June 12, 2017

Dear Father


Hari ini 12 Juni 2017 adalah hari ulang tahun satu-satunya orang yang begitu tulus menjaga, menyayangi, mendoakan, dan memahami dunia ku sejak dulu. Entah apa yang ingin Tuhan sampaikan padaku hingga aku tumbuh dan dididik oleh seorang lelaki yang hingga detik ini selalu ada dengan telinga dan bijaksananya, saat mereka di sekitar ku tak mampu memberikan hal yang sama. 


Dibesarkan olehnya membuatku merasa punya sosok yang selalu siap mendukung, mengarahkan, dan mendampingi bahkan ketika semua orang memilih untuk pergi. Ayah yang senantiasa mengurus dan membesarkan ku juga adik-adikku dengan berjuta peluh, semua yang mengenal ku tahu itu.


Ayah Saat Menjadi Wali Nikah

Subuh tadi, otak ku meraba-raba memori puluhan tahun lalu saat usia ku belum mencapai lima. Waktu dimana ayah menghadiahkan ku sebuah sepeda. Membuka album lama dan mendapati foto ku dengan sepeda itu disana. Bukan, ini bukan hadiah ulang tahun. Karena sejak kecil memang tak pernah ada perayaan, apalagi besar-besaran. Tapi perlu kalian tau, ayah tak pernah ragu menunjukkan kasih sayangnya dengan perhatian dan perbuatan.


Masih dengan memori beberapa tahun lalu. Perhatiannya tak pernah menguap bersama waktu. Meski saat itu aku sudah dewasa dan tinggal jauh darinya, setiap pagi ayah selalu menyempatkan diri menjadi lawan bicara dalam setiap cerita yang ku punya. Meski terpisah jarak, mendengar suaranya setiap hari sudah cukup membuatku merasa tak sendiri. Perhatiannya tanpa henti, bahkan hingga kini ketika aku sudah tinggal bersama seorang lelaki yang juga ia sayangi.


Ah iya... aku jadi ingat ketika laki-laki yang kini menjadi suami ku menghadap ayah seorang diri. Dari ceritanya aku tahu, ayah menyambutnya dengan sangat ramah dan tak sekali pun mendesak agar kami segera menikah. Tak juga ayah marah ketika ia mengutarakan keinginannya menikah dengan ku padahal saat itu ia masih bersekolah. Tak sedikit pun ayah menyinggung perkara nafkah. Karena bagi ayah, tiap makhluk sudah dijamin rezekinya apalagi niat menikah untuk ibadah. Ayah justru berpesan padanya agar ia terus bersabar mendidik ku menjadi sebenar-benarnya seorang istri. Melihat kegigihannya, akhirnya ayah ikhlas dan merestui pilihan hidup yang akan kami jalani. 


Ayah sosok lelaki yang mandiri, yang bisa dan terbiasa mengurus dirinya sendiri. Bukan laki-laki yang menggantungkan hidup pada perempuan. Ayah jago masak, tak segan mencuci pakaiannya sendiri, menyetrika sendiri, mencuci piring bekas makannya sendiri, dan membersihkan seluruh rumah seorang diri. Sebagai contoh bagi anak-anaknya dan bentuk rasa tanggung jawabnya sebagai kepala rumah tangga. Imam dalam keluarga yang membimbing kami untuk beribadah dengan sebaik-baiknya. 


Ayah tak pernah mementingkan ego nya sebagai seorang laki-laki. Ia tak pernah menyimpan dendam sedikit pun pada mereka yang pernah menyakiti berkali-kali. Ia tak pernah mengeluh meskipun masalah datang bertubi-tubi. Ia tak pernah gegabah menyelesaikan masalah bahkan pada mereka yang sering kali menyakiti. Aku selalu melihat sikap tenangnya dan sabarnya ia dalam mengendalikan diri. 


Ayah... banyaknya hadiah tak akan pernah bisa mengganti ketulusan dan kasih sayang mu pada kami. Ribuan kata maaf juga tak akan pernah bisa menebus semua kesalahan kami se dari kecil hingga se dewasa ini. Kami bersyukur karena ayah lah yang menjadi orang tua kami, bukan yang lain. Sampai kapan pun sifat dan sikap ayah itu tak akan pernah tergantikan. Izinkan kami tak henti-hentinya mendoakan semoga Tuhan senantiasa memberi ayah kesehatan dan kebahagiaan. Semoga dengan semua kebaikan yang pernah ayah lakukan, kelak akan mendatangkan kemuliaan, saat hari perhitungan...



Dari Kami Yang Mencintai Ayah

Mbak Tia, Mas Ipunk, Mas Bayu, dan Adek Ikhlas