March 3, 2018

Bahasa dan Distorsi Makna


Disadari atau tidak, rupanya media sosial punya pengaruh yang besar dalam hidup kita. Berkembangnya media sosial, memungkinkan kita terhubung dalam media sosial yang sama untuk berkomunikasi dan berbagi informasi. Membuka peluang bagi siapa saja untuk berbagi cerita dan memberi feedback secara terbuka.


(Ilustrasi dari Mbah Google)


Instagram, Facebook, Youtube, Twitter dan Blog, misalnya. Banyak yang terlihat mampu bercerita dan menulis. Namun, kenyataannya tak banyak yang bisa menulis dan bercerita dengan benar.


Luar biasanya bahasa, apapun yang kita sampaikan atau tuliskan, secara tidak langsung mampu menggiring opini publik dan mempertontonkan kualitas verbal kita. 


Status dan komentar di media sosial, interaksi di konten video, maupun penulisan akademik. Apapun jenisnya, gaya kepenulisan kita sangat dipengaruhi oleh diksi. Dari situ, akan terlihat dengan jelas, bagaimana kelengkapan informasi yang kita punya.



Cukup kaget sebenarnya, melihat fenomena saling serang di media sosial akhir-akhir ini. Provokasi, menghujat satu sama lain, berseteru atas nama perbedaan, saling menuduh, pesimistis, dan ujaran kebencian. Pilihan kata, struktur sintaksis kalimat, bahasa yang disematkan jauh dari logika orang terdidik. Semuanya amat sangat amburadul.


Yang sangat disayangkan, semua itu ditulis maupun diucapkan dengan penuh kesadaran tanpa mempertimbangkan kaidah berbahasa. 



Yaaaa, sesuatu yang 'negatif' mustahil sempat memikirkan bahasa yang tepat,ya. Hahahaaaa.....



Mengubahnya memang tak mudah....



Namun semuanya bisa dipelajari dengan banyak membaca buku



Sederhana banget, ya... :)


Kebetulan suami gue seorang akademisi kampus. Ia dengan background pendidikan teknik, pasti punya cara pandang yang berbeda dengan seorang sastrawan, misalnya. Sehingga untuk menemukan ide, menganalisa permasalahan dengan lebih detail, menambah perbendaharaan kata, memaparkan suatu argumen dengan benar, menyampaikan ide dengan bahasa yang lebih baik, menghindari mis komunikasi dengan anak didiknya, memang butuh banyak membaca.


Ketika kami berdiskusi, sebenarnya ia cukup sependapat. Ia sadar betul, pentingnya membaca dan pemahaman berbahasa. Ia sendiri tidak terlalu sering membaca buku, namun diakuinya membaca itu satu kebutuhan penting. Bisa berasal dari sumber apa saja, kemudian dikomparasi dengan text book, agar paham betul dasar argumennya dan lebih sistematis.


Berikut contoh sederhana pentingnya pemahaman berbahasa :


(Ilustrasi dari Twitter)


Dari contoh soal di atas, jelas terlihat bahwa struktur sintaksis nya tidak jelas dan terjadi distorsi makna. Hubungan antar kalimatnya tak beraturan sehingga maknanya jadi buram. Kalau sudah begini, jadi tau kan bagaimana pentingnya pemahaman berbahasa (?)


Dalam 'dunia' suami gue, ketika mahasiswa atau dosen berhasil menyelesaikan penelitian dengan baik, disaat yang sama pula mereka dituntut mampu memaparkan dan menuliskannya dengan benar. Basic skill yang harus dimiliki oleh seorang pengajar. Karena menulis butuh kekayaan berbahasa, maka membaca jadi wajib hukumnya. Bahkan bagi seorang dosen yang telah banyak menerbitkan jurnal berskala internasional dan terindeks Scopus pun.


Untuk itu, agar bisa memahami konsep secara mendalam, ia membiasakan diri banyak membaca text book atau jurnal, serta terus berlatih menulis artikel yang memenuhi standar publikasi ilmiah, baik nasional maupun internasional.


Ketika di rumah pun, kami suka melakukan aktivitas yang serupa. Agar lebih cepat paham, gue senang membaca buku kemudian gue tulis resensinya dalam sebuah buku kecil. Sementara suami gue membuat PPT dan catatan kecil berupa mind maping yang berisi poin-poin materi perkuliahan. Untuk itu, mau tidak mau, ia harus membaca buku terlebih dahulu. Sehingga, tiap kali ia menceritakan aktivitasnya selama mengajar, sebenarnya ia sedang mengulang kembali apa-apa yang sudah ia pelajari di rumah. Seperti inilah metode membaca dan menulis kami... 


Well... diakhir tulisan gue kali ini, gue hanya ingin bilang. Yuk, pelajari hal-hal baru. Belajar linguistik dan banyak baca buku. Tanpa batasan. Baca buku apapun yang kita suka, worth reading, apapun background pendidikan dan pekerjaan kita.