September 13, 2017

Membuat Skala Prioritas Demi Hidup yang Ter-Cover Dengan Baik


Gue dan adik-adik dibesarkan dalam kultur keluarga yang selalu punya skala prioritas, sehingga barang-barang apapun yang kami beli pastilah sesuatu yang benar-benar berguna dan kami butuhkan.





Ayah kami termasuk tipe orang yang cukup royal. Namun bukan berarti semua yang kami minta akan langsung dipenuhi. Biasanya ayah baru akan mulai bergerak ketika kami sudah memberi 'kode' berkali-kali. Salah satunya soal kebutuhan transportasi. Ketika masih SMP dulu, sementara teman-teman yang lain sudah menggunakan sepeda motor, gue masih setia menggunakan transportasi umum, but it's okey. Bukan karena ayah tidak mau mempermudah aktivitas gue, hanya saja saat itu belum waktunya dan motor belum jadi prioritas.


Setelah menikah, skala prioritas gue pun berubah. Jika dulu dalam seminggu gue selalu punya pengeluaran tetap untuk 4 buku baru, sekarang tidak bisa begitu. Agar semua kebutuhan primer gue, suami, dan seisi rumah bisa ter-cover dengan baik, maka kami harus mengesampingkan ego untuk belanja barang yang tidak ada urgensinya. Ketika kebutuhan primer sudah terpenuhi, baru kami akan beranjak memenuhi kebutuhan sekunder dan tersier. Intinya, gue dan suami hanya akan membeli barang sesuai kebutuhan dan bisa digunakan dalam jangka panjang.


Yang pasti kebutuhan pokok tiap rumah tangga itu berbeda-beda ya. Ketika dulu smartphone masih menjadi bagian dari kebutuhan sekunder, buat kami sekarang smartphone sudah masuk dalam kategori kebutuhan primer. Hampir seluruh aktivitas kami terbantu dengan adanya smartphone. Memantau kondisi orang tua, berbagi kabar dengan teman, sampai menjawab e-mail di luar rumah menjadi mudah karena smartphone. Jadi ketika smartphone gue mendadak rusak beberapa waktu lalu, gue wajib segera menggantinya dengan yang baru. 


Bersyukur... gue dan suami bukan pemuja barang mewah. Tapi kami menyukai barang-barang berkualitas. Sehingga pilihan kami akan jatuh pada barang-barang yang harganya seimbang dengan fungsi dan kualitasnya. Artinya, kami tidak akan ngotot mengeluarkan uang untuk membeli barang mahal demi gengsi. Namun kami juga tidak akan membeli barang yang ternyata buruk kualitasnya hanya karena murah harganya.


Seperti mobil, menurut gue mobil masuk dalam kategori kebutuhan jangka panjang. Berhubung gue dan suami menggunakan mobil hanya untuk perjalanan jauh luar kota, maka kami perlu membeli mobil yang nyaman dan baik secara performa. Sehingga butuh banyak pertimbangan dan harus selektif memilih (Baca juga yaaa : Point Penting Yang Wajib Diperhatikan Saat Membeli Mobil )


Begitu pun soal penampilan. Gue hanya senang memakai baju atau sepatu yang membuat gue nyaman. Meski terkadang untuk mendapat kenyamanan itu ada harga lebih yang harus dibayar. Yang pasti, baju yang ingin gue pakai harus berkualitas baik. Karena kualitas pakaian baik biasanya sebanding dengan daya tahan yang lebih lama.


Prinsipnya, selama barang itu bisa menunjang dan mempermudah aktivitas kami, juga akan digunakan dalam jangka panjang, tak mengapa jika harus mengeluarkan dana lebih banyak untuk itu. Yang penting tidak berlebih-lebihan saja....