September 29, 2017

Memadukan Profesi Dosen dan Wirausaha. Kenapa Tidak (?)


Sudah sejak beberapa tahun belakangan, kami sangat excited melihat prospek pasar yang cukup baik untuk pengembangan ternak lovebird sebagai usaha (utama) yang kami jalankan. Mengapa gue sebut utama ? Karena jika bicara soal pendapatan, (sorry to say) jauh lebih besar dari penghasilan suami gue sebagai pengajar. Mengapa lovebird breeding ? Karena passion suami gue ada disini. 


Meski mobilitas mengajarnya cukup tinggi,  ia tidak pernah khawatir kehilangan waktu untuk tetap merawat puluhan pasang lovebird nya dengan sepenuh hati. Apalagi masih baik prospek pasarnya dan relatif cepat pengembalian modalnya.






Namun euphoria itu sering diredupkan oleh komentar-komentar pesimis dari orang-orang dengan harapan tipis. Melihat dari lubang sempit dan merasa semuanya tidak mungkin. Rencana yang begitu besar dan sudah dibangun sematang-matangnya bisa saja kalah dengan komentar semu itu yang sejujurnya tidak begitu perlu. Dan ternyata jika diperhatikan lebih jauh, semua yang dikhawatirkan itu hanya lah soal materi dan gengsi :)

"Lulusan S2 masa ternak lovebird ?"
"Bagaimana nanti kalau ada keperluan mendadak sementara lovebird nya belum terjual ?"
"Sedangkan siklus tahunan harga lovebird itu naik turun dan pendapatannya tidak pasti, darimana nanti menutupi biaya pakan nya ?"
"Dan banyak pemain lovebird baru bermunculan, makin banyak saingan donk?"



"Lebih baik cari peluang jadi PNS, tingkatkan kualifikasi untuk segera dapat NIDN, jadi bisa bekerja normal dan punya penghasilan yang pasti..."


Yaaa... ujung-ujungnya semua jadi digampangkan dan nampak lebih nyaman. Komentar pesimis itu ibarat obat yang pahit rasanya, namun tidak meredakan rasa sakitnya.


Lalu bagaimana cara menyikapinya dan apa yang kami lakukan ??? Cuekin saja. Berusaha sebaik-baiknya. Berbuat lebih banyak dari biasanya. Komitmen pada keduanya dan tidak meninggalkan salah satunya. Baginya, profesi dosen itu panggilan hati dan lovebird breeding itu passion diri. Ia tetap menjaga kredibilitasnya sebagai seorang pengajar setiap hari dan merawat makhluk-makhluk ciptaan-Nya dengan senang hati. Dan gue ? tetap berkarya dengan menulis.








Ia merawat lovebird secara rutin dengan pembersihan area dalam sangkar dan sekitar kandang, menjaga konsistensi pakan lovebird, memisahkan calon indukan lovebird yang kurang sehat, menyilang lovebird untuk mendapatkan warna mutasi yang bagus, memasarkan lovebird di awal bulan, loyalitas dengan para pelanggan, menjaga kepercayaan pelanggan dengan menyediakan lovebird yang berkualitas baik, dan menyisihkan waktu untuk belajar dari penangkar lovebird lain yang lebih expert. Terkadang ia sering dapat pertanyaan lalu memberi semacam tutorial pada teman-temannya sesama lovebird breeder. Cara ini secara umum juga dapat berlaku untuk usaha-usaha lainnya : terus belajar dan lakukan semua yang terbaik :)


Mengembangkan usaha ini seorang diri memang agak sulit ya, terutama soal tenaga dan pembagian waktunya dengan mengajar. Namun ini justru perlahan membuat ia jadi benar-benar memahami bagaimana perilaku dan karakter lovebird yang ia pelihara, serta bisa menyesuaikan diri untuk mengoptimalkan waktu istirahat yang ada. Ini menjadi modal besar baginya untuk terus mengembangkan ternak lovebird nya.


Soal pembagian waktu sebenarnya cukup sederhana. Biasanya suami gue berangkat mengajar sekitar pukul 6.30 pagi dan pulang sekitar pukul 4.00 sore. Waktu mengurus lovebird biasanya setelah subuh sekitar pukul 5.30 dan malam hari sekitar pukul 7.30. Setelah subuh ia mengecek, menambahkan atau mengganti pakan dan malam hari ia membersihkan dan mengganti air minum. Semuanya ia kerjakan sendiri. Disela-selanya ia tetap punya waktu untuk beristirahat lalu mempersiapkan materi mengajar hari berikutnya. 


Well... terhadap komentar-komentar pesimis tadi, terlalu buang-buang waktu rasanya jika kami hanya memikirkannya. Lebih baik terus belajar dari mereka-mereka yang selalu optimis. Namun kami juga harus realistis terhadap skenario terburuk yang mungkin saja terjadi. Omset yang terjun payung akibat pola pasar yang amburadul. Maka kami harus lebih jeli melirik peluang yang lain.


Berdoa dan yakin bahwa usaha tidak akan menyalahi hasil. Apapun yang kami butuhkan pasti akan diberikan. Komentar pesimis apapun yang kami terima, tidak akan berhasil merebut rasa optimis kami jika kami tidak mengizinkannya. Karena Tuhan selalu punya banyak cara untuk membuat segalanya jadi mungkin. Kun Fayakun :)