January 27, 2018

Mendengar, Bercerita, Bersama Menertawakan Kehidupan


Jika ditanya siapa sosok pencerita paling baik, ya pasti orang tua kita. Gue beruntung memiliki seorang Ayah yang senang bercerita. Meski sudah tumbuh sebesar ini, gue tetap menjadi putri kecil yang senang sekali mendengarkan ceritanya. 


Setiap hari, ketika berinteraksi dengan beliau via telepon, hal yang paling gue tunggu adalah cerita-ceritanya. Ia yang selalu membuat hari-hari gue penuh dengan cerita. Meski terkadang ia hanya mengulang kembali kisah-kisah yang pernah ia ceritakan sebelumnya, gue tak pernah bosan mendengarnya.


Beliau kerap bercerita tentang perjalanan hidupnya yang relevan dengan keadaan gue saat ini. Sering sekali ia mengulang-ulang cerita ini. Jika Ayah mendapati gue sedang malas makan, misalnya. Ia pasti akan mulai bercerita bagaimana dulunya ia setelah pulang sekolah, selepas makan siang, harus pergi ke sawah milik Si Mbah untuk nandur dan merawat padi-padinya. Ya, Bapaknya Ayah, Mbah Kung adalah seorang guru yang juga seorang petani.


Lalu agar segera bisa makan, Ayah mesti susah payah menumbuk padi, mengkonversi padi nya menjadi beras. Dan seterusnya...






Saat berbincang dengan Ayah, gue juga suka mencuri-curi waktu bercerita. Curhat lebih tepatnya. Saat-saat seperti ini, posisi Ayah beralih menjadi seorang pendengar. Reputasinya sebagai seorang pendengar, tak perlu diragukan lagi. Tanpa menyela ia terus mendengarkan cerita, memahami, lalu menasihati gue sambil ia bercerita kembali. Rasa nyaman mendengar dan bercerita dengan Ayah membuat gue merasa bahwa Ayah selalu ada di sisi gue untuk menjaga meski kami berjauhan. Cinta dan cerita Ayah benar-benar memberi gue kebahagiaan.


Begitu pun ketika bersama si suami. Dengan karakternya yang pendiam, gue yang selalu punya peran dominan bercerita. Dia yang paling tahu, gue gemar sekali membeli buku. Setelah bukunya habis gue baca, gue suka menceritakan kembali padanya.


Ya, bercerita itu sesuatu yang menyenangkan buat gue. Gue butuh hati dan sepasang telinga yang siap mendengarkannya. Kalau sudah begini situasinya, ia lebih banyak mendengarkan. 


Namun berbeda cerita ketika ia selesai mengajar. Banyak sekali cerita yang ia bawa pulang ; tentang kekonyolan Mahasiswanya, tentang soal ujian yang mesti ia buat, tentang setumpuk kertas yang mesti ia koreksi, tentang makan siangnya hari itu, dan lainnya. Atau selepas ia menonton sebuah tayangan inspiratif di YouTube, ia suka menceritakannya kembali ke gue. Terkadang gue suka amaze dengan dia, introvert namun pandai bercerita. 


Begitu terus. Saling bercerita dan saling mendengarkan. Menjadi pendengar dan pencerita dalam satu waktu. Menjadi pendengar dan pencerita yang tak pernah hilang salah satunya. Lalu bersama-sama menertawakan kehidupan...