April 12, 2019

Menerjemahkan Dewasa


Saya punya hubungan yang sangat dekat dengan ayah. Meski udah menikah, ayah nggak pernah absen menelfon saya tiap siang. Ayah adalah 'tempat' pulang paling nyaman untuk saya berbagi cerita. Kalo ceritanya berfaedah, biasanya ayah hanya mendengarkan. Tapi kalo ceritanya unfaedah macam "duh... capek banget aku Yah", selalu begini responnya :


"anak muda jaman sekarang beda ya dengan anak muda jaman dulu, dikit-dikit ngeluh..."

atau

"kalian tuh masih muda, jangan gampang ngomong capek..."


Hwahahahaaa ~


Padahal diusia yang sama, menurut cerita ayah, selepas subuh ia udah bikin sarapan untuk adik-adiknya sebelum berangkat sekolah, nyiapin bahan-bahannya sendiri dan masak sendiri pula. Cuci pakaian, bersihkan rumah, semua betul-betul dikerjakan sendiri. Nggak heran sampai sekarang ayah terbiasa menyelesaikan urusan domestik sendiri. Btw, ayah juga membangun rumahnya sendiri. Mulai dari bikin rancangan, pemilihan bahan, semuanya ia kerjakan sendiri. Padahal ayah sekolah teknik mesin, bukan arsitektur :))







Pun nggak jauh berbeda dengan adik-adiknya. Mereka udah terkualifikasi sebagai chef dan desainer yang jempolan. Tante saya, semuanya mahir memasak dan masakannya juara banget. Mereka juga biasa merancang dan menjahit sendiri pakaiannya untuk acara keluarga atau hari raya. Ajaibnya, mereka pun bisa memperbaiki instalasi air yang bocor. Serba bisa ! Dan semua itu bisa mereka kerjakan tanpa perlu repot-repot kuliah fashion design atau teknik sipil. Saya nggak pernah tau darimana mereka mempelajari semua itu. 


Sementara saya, yang udah jadi ibu muda pun masih belum bisa mengerjakan hal-hal yang harusnya udah saya kuasai jauh sebelum menikah. Saya nggak terampil menjahit, belum jago masak enak dan yang pasti nggak bisa ngangkat galon ! Jangankan masak enak, suruh bedain mana lada mana ketumbar aja nggak bisa :(


Trus bisanya apa, dong ? Oh tentu aja saya bisa menjelaskan tentang metabolisme dan pengendalian senyawa-senyawa biomolekul penyusun organisme, glikolisis aerobik, glikolisis anaerobik, dan kawan-kawannya. Tapi, saya ragu. Dalam hidup kita akan lebih berguna mana tau tentang biomolekul penyusun organisme atau bumbu dapur untuk bikin rawon ? Coba sana tanya sama mama kalian, wahahaha :))


Saya lalu bertanya-tanya, kenapa bisa beda gitu ya antara saya dengan ayah diusia yang sama ? Setelah saya pikir-pikir semua perbedaan itu terjadi karena saya dan ayah tumbuh di lingkungan dan zaman yang berbeda. 


Ayah tumbuh disaat kondisi negara kita belum stabil, banyak tragedi, masih banyak konflik, sehingga diusianya yang masih muda ayah diajarkan oleh kedua orang tuanya untuk bisa mengambil tanggung jawab lebih cepat. Lingkungan tempat ayah dibesarkan juga didominasi oleh orang-orang yang berpikir sangat sederhana. Teknologi pun belum sekompleks sekarang. Sehingga lebih mudah merasakan syukur. Barangkali, makan nasi hangat dan tempe goreng aja mereka udah merasa bahagia.


Beda dengan generasi kita apalagi generasi setelahnya, ups ! Kita dibesarkan dalam lingkungan yang aman dan sangat stabil. Saya pun nggak pernah merasakan tantangan seperti yang pernah ayah alami. Belum lagi makin canggihnya teknologi. Semuanya serba ada dan serba mudah. Dampaknya membuat kita jadi manja, sering ngeluh, ketergantungan, takut menghadapi masalah, dan gampang nyerah.


Wajar kalo generasi kita jadi cenderung telat dewasa. Kabar baiknya adalah, kita nggak sendirian, hehe. Banyak kok orang dewasa yang masih kekanakan, dikit-dikit ngeluh, selalu merasa kurang, selalu membanding-bandingkan, ingin ini ingin itu banyak sekali, ya semacam kurang bersyukur lah.


Tapi, jangan senang dulu. Kita harus tetap belajar untuk keluar dari zona nyaman. Kalo saya, selalu membiasakan diri untuk mengerjakan apa-apa sendiri. Request suami saya "belajar jadi ibuk yang nggak emosyenel, doooong (?)" 


Bwahahahahaaaaa ~

No comments:

Post a Comment