June 28, 2017

Pemilihan Material untuk Membangun Rumah Masa Pensiun


Lebaran tahun ini istimewanya berasa banget. Ini pertama kalinya kami berenam kumpul lengkap di momen hari raya. Selain kumpul bareng keluarga dan menikmati masakan rumah yang enaknya luar biasa, kenikmatan lain yang gue dapat di lebaran kali ini adalah gue berkesempatan untuk ikut berkontribusi memilih material dan aksesoris untuk pembangunan rumah masa pensiun Ayah.


Ayah Mendesain Rumahnya Sendiri

Well, banyak hal yang memang harus dipersiapkan untuk memasuki masa pensiun. Salah satunya adalah membeli rumah atau membangun rumah. Tapi meski kini makin banyak pilihan rumah yang bisa dibeli langsung dari para developer, Ayah lebih suka mendesain dan membangun rumahnya sendiri agar bebas mengaplikasikan ide-ide kreatif apapun yang dia punya.

Nah, membangun rumah itu juga butuh kesadaran ekstra tinggi, terutama sadar akan kondisi sekitar. Berhubung kita tinggal di Indonesia dengan iklim tropis, maka jarak antara lantai rumah dengan atap rumah harus dibuat tinggi agar panas matahari bisa terpantul dengan atap sehingga suhu ruangan tetap dingin dan nyaman saat cuaca panas. Semakin tinggi atap maka sirkulasi udara pun akan semakin baik. Oleh karena itu Ayah membangun rumahnya dengan menaikkan ketinggian atap hingga 8,5 meter. 


Membangun rumah juga lebih fleksibel dan mampu mewakili karakter pemiliknya. Material dan aksesoris rumah bisa dipilih sendiri sesuai dengan kebutuhan dan selera. Meski membangun rumah di jaman sekarang ini nggak bisa dibilang murah dan harga material juga terus meningkat, pemilihan material yang berkualitas tetap wajib diperhatikan.


Nah, material utama yang paling mencolok dari rumah Ayah adalah kayu jati. Selain karena unik dan bernilai estetika tinggi, kayu jati sebagai material utama rumah ternyata punya banyak kelebihan. Bahan kayu jati terbukti lebih kuat, tahan terhadap cuaca panas atau pun hujan, dan punya serat kayu yang padat sehingga nggak mudah lapuk. Berlokasi di desa, kayu jati semakin menambah kesan natural dan sederhana dari rumah Ayah, feel homie banget. Karenanya kini kayu jati menjadi favorit banyak orang sebagai material pembangunan konstruksi rumah, termasuk rumah-rumah di perkotaan. Yaaa meski pun estimasi biaya pembangunan rumah kayu jati jauh lebih besar dibandingkan rumah tembok :(


Sedangkan material kedua yang sedikit berbeda dari rumah hunian kebanyakan adalah penggunaan Granite Tile sebagai material pelapis dinding rumah. Jaman sekarang, Granite Tile nggak hanya sebatas digunakan untuk lantai, tapi juga untuk dinding rumah. Granite Tile juga punya sifat ketahanan yang baik terhadap goresan. Pilihan warnanya pun beragam dan nampak natural. Dengan menggunakan Granite Tile, Ayah sudah nggak perlu dibuat pusing dengan pemilihan cat tembok dan nggak perlu khawatir terjadi rembesan dinding saat hujan. Alhasil dinding rumah jadi lebih mudah dibersihkan. 


Lantai juga termasuk salah satu elemen rumah yang harus dipikirkan baik-baik. Material lantai yang digunakan untuk rumah Ayah adalah Granite Tile jenis double loading. Meski secara harga lebih mahal dibandingkan keramik, tapi bahan lantai jenis ini punya banyak kelebihan. Lebih tebal, lebih kuat, lebih tahan gores, yang pasti lebih tahan lama. Tampilannya juga lebih elegan. Granite Tile double loading juga mampu menahan dingin lebih lama sehingga rumah Ayah nanti nggak perlu lagi menggunakan pendingin ruangan. Rumah tetap sejuk tanpa AC. 


Nampak Depan

Pintu Utama Rumah (Sebelum di Plitur) dengan Ketinggian 4 meter




Membuat Ventilasi Udara Cukup Lebar

Umpak Berbahan Granite


Rumah ayah memang belum selesai dibangun. Tapi ini sebagian kecil dan sedikit pengalaman yang bisa gue bagi untuk teman-teman yang ingin membangun rumah ideal di masa pensiun agar nggak pusing memikirkan anggaran renovasi rumah di masa mendatang.


Jangan tergiur dengan harga murah sehingga menggunakan material yang nggak sesuai standar hanya karena alasan penghematan. Mungkin rumah masih bisa tegak berdiri, tapi belum tentu tahan lama. Pemilihan material terbaik memang akan membuat banyak pengeluaran di awal pembangunan, tapi ini cara paling ekonomis agar di kemudian hari rumah nggak memerlukan banyak perbaikan.


Bukan kah lebih enak mengeluarkan banyak uang di awal daripada di akhir ya ??? Nggak mau kan belum lama menempati rumah sudah rusak sana sini dan mengeluarkan biaya yang banyak untuk perbaikan terus menerus ???




(Photo by Bayu / Canon EOS M5)