February 10, 2018

Every Parent Needs To Know


Hari ini, nggak sengaja, nemu artikel yang gue ingat beberapa tahun lalu beritanya cukup menggemparkan banyak orang tua. Tentang seorang anak perempuan berusia enam tahun, yang dituntut oleh orang tuanya mengikuti banyak kegiatan belajar tambahan di luar sekolah, hingga si anak depresi dan akhirnya mengalami gangguan jiwa. 


Berbekal berita ini yang dulu sempat ramai diperbincangkan di jagat maya, jadi pengin banget bahas satu tema parenting, meski jujur gue pun belum punya kompetensi dan bayangan yang jelas soal ini, because until now we wait to have a baby...


My Lil' Brother Muhammad Iklas Yusuf Haikal


Pernah nggak sih teman-teman punya kenangan 'manis' diragukan oleh orang tua sendiri meski sudah bermetamorfosis menjadi makhluk dewasa ? Mungkin pernah ya, tapi berbeda-beda level ragu nya.


Ada orang tua yang ragu pada pilihan anak, lalu memilih berdamai dan percaya pada anak sepenuhnya. Dengan segala macam pengalaman hidup yang dimiliki orang tua, statement yang mereka tanyakan ke anak, bisa jadi hanya salah satu bentuk cara mereka memastikan bahwa si anak ini benar-benar yakin dan siap bertanggung jawab terhadap konsekuensi dari pilihannya.


Tapi ada pula orang tua yang level ragu nya pada anak lambat laun membuatnya jatuh ke dalam sikap pesimisme. Misal ketika mulai bicara soal pernikahan.


"Kamu yakin (?)"

"Nikah itu kan nggak sederhana, kan belum kelar Master nya, belum kerja juga..."

"Nanti bagaimana menafkahinya..."

"Kan belum punya rumah, mau tinggal dimana..."

"Gajinya kan kecil, uang darimana kok bisa beli ini itu, jangan-jangan......"


(Kalau yang dipesimisin itu gue, gue akan jawab...)


Nggak masalah gaji kecil, yang penting rezekinya besar


Ya... Statement mengejutkan seputar hidup berumah tangga macam itu sering kali gue dengar dari cerita beberapa teman. Kebetulan suami gue juga pernah mengalami hal yang sama.


Padahal kita semua tahu lah ya, tiap anak terlahir dengan karakteristik dan keunikannya masing-masing, meski ada beberapa perilaku yang agak mirip satu sama lain. Ada tipe anak yang cukup terbuka dan mudah diajak berkomunikasi dua arah. Ada pula tipe anak yang cenderung tertutup.


Mungkin karena teman dan suami gue termasuk tipe yang kedua, mereka jadi kerap diragukan dalam banyak hal. Semua pendapatnya justru sering dipatahkan oleh orang terdekat, orang yang berpengaruh dalam hidupnya. Salah berargumen, bisa-bisa malah akan memunculkan konfrontasi dan berpengaruh pada kesiapannya menjalani rumah tangga. 


Perasaan gue ketika mendengar cerita mereka ? Ah sudahlah, kalian pasti paham :)


Ya, gue memang belum punya pengalaman apa-apa soal take care of a child. Tapi dari pengalaman mereka, gue belajar satu hal. Bahwa kita sebagai orang tua harus peka terhadap semua pilihan dan keinginan anak-anak kita dan harus membiasakan diri berkata positif terhadap apapun pilihan hidup mereka.


Kalau toh pilihannya kelak bertentangan dengan keinginan kita, ajak ia berdiskusi baik-baik, dengarkan pendapatnya, beri beberapa pertimbangan bagaimana implikasi dari pilihannya, hargai apapun keputusannya, support dan maksimal kan seluruh kemampuan kita demi mewujudkan keinginannya. Apapun keputusannya, tunjukkan bahwa kita sangat peduli padanya.


Jangan sampai gara-gara ambisi pribadi kita sebagai orang tua, kita berbuat atau mengucapkan sesuatu yang meninggalkan jejak luka yang membekas lama di hatinya. Karena dia juga manusia yang punya rasa, sama seperti kita. 


Just give them full support that make him / her more stronger...


Pesimis atau optimis itu memang hak masing-masing orang tua. Tapi akan lebih baik kita tinggalkan kata-kata yang pesimis itu. Pada akhirnya kita harus menyadari kalau kita hanya diamanahi, mereka lah yang berhak menentukan langkah hidupnya sendiri. 


Percayalah... Allah itu baik sekali, kok :)















February 6, 2018

Let's Talk About Food Plating and Table Setup


Untuk beberapa alasan, sebuah tradisi memang harus tetap dihormati dan dijalani demi kebaikan bersama. Salah satu tradisi yang sedari dulu dianut oleh keluarga gue adalah makan bersama dengan santapan multi hidangan. 


Buat gue, acara makan bareng keluarga dalam satu meja makan selalu jadi hal paling manis yang selalu gue tunggu-tunggu. Ketika masih di Balikpapan dulu, meja makan selalu jadi tempat terbaik kami bercengkerama dan membuat kegiatan menikmati hidangan jadi aktivitas yang paling bermakna. Kami betah duduk berlama-lama dan berbagi cerita ketika jam makan tiba.


Simple Food Plating & Table Setup


Ehm... tapi pernah nggak sih kalian tiba-tiba hilang nafsu makan ketika sudah sampai di meja makan ? Padahal laparnya sudah nggak bisa ditoleransi lagi, looh...


Nah... kalau berpikir bahwa penyebabnya adalah makanan yang nggak sesuai selera, mungkin kita butuh pula mengecek bagaimana keadaan meja makan kita. Bisa jadi, penyebab hilangnya nafsu makan karena penyajian makanan serta kondisi meja makan yang tampak kotor dan berantakan.


Sayangnya, kegiatan kecil seperti ini kerap kali diabaikan. Padahal, menata meja makan itu sama pentingnya dengan cara kita menyajikan makanan. Inilah salah satu bentuk apresiasi kita terhadap makanan dan berperan besar menggugah selera makan. Untuk itu, memiliki artistic sense yang baik tuh penting banget. 


Buat gue, hakikat gastronomi makanan bukan lagi tentang makan banyak dari satu jenis makanan saja. Tapi menyantap dengan porsi kecil-kecil dari beberapa jenis makanan. Biasanya gue akan menyiapkan lebih dari satu jenis hidangan dan petit fours untuk memperluas menu. Karena makanan yang kita suka belum tentu jadi favorit juga buat yang lain. Beda lidah, beda rasa :)


Ada buah sebagai appetizermain course seperti sayur mayur, tempe atau ayam goreng, ada juga dessert hingga bermacam kerupuk. Gue tempatkan di atas wadah yang tinggi agar lebih mencolok. Semua tersaji berbarengan di meja makan. Tinggal pilih mana yang disuka.


Satu piring saji, biasanya hanya gue isi dengan satu jenis makanan. Nggak dicampur-campur agar nggak mengganggu rasa dan pandangan. Aneh deh rasanya melihat campuran makanan berbeda jenis disajikan dalam satu piring. Sisa potongan kue bolu ditaruh di atas piring yang sama dengan lauk, misalnya. Kalau kalian terbiasa menghidangkan makanan dengan dicampur-campur begini, sebaiknya tinggalkan deh...


Gue juga nggak pernah masak nasi atau membeli sayur olahan dalam jumlah banyak, agar segera habis dan nggak perlu di warm up untuk dikonsumsi kembali di hari berikutnya. Yang jelas, ketika makanan dipanaskan kembali, nilai gizi makanan tersebut akan berkurang. Jangan sampai hanya demi makan hemat dan efisien, justru efek jangka panjangnya malah membahayakan kesehatan tubuh kita.


Buat gue, kenikmatan itu harus mendahului efisiensi. Nggak perlu harus kenyang, yang penting merasa puas dan senang. Jadi, hampir nggak pernah gue menyajikan makanan yang dipanaskan berulang kali, kecuali makanan tertentu yang justru makin enak ketika dipanaskan kembali, seperti rawon atau rendang.


Untuk melengkapi gizi makanan sehat, gue suka sedia buah dan menyiapkannya di atas piring saji, diletakkan di atas meja makan berbarengan dengan makanan lain agar lebih higienis dan mudah diambil. Bisa juga disiapkan dalam bentuk potongan-potongan kecil agar lebih mudah dimakan, seperti buah pepaya, misalnya. Buah-buahan yang tersaji cantik di meja makan selalu punya andil besar membuat suasana hati gue jadi lebih baik. Bikin lebih fresh dan tentu menyehatkan.


Nah... kalau bicara tentang dessert pasti banyak yang suka deh, hahahaaa. Bagi beberapa keluarga, dessert biasanya dipadankan dengan buah. Jadi sifatnya optional. Boleh ada, boleh nggak. Tapi, berhubung gue dan suami doyan nyemil, di rumah selalu kami sediakan dessert. Tapi gue memang rada pilih-pilih kalau soal dessert. Pilih yang mudah didapat, macam brownies dan bolen pisang. Atau jajanan pasar seperti kue lapis dan onde-onde. Makanan ini semua gue sajikan di atas piring berwarna putih agar nampak lebih stand out.


Dan yang nggak boleh luput dari perhatian kita adalah menjaga kebersihan area makan dan peralatan makan yang kita punya. Bagi kita yang suka banget makan bareng keluarga di rumah, food plating dan table setup itu penting banget loh, agar aktivitas kita di atas meja makan jadi lebih optimal. 


Selamat berkreasi, ya !


























February 2, 2018

Perkara Beda Selera


Sedikit berbagi. Gue termasuk orang yang butuh banyak waktu untuk menyukai sesuatu. Menerima apa yang gue sukai dan menolak apa yang tidak bisa gue nikmati. Dalam banyak hal. Buku bacaan dan tempat nongkrong, salah duanya.


Beberapa teman yang dulu berkunjung ke 'perpustakaan' mini gue, pernah berterus-terang kalau buku-buku yang gue miliki terlalu berat. Ayu Utami, Dee Lestari, Djenar Maesa Ayu, Agustinus Wibowo, Leila S Chudori, Pramoedya Ananta Toer, Sapardi Djoko Damono. Jujur gue pribadi sangat menikmatinya, namun bukan berarti buku-buku mereka yang paling bagus. Judulnya memantik rasa penasaran, perbendaharaan kata mereka sangat luas dan kritis, mereka mengajarkan pembacanya untuk berani berpikir, cerita yang mereka hadirkan tidak begitu-begitu saja, merangsang gue ingin membacanya sampai khatam. Gue suka !


Pak Arif lagi Baca Diary Momo :)

January 29, 2018

Tentang Ruang Sederhana Untuk Bertumbuh


Gue percaya, bahwa sosok orang tua ada dalam diri kita semua. Dua sosok yang selalu memastikan hal sekecil apa pun pada kita berada dalam rel-nya dan menghendaki kehidupan kita berjalan sempurna. Kita tumbuh bersama doktrin yang mereka tanamkan dan impian yang kita pelihara.


Meski ia tak pernah sekali pun membicarakannya, kami tahu, Ayah ingin menemukan masa kecilnya kembali. Membangun rumah kecil dan membiarkan halamannya tetap luas. Bukan rumah minimalis modern ala-ala Amerika, Eropa atau sejenisnya. Tak muluk-muluk, hanya sebuah rumah ukir Limasan serba klasik, etnik, tradisional, tanpa banyak pintu, dengan halaman yang lapang.


Yang ternyata impiannya itu sejalan dengan impian suami gue. Pantas saja kami berjodoh ! Hahahaaa... nggak gitu, deng :)





January 27, 2018

Mendengar, Bercerita, Bersama Menertawakan Kehidupan


Jika ditanya siapa sosok pencerita paling baik, ya pasti orang tua kita. Gue beruntung memiliki seorang Ayah yang senang bercerita. Meski sudah tumbuh sebesar ini, gue tetap menjadi putri kecil yang senang sekali mendengarkan ceritanya. 


Setiap hari, ketika berinteraksi dengan beliau via telepon, hal yang paling gue tunggu adalah cerita-ceritanya. Ia yang selalu membuat hari-hari gue penuh dengan cerita. Meski terkadang ia hanya mengulang kembali kisah-kisah yang pernah ia ceritakan sebelumnya, gue tak pernah bosan mendengarnya.


Beliau kerap bercerita tentang perjalanan hidupnya yang relevan dengan keadaan gue saat ini. Sering sekali ia mengulang-ulang cerita ini. Jika Ayah mendapati gue sedang malas makan, misalnya. Ia pasti akan mulai bercerita bagaimana dulunya ia setelah pulang sekolah, selepas makan siang, harus pergi ke sawah milik Si Mbah untuk nandur dan merawat padi-padinya. Ya, Bapaknya Ayah, Mbah Kung adalah seorang guru yang juga seorang petani.


Lalu agar segera bisa makan, Ayah mesti susah payah menumbuk padi, mengkonversi padi nya menjadi beras. Dan seterusnya...