September 27, 2017

Kadang Perbedaan Itu Perlu


Sejak pertengahan September tadi, waktu selalu menunjukkan pukul 5 sore ketika suami gue pulang ke rumah. Sementara ia sudah berangkat sejak pukul 6 pagi. Dengan wajah lelahnya, ia melepas sepatu, meletakkan ransel, lalu duduk di hadapan gue sambil mulai bercerita.






"Mengajar mahasiswa D3 itu ternyata cukup berat, karena mereka hanya fokus pada ketrampilan tertentu dan terbiasa langsung praktik lapangan dibanding duduk di kelas berjam-jam. Jadi waktu tadi aku kasih materi pengukuran teknik, eehhh ada yang tidur, ckckck....."


Gue mendengarkan ceritanya dan sedikit menimpali


"Trus... kamu bilang apa ke mereka ???"


"Yaaa aku cuma bilang. Materi ini mungkin membosankan bagi anda yang sudah familiar dengan alat-alat pengukuran. Tapi jika nanti anda salah cara mengoperasikannya, maka akan mempengaruhi nilai akhir di job manufacture. Makin jauh hasil job manufacture dari toleransi drawing, makin rendah nilai anda......"


Lalu ia langsung menutup obrolan itu dan bertanya ke gue "so how was your day ???"


Yaap... obrolan seperti ini hampir tiap hari terjadi. Meski Pak Arif bukan tipe suami sok pintar yang suka ceramah sepanjang hari tentang pekerjaannya, dan gue bukan tipe istri pasif yang hanya mendengarkan ceritanya saja, hahaaa. Jadilah kami saling bercerita tentang bagaimana kami melewati hari. We learn to be assertive with our communication


Namun ketika menghabiskan waktu luang berdua, kami justru lebih banyak ngobrolin hal-hal yang sifatnya umum. Tentang ide baru pengembangan ternak love bird nya, tentang materi blog gue, tentang kuliner baru yang ingin kami coba, tentang YouTube channel mana yang baru saja kami tonton, dan evaluasi diri.


Kami, dua orang dari masa kecil yang berbeda. Dengan latar belakang keluarga dan kebiasaan yang berbeda. Mulai dari hal sederhana ; gue boros sedangkan suami gue hemat, gue suka sarapan sedangkan suami gue tidak, gue terbiasa tidur dengan lampu menyala sedangkan suami gue harus tidur dengan kondisi kamar gelap gulita. Namun kami tidak terlalu peduli siapa benar dan siapa salah ya, because we choose to be happy with that :)


Setelah melewati banyak proses penyesuaian, makin hari gue makin yakin, bahwa pernikahan yang bahagia itu bukan dibangun oleh sepasang suami istri yang penuh kesamaan. Bahwa kecocokan itu bukan hanya tentang kesamaan hobi, kesamaan cultural background, kesamaan perspektif hidup, kesamaan cara berpikir, kesamaan habit, kesamaan karakter, kesamaan tingkat pendidikan, apalagi kesamaan pekerjaan. Namun dibangun oleh mereka yang bersedia bekerja sama di tengah perbedaan dan belajar berdamai untuk menemukan keseimbangan. Be a team player...


(Baca juga yaaa : Getting Married and Staying Happy in Long Term Relationship)


Buat gue, punya partner hidup yang berbeda hobi dan pekerjaan itu bisa bikin happy ! Ia seorang dosen yang bisa jadi pengampu dan teman untuk sharing ilmu ke gue, dan gue seorang *ehem* blogger yang (mungkin) bisa jadi inspirasi menulis jurnal buat dia. Menyenangkan, bukan ???


In marriage life, tiap pasangan punya tantangan yang mungkin serupa tapi pasti tak pernah sama. Dengan level kerumitan dan emosional yang berbeda juga. Jadi akan lebih baik jika kita terus mendisiplinkan diri dan melakukan satu hal agar diberi kekuatan untuk mampu melewatinya, berdoa.