March 4, 2017

Sudah Pantaskah Diri Kita ???


Bicara tentang memantaskan diri, mari kita mulai dengan menyebut nama Dia Sang Maha Pemilik hati, Allah Subhanahu Wa Ta'alla. Maha Suci Dia yang meniupkan rasa cinta ke dalam hati tiap-tiap manusia dan seketika mampu membolak-balikkannya.


Buat gue.. hidup adalah proses membentuk diri, bukan untuk berlomba-lomba menjadi yang terbaik, tapi menjadi lebih baik. Membentuk diri melalui proses yang menurut gue nggak dengan tiba-tiba, tapi perlahan dan konstan. Syarat utamanya yaaa tentu mau berusaha. Do something !






Hal sederhana tapi nyatanya nggak semua orang mampu melakukannya, bangun lebih pagi. Sebenarnya gue bukan termasuk orang yang susah bangun subuh. Sejak kecil, ayah membiasakan gue untuk tidur sebelum jam 10 malam meskipun PR dari sekolah belum selesai dikerjakan. Pastinya gue juga akan terbangun lebih awal untuk lanjut menyelesaikan PR sambil menunggu waktu subuh. Setelah menikah perlahan berubah. Gue justru makin berusaha bangun lebih cepat dari biasanya, lalu mandi supaya membaca qur'an dan ibadah disepertiga malamnya nggak terasa berat. Trust me it's work ! efeknya hari-hari gue jalani dengan lebih segar, lebih produktif, dan lebih khusyuk saat berdoa.


Orang-orang terdekat gue bahkan paham kalau gue nggak pernah dan nggak bisa masak, nggak hobi berlama-lama memoles diri di depan cermin, apalagi terampil menjahit dan merajut seperti tangan-tangan perempuan kebanyakan. Dulu pernah khawatir, apa kabar kalau nanti udah punya suami dan anak. Tapi setelah menikah gue cukup tertantang untuk belajar ; belanja, mengolah, dan membersihkan perkakasnya sendiri. Supaya dapat memastikan kalau makanan yang gue sediakan halal dan higienis. Meski terkadang inkonsisten juga, cari alternatif tempat makan yang menjual makanan bersih dan sehat, eheee. Beruntung si suami nggak pernah mempermasalahkan itu :)


Naaahh... ini yang paling gue rasakan banget perubahannya. Dulunya gue termasuk orang yang egosentris. Nggak suka mendengar komentar orang lain yang ujung-ujungnya hanya membuat gue terintimidasi. Ketika dikritik, gue langsung meng-counter kritikan itu tanpa didengarkan hingga tuntas. Padahal gue juga nggak selalu dapat mempengaruhi pemikiran mereka tentang gue. Titik baliknya setelah gue mulai nge-blog 4 tahun lalu, gue mulai belajar menjadikan komentar dan kritikan mereka sebagai bahan evaluasi dan perbaikan kualitas output yang gue tulis. Lama kelamaan komentar dan kritikan itu jadi kebutuhan penting dalam seluruh aspek hidup gue, dan hingga detik ini gue terus berusaha berbesar hati menerima komentar orang lain secara objektif.



Bersama-sama Terus Berusaha Memantaskan Diri


Hmmm... Masih banyak hal sebenarnya yang ingin gue bagi disini. Tapi intinya satu, niat untuk terus belajar. Belajar untuk terus memantaskan diri karena Allah SWT. Bukan memantaskan diri agar menemukan jodoh yang baik, tapi agar Allah SWT makin sayang dengan kita. Mengumpulkan kita dengan orang-orang yang juga punya tujuan hidup sama dengan kita, berjalan beriringan mencapai surga-Nya.


Komentar sinis dan sikap pesimistis orang lain ??? Itu urusan mereka :)