mulia, investasi properti, investasi saham, whatever. Berat shay, wkwk...


(Related Post : Begini Cara Saya Memilih Buku yang Baik)


Namun, coba bayangkan kalau semua investasi itu hilang, tidak bisa dipertahankan, dan hal berharga yang tersisa hanyalah isi yang ada di kepala. Kita tidak akan lagi dinilai dari apa-apa yang kita miliki, bukan ???

April 21, 2018

Tertib Belanja Bikin Kita Lebih Bahagia dan Bijaksana


Siapa coba yang nggak suka belanja ? Nggak suka belanja tapi suka jalan-jalan, jalan-jalan di mall lalu nggak sengaja melewati supermarket, iseng-iseng masuk lihat barang yang lagi diskon, akhirnya malah ambil trolly trus belanja deh. Ini sih gue banget, hahahaaa...


Gue termasuk orang yang membenarkan kenikmatan berbelanja. Yang membuat gue bahagia dengan belanja adalah tertib belanja untuk hal-hal yang gue hargai dan gue butuhkan untuk selalu tersedia. Belanja buku, cemilan, atau sekedar belanja kebutuhan sehari-hari. Dengan punya persediaan buku bacaan dan barang-barang kebutuhan rumah tangga yang lebih dari cukup, itu sudah membuat gue bahagia banget. 


Daftar Belanja Bulanan


Jaman jomblo dulu, gue nggak pernah sama sekali kepikiran untuk buat daftar belanja tiap kali gue pengin beli sesuatu. Semuanya hanya modal ingatan doang. Hingga akhirnya tiap kali selesai belanja selalu ada saja barang yang tertinggal untuk dibeli atau malah jadi impulsif beli barang yang sebetulnya belum terlalu dibutuhkan.

April 18, 2018

Sepotong Sajak di Barat Rindu


Waktu memang selalu berpihak pada kita, sama seperti aroma tanah basah setelah hujan, kita selalu menyimpan rindu untuk bertemu. Bagai rumah yang selalu menyediakan ruang kosong untuk singgah sewaktu-waktu, kita selalu punya banyak cara merayakan rindu. 


Pribadi yang ramah, supel, dan mudah dekat dengan siapa saja. Selalu memberi wajah bahagia dan kesan gembira. Bersama mereka, duka dan bahagia tak lagi menjadi rahasia.


Few Days Before Our Big Day


Satu hal yang paling menyenangkan dari mereka adalah kita selalu punya alasan untuk saling mencari. Mereka teman pertama yang bahagia ketika tau, bahwa tak lama setelah bertemu, aku akan menapaki hidup baru.


Saling bertemu, bicara tentang banyak hal sambil melepas rindu. Telinga dan hati kita selalu terbuka untuk menerima cerita. Mereka tak pernah membiarkan obrolan kami berlalu begitu saja tanpa canda tawa. Kalau sudah bercengkerama, dering telepon pun rasanya tak mampu mengalihkan bahagia. Segala lelucon dan pesan mereka membuatku tau bahwa segala awal yang dirasa sulit akan selalu menawarkan akhir yang baik. 


Aku sangat menghargai perhatian mereka. Membuatku makin mengerti, bahwa sebanyak apapun kita menerima, tak akan sebahagia ketika kita memberi. Dan waktu adalah hal paling berharga yang bisa kita beri pada orang-orang yang kita sayangi. Sebab waktu tak bisa diadu, atas apa yang telah berlalu, tak ada kesempatan kedua untuk memperbaiki apalagi mengulang kembali. 


Jika kata terindah adalah terima kasih, maka aku akan tulus berterima kasih, sebab rasa sayang mereka bukan lagi soal seringnya kebersamaan, tapi juga hati yang tak lelah saling mendoakan.


Semoga hidup kita akan selalu baik-baik saja, ya