March 3, 2018

Storytelling, Agar Tulisan dan Cara Mengajarmu Jadi Lebih Asyik


Ehm, kebetulan mas suami adalah seorang pengajar. Sebagai orang yang berkecimpung dalam dunia pendidikan dan acapkali menulis dengan gaya ilmiah populer, ia tidak terbiasa jika harus menulis dan mengajar dengan gaya storytelling. Sebab mahasiswa dan target pembacanya ialah mereka yang bergerak dalam bidang ilmiah tertentu. 



(Illustration from Twitter)


Diakuinya pula bahwa mengajar mahasiswa teknik dengan metode storytelling itu tidak mudah. Sehingga untuk menemukan ide, menganalisa permasalahan dengan lebih detail, menambah perbendaharaan kata, menyampaikan materi dengan bahasa yang ringan dan dengan gaya yang menyenangkan, seorang pengajar memang butuh banyak membaca, mengembangkan kemampuan berbahasa dan terus menambah jam terbang.


Mengajar mahasiswa teknik dengan mengangkat pengalaman-pengalaman dramatis lebih dulu atau membukanya dengan cerita-cerita remeh, barangkali perlu. Tapi ini yang diakuinya cukup sulit, tau sendiri dong gimana karakter anak teknik, hahahaaa.


Namun, metode storytelling ini pernah diadopsi oleh dosen pengampu mata kuliah kimia anorganik gue dulu. Namanya Pak Djoko. Ia selalu mengawali dan mengakhiri kelas dengan bercerita. Cerita-ceritanya tidak melulu soal materi bahan ajar. Tentang masa-masa kuliahnya, kisah heroisme saat ia masih berstatus mahasiswa, pengalaman kerja sebelum menjadi dosen, tentang jiwa bisnisnya yang lebih besar daripada jiwa mengajarnya, bahkan sampai pengalaman patah hati, hahahaaa. Ceritanya selalu segar, memancing perhatian, tidak monoton, dan ia selalu bisa menghubungkan cerita-ceritanya dengan materi perkuliahan.


Selalu mempermudah tugas mahasiswa, no paper. Memberi tugas kuliah dan soal ujian melalui e-mail. Mahasiswa juga wajib menjawabnya dalam bentuk PDF dan mengirimkannya kembali melalui e-mail. Beliau pun akan langsung memberi feedback. Harus tepat waktu. Kalau tidak, siap-siap untuk menatap nanar nilai D dalam prestasi studimu.


Sehingga secara tidak langsung, beliau ingin agar mahasiswa nya melek teknologi dan tetap bertanggung jawab penuh pada diri sendiri. Hebatnya, dengan caranya itu, tidak ada mahasiswa yang langsung bersikap 'ngelunjak'. Tidak ingin berlebihan memuji, tapi ya begitulah beliau :)


Pernah diajar oleh beliau membuat gue menyadari satu hal. Untuk jadi pengajar yang 'asyik', barangkali tidak perlu harus selalu menyampaikan materi di kelas dengan bahasa seperti yang sering kita baca di jurnal terindeks Scopus. Pengajar dan yang diajar juga butuh yang segar-segar, lho. Dengan cara dan gayanya sendiri :)