Tuesday, May 14, 2019

Minimalis itu Tentang Belajar Memaknai Value


Disadari atau nggak, kita lebih tertarik membicarakan hidup seseorang dari parameter kepemilikan. Sudah punya rumah sendiri, belum ? Sudah punya mobil pribadi, belum ? Eh ada iPhone keluaran terbaru, cus yuk ! Haaah... punya jet pribadi ? So, berapa aset kekayaan bersih yang lo punya ? Oh wooow ~


Sama seperti beberapa waktu lalu ketika adik saya yang paling bungsu melontarkan pertanyaan menggelitik "warna angin tuh apa, sih, mbak?" Pertanyaan-pertanyaan lucuk yang sebetulnya gak nampak sedikit pun faedahnya. Seakan-akan, makin banyak harta benda yang kita punya, maka bahagia kita. Seolah-olah, uang dan harta benda yang melimpah satu-satunya sumber bahagia.








Bagi saya, sepatu bukan hanya sekedar alas kaki, tapi juga investasi. Sudah seperti barang seni yang diburu dan dikoleksi oleh para penggemarnya. Di usia muda, saya gemar sekali berburu sepatu. Udah out of control banget lah. Ada lebih dari tiga puluh pasang sepatu dan sandal dari berbagai brand yang saya punya. Asal saya suka, pasti saya punya.




Tapi, ternyata dari seluruh sepatu dan sandal itu, hanya dua sampai tiga pasang saja yang sering saya pakai. Tentu saja, punya lebih dari puluhan pasang sepatu yang jarang dipakai rasanya sayang banget. Yang awalnya saya pikir punya banyak sepatu bakal bikin saya happy, ternyata nggak :)


Sejak menikah dan belajar mengatur hidup, ketertarikan saya terhadap sepatu pelan-pelan saya kurangi. Saya mulai mengurangi kegiatan berbelanja sepatu. Saya mulai menyortir semua sepatu yang saya punya. Berat banget, sis. Karena semuanya masih dalam kondisi baik, terawat dan disimpan dengan baik. Setelah kegiatan menyortir selesai, saya menghubungi seorang teman yang bersedia menyalurkan sepatu-sepatu saya pada orang-orang yang tepat. Yup, orang-orang yang tepat : cocok, bersedia memakai dan merawatnya


Sekarang sepatu saya hanya tersisa beberapa. Tapi, saya senang. Sebab sepatu-sepatu saya kini berada ditangan yang tepat. Saya jadi makin paham bahwa nilai sebuah barang nggak hanya diukur dari kuantitas dan harga, tapi juga pengaruhnya terhadap hati saya. Saya senang memakainya dan pada akhirnya orang lain juga bisa merasakan manfaatnya