December 30, 2016

Kado Akhir Tahun


Tiap orang pasti punya alasan mendasar ataupun jawaban beragam ketika ditanya apa alasan mereka melanjutkan program studi S2 maupun S3. Mulai dari jawaban yang yaaa gitu deh, sampai jawaban yang cukup mengejutkan. Termasuk si suami yang ketika ditanya mengapa, ia memberi jawaban yang sederhana tapi cukup membuat gue terkejut. Ia ingin menjadi seorang motivator, seorang leader yang bijak. Terkesan klise ya ??? Mari coba simak ceritanya :)


Di dunia akademik, ada aturan nggak tertulis yang perlu dipenuhi dan mutlak dijalani ketika ingin menjadi seorang pengajar disebuah perguruan tinggi. Menyelesaikan pendidikan S2 dan punya gelar Master, untuk bisa mengajar program D3 atau S1 (saat ini). Meskipun seiring berjalannya waktu, siap atau nggak, tuntutan untuk melanjutkan program S3 dan Postdoctoral juga harus dilaksanakan. Nggak ada donk ya, dosen yang nggak ingin punya gelar Doktor dan Profesor. Dengan gelar tersebut kemapanan finansial sudah cukup terjamin dan yang pasti meningkatkan gengsi.


Bergelut dengan dunia akademik dan menjadi seorang dosen, itulah salah satu profesi (mulia & kece) yang menurut suami gue merefleksikan hidup yang nggak statis. Ia nggak ingin terjebak dengan yang namanya rutinitas, karena ia ingin menjalani kehidupan yang dinamis. Bertemu, berinteraksi, dan berdiskusi bersama orang-orang berbeda dengan karakter yang berbeda-beda. Bekerja yang efektif dan efisien ; (misal) ngajar jam 8, berangkat dari rumah jam 7, selesai ngajar langsung pulang ngajak istrinya jalan-jalan. Bwahahaaa... kalau ini sih maunya gue doank. Dan yang paling penting, ia ingin terus mengembangkan diri serta mempunyai pengaruh penting dalam hidup orang lain.


Menguatkan motivasi dirinya pada pilihan hidup yang sedang ia jalani. Menjadi bagian dari orang-orang yang berkarya di dunia akademik dan riset, dengan mampu memberi kontribusi yang cukup signifikan di dalamnya.


Publikasi Jurnal International sebagai Salah Satu Syarat Kelulusan S2


Seminar Hasil, One Step Closer menuju Sidang Akhir

Final Destination, Sidang Akhir



Tapi alasan yang paling mendasar, bukan tentang ego dan nafsu duniawi. Ia ingin berbagi. Membangun komunikasi yang baik dengan mahasiswanya, dengan keluarganya, terutama pada anak-anaknya nanti. Ia ingin berbagi pengalaman tentang rasa senang dan bahagia, rasa tertekan dan putus asa, serta hubungan semua itu dengan kekuatan doa, daya juang yang luar biasa, sabar, dan kepasrahan. Semua proses yang ia hadapi dan jalani, up and down, untuk menjadi pribadi yang lebih baik, dengan cara yang terbaik. Ia ingin mengajarkan bahwa di dunia ini nggak ada yang mustahil dan sia-sia jika Tuhan sudah berkehendak....


Maka, tetapkan pilihan dan konsisten lah dengan pilihan itu :)








Selamat untuk Kelulusannya  Arif Hidayat Purwono, S.T., M.T