August 22, 2017

Perempuan Harus Bisa Nyetir (?)


Entah sejak kapan modernitas menciptakan dalil bahwa semua perempuan harus bisa nyetir mobil dan menganggap itu sebagai suatu kewajiban. Konon alasannya sederhana, perempuan harus bisa jadi sosok yang mandiri. Dan bisa nyetir adalah salah satu manifestasi dari kemandirian dan emansipasi perempuan.


Dengan alasan itu juga, orang-orang di sekitar sebegitu repot nya 'menyemangati' untuk segera belajar nyetir. Lalu apakah mereka yang nggak bisa nyetir langsung di judge nggak mandiri dan kerap kali menyusahkan (?)


Punya Mobil Dulu, Belajar Nyetir Belakangan :D


Nyatanya nyetir mobil nggak sesederhana teorinya. Safety riding bukan hanya perkara paham kondisi mobil, mampu menekan gas, menginjak rem, dan mengatur kopling. Tapi paham rambu-rambu, taat aturan lalu lintas, dan sigap mengambil keputusan saat di jalan raya. Semua pengendara mobil wajib mengerti bagaimana mengatur emosi saat berkendara. Siap mental menghadapi lalu lintas yang terkadang nggak manusiawi. Karena banyak orang mendadak temperamen saat berada dibalik kemudi ^^




Sering kan melihat pengemudi mobil yang salah kaprah. Saat lampu kuning nyala, banyak pengemudi (terutama perempuan nih !) justru malah makin kenceeeeng menginjak gas. Padahal lampu kuning itu dimaksudkan untuk mengurangi laju kendaraan. Atau yang lucuk, menyalakan lampu sein kiri tapi justru belok kanan, wkwk. Nah, karena itu kita juga harus pandai nyetir mobil dengan aman supaya nggak membahayakan pengguna jalan lain.


Gue pribadi punya mobil yang terparkir manis di garasi, tapi sampai sekarang belum berniat untuk belajar nyetir hiikkss. Kecelakaan fatal yang menyebabkan gue harus mendekam di ICU selama 3 minggu, gue harus merelakan mahkota indah gue dipangkas hingga habis, wajah gue harus dijahit dan bekas jahitannya nggak bisa hilang sampai saat ini, dan seumur hidup harus memakai selang penyalur cairan dari kepala hingga perut itu cukup membekas dibenak gue. Yang menurut vonis dokter saat itu, probabilitas untuk hidup normal hanya 30%. Entah seberapa besar dampak psikologis kecelakaan itu ke diri gue. Yang pasti gue nggak ingin accident itu terulang. Gue nggak bisa berhenti syukur, Allah masih sayang sama gue, gue masih hidup dan sehat sampai detik ini. Dan sampai sekarang pun gue nggak pernah bisa memecahkan mengapa 'mukjizat' itu bisa terjadi.  


But well, nggak ada salahnya kok perempuan bisa nyetir mobil. Bagus malah. Pada moment tertentu, nyetir mobil sendiri itu berasa bebas dan menyenangkan. Penting diingat khususnya kita yang perempuan, nyetir mobil itu suatu aktifitas bukan hanya untuk gengsi-gengsian doank. Ada tanggung jawab besar atas keselamatan diri sendiri dan juga pengguna jalan lain. Belajar nyetir mobil yaaa boleh-boleh aja, tapi apa gunanya terburu-buru harus bisa nyetir kalau akhirnya malah membahayakan pengguna jalan yang lain (?) Toh kalau butuh bepergian kemana-mana sekarang sudah ada Uber, GoJek, dan kawan-kawannya :p




(Photo by Bayu / Canon EOS M5)