Monday, April 20, 2026

Diplomasi Bakul Sayur

 

Assalamuallaikum, sobat sayur 👀


Saya agak malu nih mau memulai ceritanya, ehee. Jadi, setelah hampir satu tahun tinggal di rumah baru, saya akhirnya punya kenalan beberapa bakul sayur yang cukup mempermudah terlengkapinya logistik dapur di rumah. Senang banget. Satu bakul sayur yang saban hari masuk ke perumahan tempat saya tinggal dan satu lagi bakul sayur yang biasa mangkal di pos ronda kampung sebelah.






Sejujurnya, saya jarang masak. Beli sayur dan lauk matang secukupnya saja di warung Jawa langganan atau angkringan di dekat sekolah nak lanang. Malah kadang saat akhir pekan, jajan sayur dan lauk matang jauhan dikit di Dapur Solo. Sebetulnya di dekat rumah juga ada beberapa warung masakan matang langganan yang bukanya pagi sekali (sekali lagi, ini benar-benar mempermudah hidup saya). Menu kearifan lokal dan enak-enak banget seperti sayur lodeh, sayur tempe lombok ijo, sayur krecek tahu santan, sayur bayam dan lainnya. Lauk olahan ayam, ikan dan telurnya juga sangat beragam. Kikil lombok ijo juga adaaa. Jadi, tinggal pilih saja mana yang disuka 😉


Tapi, saya merasa tetap butuh bestie-an dengan bakul sayur. Demi satu dua makanan ringan sebagai menu pelengkap yang wajib ada di meja dapur : krupuk dan brambang goreng. Satu bakul sayur langganan saya tadi, selalu mangkal di tempat yang sama setiap hari, jadi saya nggak perlu bingung kemana-mana. Dia berjualan dengan motor yang populer dikalangan masyarakat pegunungan. Saya cukup bisa menebak dia berasal darimana.


Bakul sayur ini menyediakan sayur segar dan lauk yang sebagian sudah dibungkus per plastik. Selain yang tergantung di bronjongnya, dia juga menggelar lapak di sebelahnya. Ibu-ibu yang datang bebas melihat-lihat dahulu atau langsung memilih. Dia juga menyediakan krupuk dan brambang goreng yang saya butuhkan. Kemasan brambang gorengnya beragam, mulai dari 1.000 rupiah satu bungkus mini sekali makan sampai brambang goreng toples juga ada. Jenis krupuknya juga beragam, ada krupuk blek atau krupuk mawar putih kecil-kecil, ada krupuk rambak, ada krupuk ikan yang satu kemasannya (beda jumlah isiannya) dipukul rata 5.000 rupiah saja harganya. Saya suka beli krupuk di bakul sayur karena entah bagaimana krupuknya selalu terasa lebih renyah dan nggak mudah melempem.


Satu hal yang membuatnya jadi menarik, ada sebuah fenomena yang saya perhatikan tak pernah terlewat ketika jajan di bakul sayur pos ronda kampung sebelah. Barangkali sama dengan bakul-bakul sayur lainnya. Meskipun bronjong sayurnya selalu penuh bahan makanan, si abang bakul sayur ternyata bukan sekedar pedagang yang mencari keuntungan. Dia adalah penampung keluh kesah sekaligus penyambung obrolan antar ibu-ibu yang sedang berbelanja. Pembawaannya easy going dan cheerful. Selalu sabar menghadapi ibu-ibu yang nawar harganya kadang suka becandaaa dan menanggapinya juga dengan becandaaa. Nggak pernah menolak ibu-ibu yang belanjanya cuma 10.000 tapi uangnya 100.000, saya contohnya. Selalu mendengar curcol ibu-ibu yang belanja di dia, sambil tetap bergerak kesana kemari mengambilkan sayur atau bahan makanan yang dipesan. Terkadang, sesekali dia menimpali curhatan ibu-ibu tadi "iyaa, bu, harga plastik lagi mundak biangeet, harga telur naik turun, tapi beli sayur di saya aman kok bu, yang penting orang rumah tetap makan enak ya bu...". Malah lebih banyak direspon dengan guyonan yang bikin suasana perbelanjaan menjadi lebih hidup dengan kata-katanya yang menghipnotis banget itu, wkwk 😂


Sementara saya yang niat awalnya cuma pengin jajan krupuk dan brambang goreng, tetiba tape ketan, tape singkong, getuk, kolang-kaling, telur gulung, sosis dan kawan-kawannya mendadak ikut terangkut dalam kantung plastik saya, eehhhmmm. Pernah waktu itu saya bertanya "Bakulan dari mana, Mas ? Kayaknya kok jauh...". Dengan santainya dia jawab "Ibu saya asli Ngargoyoso, bapak saya asli Jatipuro, umur saya dua puluh lima tahun...". Nggak nyambung ! Tapi saya tertawa 😂


Rasa penasaran saya terjawab. Saya terkejoet luar biasa ketika tahu berapa keuntungan bersih yang dia bawa pulang. Sambil cengingisan, dia bilang "kurang lebih 200.000 bu, apalagi kalau ada ibu-ibu dengan pesanan khusus, misal iga sapi, ayam kampung atau bebek..."


Terkadang saya lihat ibu-ibu yang biasa berbelanja di dia, juga mendapat tambahan bahan sebagai bonus. Kadang ditambahi se-sachet penyedap, sebiji tomat, wortel, sejumput buncis atau lombok. Sebuah strategi pemasaran, Masya Allah. Bersama kalimat penutup yang selalu sama "terima kasih buuu, besok kesini lagi ya buuu..."


Ehmmm... ada semacam validasi emosi dari telinga yang siap mendengar lawan bicara dengan penuh. Ada kemampuan komunikasi yang tidak dimulai dari jawaban, melainkan dimulai dari kehadiran. Tidak menghakimi, cukup memaklumi. Sebab, tidak semua orang diberi kemampuan untuk bersedia mendengarkan. Saya nggak tau apa yang dirasakan ibu-ibu tadi sepulangnya berbelanja. Barangkali, ada yang lebih bersemangat setelah ngobrol ringan dengan tetangga yang tak sengaja belanja bareng, ada suasana hati yang membaik setelah curcol dengan si bakul, ada tubuh yang lebih tegap dan langkah yang lebih berani menjalani hari.


Tapi, ini bukan hanya tentang bakul sayur 😉