April 24, 2017

Nikah dengan Anak Pertama


Artikel gue kali ini mungkin sedikit sensitif ketika dibaca oleh beberapa orang. Tulisan yang lahir dari pengalaman pribadi gue dan suami sebagai anak pertama. Silahkan dibaca kalau penasaran atau segera tinggalkan kalau kurang berkenan...


Kapan dan dengan siapa kita berjodoh nggak pernah ada yang tau. Kita juga nggak tau jodoh seperti apa yang pantas untuk jadi pendamping hidup kita. Bisa aja jodoh kita anak Bupati, anak Kiai, orang Jawa, orang Papua, anak pertama, anak kedua, atau anak terakhir sekali pun.


Tapi sayang, ada semacam kepercayaan dari satu suku yang nggak memperbolehkan anak pertama menikah dengan anak pertama juga. Atau mungkin sebaliknya, anak terakhir menikah dengan anak terakhir.


Katanya anak pertama cenderung punya karakter keras, pasti akan banyak bentroknya kalau menikah juga dengan anak pertama. Atau anak terakhir yang cenderung kurang mandiri, pasti akan terus menerus menggantungkan hidupnya pada orang tua meskipun udah menikah. Akhirnya dibuat kesimpulan kalau anak pertama hanya cocok menikah dengan anak terakhir. Konon, bagi mereka yang melanggar adat dan kepercayaan ini maka rumah tangganya nggak akan bahagia bahkan berujung perceraian. Apa iya ??? Bukannya ini jadi seperti mendahului ketetapan Tuhan ???






Gue nggak bilang kalau adat dan kepercayaan ini salah. Tapi sejujurnya gue pribadi lebih senang menyerahkan segala urusan dan hasil akhir benar-benar hanya pada Allah SWT. Gue dan suami hanya terus berusaha menerapkan Islam sebagai pedoman sempurna dalam hidup rumah tangga kami. Bahkan Islam pun nggak pernah mempersoalkan atau mengatur dengan anak nomor berapa kita harus menikah. Meskipun nggak lepas dari kerikil kecil, kami lebih meyakini bahwa rumah tangga akan baik-baik aja selama prinsip rumah tangga Islami itu dijalani dengan kesungguhan hati.


Mau sampai kapan pun yang namanya tradisi ya tetap akan jadi tradisi. Setiap orang berhak meninggalkan atau membuatnya tetap lestari. Mungkin gue bukan orang yang mumpuni menuliskan hal-hal yang sifatnya religi. Tapi yang gue yakini Islam selalu punya solusi dalam seluruh persoalan hidup dari berbagai sisi. Tergantung juga bagaimana kita menyikapi. Bukankah hari esok dan seterusnya hanya Tuhan yang tau pasti ???



Rasul pernah bersabda : Barang siapa yang mengada-ada dalam urusan (agama) kami ini yang bukan berasal (darinya) maka dia tertolak (HR Bukhari dan Muslim)






(Photo by Canon EOS M5)