December 21, 2016

Surat Untuk Mama di Hari Ibu


Mengawali pesan ini dengan menanyakan kabarmu kurasa terlampau basa basi ya, Ma. Beberapa hari lalu kita baru saja bertemu bahkan kita piknik dan belanja bersama. Tapi dihari ibu ini rasanya aku ingin melakukan sesuatu untukmu, sesuatu yang tak pernah aku lakukan sebelumnya. Tidak pernah kulakukan padamu dengan kesungguhan apalagi yang lainnya. Duduk berjam-jam menulis cerita, menulis cerita yang ingin kuhadiahkan padamu sejak lama...


Dear Mama, Assalamualaikum...

Selamat Hari Ibu...



Ma, sebenarnya banyak hal yang ingin aku sampaikan. Banyak hal yang ingin aku ceritakan. Hubungan kita yang tak pernah selekat & sehangat hubungan anak-mama lainnya membuat kita jadi jarang bertukar cerita ya Ma, meski tujuh belas tahun lebih kita selalu tinggal bersama. Terkadang aku pun iri mendengar cerita teman-teman perempuanku yang sering menghabiskan waktu olahraga berdua dengan mamanya, sedekat itu.


Hanya terkadang sikap mama membuatku geram. Rasanya susah sekali menahan mulut ini untuk tidak melontarkan amarah karena sikap dan perbuatan mama yang kurasa amat sangat menyakiti perasaan ayah, orang yang benar-benar aku sayang. Mama tau, sebenarnya aku sangat tidak mengharapkan itu terjadi. Aku sadar betul Ma, aku salah. Maaf ya, Ma...


Tapi lagi lagi, rindu dan sesal itu selalu terasa ketika membaca pesan mama tiap pagi yang selalu mengingatkanku untuk makan teratur. Sesingkat itu tapi selalu aku tunggu. Yaaa, mama tau kalau anak mama ini setinggi langit gengsinya. Jadi aku selalu menunggu mama yang mengirim pesan lebih dulu.








Aku tau, Ma. Mama tidaklah seburuk yang orang lain fikirkan. Mama bukan orang sombong seperti kebanyakan orang bilang, mereka hanya belum kenal mama, mama justru sangat royal pada mereka yang benar-benar mama kenal baik. Mama selalu bangun sebelum subuh untuk menyiapkan sarapan meski bukan mama sendiri yang memasak. Mama paling anti melihat rumah berantakan dan gesit membersihkan seluruh ruangan meski itu menyita seluruh tenaga mama. Jarang-jarang loh Ma ada ibu yang rajin sekali seperti Mama. Sekarang, setelah aku berumah tangga dan tinggal bersama orang-orang yang pola hidupnya berbeda jauh, baru aku mengerti betapa pentingnya jadi orang yang rajin. Sikap yang mama tularkan padaku. 


Mungkin kata-kata ini agak garing, aku ingin membahagiakanmu. Mama melihatku bahagia dengan pasangan hidupku. Menyelipkan nama mama selalu dalam tiap doaku selepas lima waktu. Berharap akan terus mampu memberikan yang terbaik untukmu. Kalau kiranya aku tak pernah bisa membuat mama bangga di dunia, aku harus bisa membahagiakan mama kelak di akhirat. Semoga mama selalu bahagia dan selalu dalam lindungan-Nya. Insya Allah.


Tunggu aku dan kak ipunk pulang ya, Ma...






Love you, Ma...

With Love, Tia...