March 9, 2017

Generasi Bekerja atau Berkarya ???


Barangkali benar, banyak orang rela melakoni suatu pekerjaan karena urusan duniawi. Yang penting bisa mapan secara materi, kebutuhan tercukupi, dan mampu penuhi gaya hidup demi gengsi. Jika itu semua sudah didapat, lalu ingin apalagi ?


Buat gue, pekerjaan yang baik itu pekerjaan yang gue lakukan dengan kesungguhan hati. Pekerjaan yang benar-benar gue pahami dan nyaman dijalani. Pekerjaan penuh tantangan tapi nggak sedikit pun gue anggap sebagai beban. Pekerjaan yang beri gue banyak kesempatan untuk mencipta karya sekaligus memberi banyak kebaikan darinya. Pekerjaan yang jauh dari rasa frustasi dan membuat gue semakin paham akan diri.





Ya. Dulu. Masa SMA memang masa-masa pencarian jati diri. Momen menemukan jati diri itu selalu gue hubungkan dengan segala hal yang gue sukai dan nyaman gue jalani. Gue terus mencari apa yang gue suka. Yaa... karena kita nggak mungkin tiba-tiba suka sesuatu. Apapun yang kita suka pasti melalui proses mencari dan menemukan, dengan berbagai pilihan dan konsekuensi nya. Begitu pun soal jodoh *eh


Waktu itu, gue tau kalau gue hanya suka nulis. Sementara, menemukan ruang untuk mengembangkan diri dengan menulis memang nggak mudah. Ekstrakurikuler Jurnalistik yang diadakan sekolah jadi pembuka jalan buat gue. Gue ikut kegiatan ini sebenarnya hanya untuk belajar menulis. Gue dan teman-teman belajar menulis, menerbitkan artikel untuk majalah dinding sekolah, dan kerap mengunjungi beberapa kantor berita surat kabar. Lalu kegiatan ini terhenti ketika gue mulai kuliah.


Selama tiga tahun pula gue berkarya di tempat keluar masuknya segala aliran arus informasi, sebuah perusahaan surat kabar. Gue berkesempatan belajar pada orang-orang yang ahli dibidangnya dan mencuri ilmu dari mereka. 


Pengalaman itu pula yang akhirnya mendorong gue untuk membuat blog pribadi. Ruang yang gue ciptakan untuk belajar menulis dan berproses dengan diri. Menulis apa-apa yang gue yakini dan gue sukai. Dalam ruang seperti ini, gue nggak punya ekspektasi apapun soal nominal. Gue hanya ingin jadi pemimpin dalam 'pekerjaan' gue, gue letakkan hati gue disana. 


Berpikir tentang masa tua nanti, gue sudah memiliki ruang yang dapat memberi gue kebebasan untuk berkarya, yang sudah gue rintis sejak usia gue masih produktif. Kelak ketika tubuh sudah mulai mengalami penurunan fungsi, gue nggak perlu kaget dan takut melewati masa-masa itu. Gue masih dapat berkarya disini.


Yaaa... bekerja dan berkarya itu sebenarnya dua hal yang berbeda. Bekerja menuntut kita tampil dalam satu warna. Sementara berkarya itu nggak hanya nampak dalam satu warna dan nggak ada masa purna. Maka gue lebih memilih untuk berjalan pada rel yang gue yakini yang membuat hidup gue terasa lebih berarti :)