Friday, June 7, 2019

Generasi Multibahasa


Sebenarnya, perbedaan metode parenting antara orang tua yang satu dengan yang lain memang lumrah terjadi. Tiap generasi pasti memiliki metode yang beda-beda. Nggak ada yang salah, sebab kebutuhan tiap anak juga pasti berbeda.


Bicara soal pendidikan, misalnya. Banyak sekali sekolah swasta didirikan dengan berbagai metode pembelajaran yang menarik minat para orang tua. Ada sekolah berbasis alam, sekolah berbasis internasional, sekolah berbasis agama, home schooling, dan masih banyak lagi. 


The Queen ~


Sebagai orang tua yang sok iyes, sok ideal, dan sok hipster dengan kemampuan spiritual yang masih dangkal banget, saya dan suami punya keyakinan penuh bahwa memilih pendidikan berbasis agama bisa jadi solusi untuk melekatkan nilai-nilai keagamaan dalam kehidupan sehari-hari adek Diba. Sekolah yang mengajarkan agama dengan utuh. Nggak hanya sebatas pada hafalan Al-qur'an atau tau ritualnya saja, tapi juga mengajarkan adek Diba untuk bisa memahami konsep-konsep keagamaan, menghargai keragaman, terbiasa berkompetisi dengan berani, sehingga adek Diba tumbuh dengan budi pekerti dan akhlak yang baik. Punya kemampuan multibahasa itu lebih baik :)



Well.... cerita dan pengalaman teman-teman dekat mengambil porsi paling besar sebagai referensi saya untuk pendidikan anak. Teman-teman yang punya tujuan pendidikan sejalan tentunya. Yap... multibahasa udah lama sekali menarik perhatian saya. Jaman SMA dulu, bahasa Inggris masih menjadi bahasa yang 'wah'. Kebetulan sekolah saya dulu adalah sekolah swasta Multinasional. Menerapkan dua mata pelajaran bahasa Inggris sekaligus yaitu bahasa Inggris wajib dan AMECC. Saya pribadi ngerasain banyak keuntungan yang didapat ketika mempelajari bahasa lain. Benar-benar membantu ketika komunikasi saya udah masuk dalam taraf profesi bahkan komunikasi lintas negara.


Saya nggak terlalu ingat kapan saya mulai tertarik belajar bahasa Arab. Jaman kuliah dulu, saya sering ngumpet-ngumpet ikut Halaqah yang fokusnya belajar Arabic for Qur'an dan belajar Tahsin. Teman-teman dekat nggak ada yang tau. Kenapa ngumpet-ngumpet ? Iya, soalnya nggak mau dibilang sok agamis :p


Dari situ, saya jadi hafal beberapa kosakata Arab. Saya jadi paham bahwa ternyata bahasa Arab sehari-hari agak berbeda dengan bahasa Arab di Al-qur'an. Lalu, karena keterbatasan referensi, akhirnya saya jenuh. Tapi, beberapa waktu lalu, ketika meetup dadakan dengan salah satu teman dekat, saya gemay bukan main melihat balitanya udah mahir cas-cis-cus dengan bahasa Arab. Iyaaaaa, bahasa Arab, booook. Bukan hanya bahasa Inggris.


Seketika, saya pengin adek Diba punya kesempatan yang sama untuk belajar bahasa Arab jugaaaa. Kami usahakan sejak adek Diba masih di dalam kandungan. Ayahnya memperdengarkan Al-qur'an dengan suaranya, begitu pun saya. Membaca buku kisah-kisah Nabi, membaca surah-surah pendek, memperdengarkan buku bersuara kalimat Thayyibah, dan lainnya. Meskipun masih bayi banget, saya yakin ia mengerti :)


Tapi... terlepas bagaimana metode parenting saya dan suami, juga keinginan saya menerapkan pendidikan multibahasa ke adek Diba, akankah berhasil atau nggak, saya akan tetap berusaha menegosiasikan konsep pendidikan ideal versi saya dengan pilihan dan kemampuan yang tersedia. Yang terpenting saat ini adalah banyaknya waktu bersama, kehangatan, kedekatan, dan rasa sayang antara kami dengannya. Semua butuh waktu dan proses yang nggak sebentar.


Alih-alih mengeluh dengan proses yang panjang, ah iyaaa, semoga kami diberi sabar yang membentang ~