April 20, 2017

Dear Husband


Akhirnya ku luangkan waktu sejenak untuk menengok hatinya. Seseorang yang ku tahu hangat pribadinya. Dia yang selalu tenang, keras seperti topaz. Dia yang selama ini diam karena tak ingin kecewa, kini menjadi semakin diam demi menjaga dirinya.





Awal hidup bersamanya, mataku melihat dia seperti sosok yang lupa rasanya bahagia. Hafalannya tentang kecewa mungkin sudah sampai pada tingkat yang luar biasa. Dia sudah hafal di luar kepala bagaimana banyak berharap pada manusia justru akhirnya melahirkan rasa kecewa. Dia tak pernah ingin berdebat tentang siapa yang salah dan siapa yang benar. Dia selalu tenang, selalu diam. Dia hanya terus keras berjuang demi menjadi baik ; demi aku, cita-citanya, dan juga harga dirinya.


Dia banyak bercerita tentang mimpi dan harapan yang disimpan sekian lama. Tentang siapa dan apa yang pernah membuatnya kecewa. Dengan jujur, dia ikhlaskan semuanya. Tak sekali pun dia membalas dengan perlakuan yang sama. Alih-alih mengeluh, dia lebih memilih yakin dan percaya bahwa sesuatu yang hilang akan terganti pada akhirnya. Tak perlu menyalahkan siapa-siapa katanya. Kini harapan baik dan semua yang pernah hilang darinya itu satu per satu hadir kembali dalam hidupnya.


Dia suamiku, si penyabar yang tahu, apa yang harus dilepaskan dan apa yang layak dipertahankan. Semua kekecewaan hanya butuh dilawan dengan doa dan hidup bahagia. Sampai aku pun mengerti dia pantas mendapatkan lebih dari yang dia perjuangkan. Dia tak pantas dikecewakan...........




(Photo by Canon EOS M5)