August 6, 2017

Pentingnya Membangun Personal Branding


Reuni lazimnya diisi dengan berbagai acara. Baik itu silaturahmi, makan bersama sampai acara sharing terbuka. Semalam gue menangkap kesan mendalam yang didapat oleh si suami, Pak Arif Purwono, melalui acara reuni bersama rekan-rekannya sesama alumni Magister Teknik Mesin UNS yang diselenggarakan pada hari sabtu kemarin.


Sesi Foto Temu Alumni Magister Teknik Mesin UNS


Profesor Suyitno, salah seorang Guru Besar Teknik Mesin UNS yang menjadi keynote speaker dalam acara sharing terbuka ini berbicara mengenai personal brand atau citra diri. Tentang pentingnya membangun personal brand pada diri kita sebagai individu. Ketika nama seorang Mark Zuckerberg disebut, pasti yang langsung tertangkap dalam ingatan kita adalah seorang pengusaha beraset triliunan sekaligus pendiri Facebook. Atau ketika disebut Steve Jobs, ahaaa ! dia lah sosok pebisnis handal sekaligus pendiri Apple Inc. Apalagi kalau disebut nama Ellany Mutiara, semua pasti tau kalau ibuk yang satu ini adalah manager pribadinya Pak Arif Hidayat Purwono, heheee canda. Nah, inilah yang kita sebut sebagai personal branding.


Apalagi di era konvergensi media saat ini begitu mudah dan cepatnya kita mengakses media sosial. Orang lain pun dengan mudah bisa memberi penilaian tentang bagaimana pribadi kita dari dokumentasi aktivitas apapun yang kita tampilkan.


Melalui media sosial ini, secara nggak langsung kita membangun sebuah personal brand, yang memperkenalkan siapa sih diri kita ; baik itu dari passion dan skill yang kita punya, dari foto atau video album kita, dari aktivitas kita bersama rekan atau keluarga, atau dari kreatifitas kita menyebar kata. Siapapun bebas membentuk impression yang ingin ditampilkan untuk mendapat apresiasi dari orang lain.  


Apalagi semakin banyak perusahaan multinasional menggunakan media sosial untuk menyeleksi para job applicants yang akan bekerja untuk perusahaan mereka. Para recruiters ini memantau aktivitas dan fitur-fitur di media sosial kita untuk mengetahui bagaimana cara kita mengendalikan media sosial dan konten-konten apa yang kita minati, yang merupakan nilai plus bagi para job applicants untuk menjadi kandidat utama mengisi posisi tertentu pada perusahaan tersebut.


Contoh ketika kita berminat untuk menjadi team dari Field Services Technician pada sebuah perusahaan perminyakan. Selain diutamakan graduate dari Jurusan Teknik Perminyakan, pekerjaan ini membutuhkan mereka yang terbiasa melakukan aktivitas-aktivitas outdoor seperti mendaki gunung, karena pekerjaan ini menuntut para pekerja-nya untuk selalu stamina secara fisik. Kalau kita mengaku suka berbaur dengan alam bebas, lalu dalam laman media sosial kita nggak ada aktivitas outdoor apapun yang serupa dan malah lebih banyak galaunya, apakah kita bisa dipercaya untuk bergabung dengan mereka ???


Setelah banyak cerita yang gue dengar dari Pak Arif, seketika itu juga gue langsung menilik kembali seluruh media sosial yang gue punya, hahaaaa. Khawatir kalau banyak dari postingan gue yang kurang senonoh. But overall it's good kata Pak Arif. Menurut dia, gue cukup berhasil menciptakan brand untuk diri gue sendiri. Salah satunya dengan membuat website pribadi ini. Dan dari aktivitas media sosial, menjadi salah satu tolak ukur mereka mengenal gue sebagai orang yang berkecimpung pada dunia jurnalistik, berprofesi sebagai blogger, dan senang menghabiskan waktu bersama keluarga. Ini kata Pak Arif loh :p


Lalu kalau ada yang bertanya, se-krusial itukah membangun personal brand ??? Bagi gue dan Pak Arif itu pilihan, tapi nggak ada salahnya melalui media sosial kita membangun opini publik yang positif mengenai diri kita. Makin baik citra diri kita terbangun, pastinya kita akan makin lebih dihormati dan disegani. Asal bukan pencitraan loooh, eheeee. Nah... sebagai individu yang peka teknologi, sebaiknya hati-hati ya terhadap konten apapun yang kita posting di media sosial. Jadikan kekuatan media sosial yang kita punya bermanfaat bagi kita pribadi dan orang banyak tentunya !