October 30, 2017

Menemukan Tempat Pulang Ternyaman


Membuka kembali kotak ingatan yang penuh kehangatan. Selama hampir 18 tahun gue tinggal di rumah yang tidak lebih luas dari rumah yang saat ini gue tinggali. Tempat pulang paling nyaman. Bahagianya gue sejak kecil terukir disana. Tempat dimana gue menghabiskan banyak waktu dengan Ayah. Tempat dimana makanan amat berlimpah. Tempat dimana mencari apapun terasa mudah. Tempat dimana gue menemukan kebahagiaan dan selalu merasa hidup lebih berkah. Juga tempat gue mencipta kebahagiaan yang lain, menikah.



Home Is Where My Father Is (Balikpapan)


Kemudian takdir hidup membawa gue menetap di kota sejuta taman itu dan disana lah gue temukan tempat pulang paling nyaman kedua, tempat dimana gue dengan leluasa dapat bercakap dengan mereka yang memiliki passion yang sama. Tempat dimana gue bebas berekspresi tanpa takut menimbulkan luka. Tempat dimana gue selalu punya ruang untuk berkarya di bidang yang gue suka. 


Home Is Where My Husband Is (Solo)


Meski tak selamanya takdir itu berpihak pada apa yang gue mau. Kini, disini lah gue ditempa untuk menjadi dewasa. Mungkin sekilas rumah ini nampak besar bagi siapa saja yang pernah singgah. Namun, makin lama rasa kaku makin merasuk dan tak dapat terelak. Jarang ada obrolan, jarang ada canda tawa. Istri dan suami yang tak saling bercakap, anak dan orang tua yang tak nyaman berlama-lama bicara, adik dan kakak yang tak saling berempati. Layaknya tempat singgah hanya untuk sekedar melepas lelah.


Namun bagaimana pun keadannya, bagi gue saat ini, tempat pulang paling nyaman adalah tempat dimana suami gue berada. Membangun bahagia bersama. Tempat dimana setiap pagi gue menyajikan secangkir kopi untuknya. Tempat dimana setiap hari gue jaga kebersihannya. Tempat dimana gue menyimpan banyak buku dan tak bosan meski berulang kali membacanya. Tempat dimana selalu membuncah rasa syukur atas apa yang kami miliki berdua. Tempat dimana kami saling memberi rasa aman, rasa nyaman, dan rasa sayang hingga segalanya terasa lebih mudah. Bersamanya, dimana pun menjadi tempat paling nyaman untuk pulang. 


Jangan sampai tempat pulang paling nyaman ini berubah gersang sebab hilangnya sayang. Karena sesungguhnya toxic relationship itu bukan hanya perkara suami istri yang tak tinggal bersama, namun juga mereka yang hidup di bawah atap yang sama tapi tak ada cinta di dalamnya.


Sebab sesungguhnya, tempat pulang paling nyaman bukan dimana kita berada, namun dengan siapa kita rela dan sanggup berjuang bersama melewatinya ~