February 2, 2018

Perkara Beda Selera


Sedikit berbagi. Gue termasuk orang yang butuh banyak waktu untuk menyukai sesuatu. Menerima apa yang gue sukai dan menolak apa yang tidak bisa gue nikmati. Dalam banyak hal. Buku bacaan dan tempat nongkrong, salah duanya.


Beberapa teman yang dulu berkunjung ke 'perpustakaan' mini gue, pernah berterus-terang kalau buku-buku yang gue miliki terlalu berat. Ayu Utami, Dee Lestari, Djenar Maesa Ayu, Agustinus Wibowo, Leila S Chudori, Pramoedya Ananta Toer, Sapardi Djoko Damono. Jujur gue pribadi sangat menikmatinya, namun bukan berarti buku-buku mereka yang paling bagus. Judulnya memantik rasa penasaran, perbendaharaan kata mereka sangat luas dan kritis, mereka mengajarkan pembacanya untuk berani berpikir, cerita yang mereka hadirkan tidak begitu-begitu saja, merangsang gue ingin membacanya sampai khatam. Gue suka !


Pak Arif lagi Baca Diary Momo :)


Dengan usia gue yang kala itu masih menginjak 18 tahun (apa 20 tahun ya ? lupa !), gue dianggap terlalu filosofis dan mereka sangsi gue sanggup mencernanya. Padahal, di waktu yang sama, gue pun menikmati buku-buku yang gaya bertuturnya lebih friendly namun tetap insightful, macam buku-buku karya Ika Natassa dan Windy Ariestanty


Gue pernah mencoba baca beberapa buku laris karya si abang Komika itu (you know who lah) yang hampir semua ceritanya seputar percintaan, romantisme, dan kegalauan anak muda. Walaupun pernah membacanya, tidak berarti gue suka. Bahasanya terlalu anak muda. Kurang pas dengan idealisme dan umur gue yang bukan bocah lagi.


Namun, gue juga tidak menutup diri dari apa yang orang banyak suka. Genre apapun. Termasuk buku-buku laris seperti buku-buku karya Tere Liye, Boy Chandra, Alexander Thian, Andrea Hirata, dan tentu banyak penulis keren lain yang tidak gue sebut disini. Karena mau bagaimana pun, gue hidup di tengah kepopuleran yang majemuk. Bukan nggak mungkin gue akan ikutan suka.


Sama halnya dengan tempat nongkrong. Gue bukan termasuk orang yang suka mutar jalanan hanya untuk mencari tempat nongkrong asyik. Toko buku sudah cukup bikin gue bahagia dan selalu jadi sudut kenangan gue. Nongkrong sambil curi-curi wawasan ceritanya. Apalagi dalam kondisi dompet tebal, senang !


Jadi, kalau toh gue menyukai sesuatu yang 'beda', entah itu karena terlalu filosofis seperti yang mereka bilang, bukan berarti itu keren. Gue hanya manusia biasa, sis. Ini perkara beda selera saja, and it's normal. Ya karena tiap manusia itu berbeda, punya selera berbeda yang mungkin saja bisa berubah. 


So just let people be enjoy about the things they love ~