December 28, 2017

Ketika Baca Buku Menjadi Candu


Cukup tersentak ketika membaca kekhawatiran seorang bapak di salah satu media sosial tentang rendahnya minat baca anak-anak masa kini yang lebih memilih edukasi dan hiburan menggunakan audiovisual. Lebih menikmati YouTube daripada membaca ensiklopedia. Lebih senang bermain gadget daripada belajar aksara. 'Kids jaman now' memang sudah berbeda, ya. Menurut mereka, membaca buku itu 'so last year' banget. Bagi mereka, bermain gadget dan media sosial jauh lebih menyenangkan daripada membaca buku :(


Gue bersyukur sejak kecil sudah diperkenalkan dan diajarkan oleh Ayah untuk menyukai buku. Gue ingat ketika itu, Ayah membawakan sebuah buku berjudul The Lost Boy karya Dave Pelzer, yang sebenarnya buku tersebut terlalu berat untuk bisa dinikmati oleh anak perempuan yang masih berusia 8 tahun kala itu. Buku yang akhirnya gue baca kembali dan baru bisa gue pahami ketika masuk sekolah menengah.


Buku yang diangkat dari kisah nyata tentang seorang anak laki-laki broken home yang juga mengalami child abuse, hingga ia pun hidup dalam ketakutan dan keterasingan meski tinggal bersama ibunya. Sejak membaca buku itu, gue makin bersyukur sudah dilahirkan dan dibesarkan oleh kedua orang tua yang telah melakukan perannya dengan baik, menyayangi dan memenuhi semua hak gue sebagai seorang anak.


Buku-buku Karya Ayu Utami

Buku-buku Kisah Perjalanan karya Windy Ariestanty dkk

Buku-buku Karya Arswendo Atmowiloto


Sejak itu pula, gue mulai kecanduan membaca. Tiap kali libur, gue meminta Ayah mengantarkan ke toko buku untuk sekedar baca-baca serial Goosebumps dan Detective Conan yang selalu gue tunggu-tunggu. 


Lalu kecanduan ini semakin menggila saat kuliah. Ketika itu gue berani memangkas separuh uang saku di awal bulan demi tak ketinggalan memiliki majalah dan buku favorit gue ; National Geographic, buku-buku karya Ayu Utami, buku-buku karya Windy Ariestanty, dan buku-buku karya  Ika Natassa. Gue tidak pernah menghitung secara pasti, berapa buku yang sudah gue beli lalu gue baca. Namun dalam sebulan gue bisa membeli sepuluh buku dan menyelesaikan membaca empat sampai enam buku.



Gue memilih untuk berbuat sesuatu



Yaaa... gue memilih untuk berbuat sesuatu. Menyewa satu kamar tambahan di samping kamar kost gue khusus untuk menyimpan koleksi buku-buku dan membangun 'perpustakaan kecil' di dalamnya. Memberi ruang bagi teman-teman kost untuk bebas membaca. Memulai dari hal kecil seperti ini untuk menumbuhkan minat baca. Lalu tiap satu buku yang jadi penghuni baru di rak buku, selalu gue selimuti dengan sampul plastik. Gue bubuhi tanda tangan dan tanggal pembelian. Iya, gue senang melihat buku-buku tersusun cantik dan rapi.


Pergi kemana pun, sebisa mungkin gue bawa buku untuk baca-baca. Bawa satu atau dua buku saja. Karena bisa jadi bukunya akan bertambah ketika pulang, hahaaa


Gue yang saat itu masih berstatus mahasiswi, ada kalanya ingin belanja baju-baju cantik untuk update penampilan layaknya mahasiswi lain. Namun keinginan mempercantik diri itu sering kali kalah oleh keinginan gue untuk upgrade ilmu dan hal-hal informatif yang hanya bisa gue dapat dari sebuah buku.



Dari menyukai buku, gue belajar bagaimana 'merelakan' untuk mengusahakan 'sesuatu' yang lebih besar manfaatnya.



Melalui buku The Journey yang berisi 12 kisah perjalanan yang dikemas dalam 12 cerita berbeda, kolaborasi Windy Ariestanty dengan penulis-penulis kece lainnya seperti Alexander ThianTrinityValiant Budi, dkk yang sudah khatam banget soal menulis kisah perjalanan, gue seperti sedang berada di Lucerne, Spanyol, Tel Aviv, Mekkah, New York, Andalusia, dan sedang menikmati tempat-tempat cantik di luar sana. Kisah mereka memberi percikan semangat yang besar ke gue. Hingga akhirnya patah hati membuat gue menemukan perjalanan sendiri ; Surabaya - Malang - Jogjakarta. 


Gue salut dengan keberanian seorang Ayu Utami bicara tentang seksualitas, cinta, dan nafsu dalam bukunya 'Pengakuan Eks Parasit Lajang'. Gue kagum bagaimana ia dengan berani menggunakan kosakata tabu tanpa membuat para pembacanya berpikiran kotor. Entah nyata atau tidak, tiap kalimat yang ia tuangkan dalam semua bukunya terasa penuh dengan kejujuran. Gaya bahasanya sangat argumentatif dengan penuturan bahasa sastra yang sangat apik.



Dunia ini penuh orang jahat yang tidak dihukum. Mereka berkeliaran. Sebagian karena tidak tertangkap, sebagian lagi memang dilindungi, tak tersentuh hukum atau aparat (Saman by Ayu Utami)



Dari buku pula, gue mengerti bagaimana rasanya bahagia tanpa gadget dan jauh dari hingar bingar media sosial. Ketika gue ingin bertemu kenyamanan tanpa diganggu oleh apapun dan siapapun, maka teman terbaik adalah buku. Biasanya kalau sudah begini, gue hanya berhenti membaca ketika masuk waktu sholat dan perut keroncongan. Dari bangun tidur hingga kembali tidur. Lebih bermanfaat daripada 'ngerasani' orang :)


Jadi kalau toh ditanya hobi gue apa, gue akan selalu jawab 'baca buku'. Tentang hobi jalan-jalan, apalagi belanja, aahhh sudahlah. Itu hanya persoalan duniawi yang tak akan kunjung selesai kalau gue terus mengejarnya. Perjalanan dan pengalaman hidup akan mengisi gue dengan berbagai ilmu dan rasa. Karena banyak hal di dunia ini yang belum gue tau. Dan membaca adalah salah satu cara untuk mengisi hidup gue dengan ilmu dan rasa itu.


Ketika gue menua nanti, gue berharap masih mampu berbagi hal-hal positif dan inspiratif pada anak cucu gue melalui buku yang pernah gue baca dan karya yang gue punya. Yang suatu hari akan gue baca ulang kembali bersama mereka.