Pak Blangkon adalah Ketua Asosiasi Sobat Raket di sebuah Kompleks Menengah bernama Konoha Asri Village. Dalam tongkrongan Sabtu malam sobat begadang kali ini, warga melihat ia hadir membawa bahasa tubuh yang sedikit lebih gusar.
Dalam banyak situasi, ia sebagai Ketua Asosiasi Sobat Raket Konoha Asri Village, kerapkali di hadapkan pada pilihan-pilihan yang tidak mudah. Dalam hal mengambil keputusan, misalnya. Ini baru lingkup kecil, bagaimana mengurus negara, pikirnya.
Ada tugas yang harus tetap berjalan, ada fungsi yang harus bergerak sesuai posisi dan dieksekusi sesuai batas maksimal kemampuan. Ada kepentingan yang perlu dipertahankan tetapi tetap mengupayakan segalanya terjaga dalam keseimbangan. Pada tahap ini, ia kerapkali mengakalinya dengan ekspansi yang lebih halus. Sampai di sini, semuanya masih mandali, aman terkendali.
Ia tak pernah menyangkal bahwa naluri alami manusia adalah mempertahankan apa yang dibutuhkan dari sesuatu yang sudah didapatkan. Dia sadar betul, pada banyak waktu, ambisi bisa menguasai diri siapa saja. Disaat yang sama, bersyukur kebaikan hati masih sedikit banyak terjaga. Pada tahap ini, godaan untuk melakukan hal yang melanggar nurani dan kelurusan hati saling berkejaran. Ketika godaan itu telah menguasai, cepat atau lambat ketimpangan bisa terjadi.
Tetapi, ketimpangan dan keseimbangan, kebaikan dan keburukan kerapkali bersinggungan dan saling mengisi. Ada kalanya, keseimbangan yang diupayakan sebaik-baiknya, berujung pada habisnya energi dan waktu untuk diri sendiri. Sebaliknya, sebentuk ketimpangan bisa membuat diri memiliki pemahaman yang mendalam tentang kebaikan dari mundur selangkah.
Malam itu, Pak Blangkon ingat sebuah Sabda Nabi dari Hadist Riwayat At-Tirmidzi "Sebaik-baik kalian adalah orang yang paling diharapkan kebaikannya dan orang lain merasa aman dari keburukannya (aibnya terjaga). Dia merenungi kalimat paling akhir.
Lalu dia teringat, bahwa di tengah pilihan-pilihan yang tak mudah, sesungguhnya manusia hanya butuh kelapangan hati untuk berunding, keikhlasan menjalani dan hati nurani sebagai penyempurna kebaikan. Lalu ia tersadar, betapa beruntungnya manusia-manusia yang Allah jadikan ucapan dan perbuatannya sebagai kunci kebaikan. Dan harapannya masih sama.
Malam itu, tongkrongan sobat begadang berakhir dengan nyemil jadah bakar dan minum jahe bersama. Ada kegusaran yang sedikit terurai.
Tapi, barangkali ini bukan hanya tentang kegusaran Pak Blangkon ~
